HARIAN.FAJAR.CO.ID, MADRID—Musim ini menandai kembalinya Jose Mourinho ke Real Madrid, tiga belas tahun setelah pelatih asal Portugal itu meninggalkan klub tersebut, usai menangani tim antara tahun 2010 dan 2013.
Emmanuel Adebayor, yang berada di sana pada tahun 2011 saat periode pertama ‘The Special One’ di Bernabeu, menjelaskan kepada Top Mercato mengapa pelatih asal Portugal itu adalah sosok yang tepat untuk membenahi masalah ruang ganti Real Madrid.
Kembalinya Jose Mourinho terjadi setelah musim yang penuh gejolak di Madrid serta masa jabatan singkat Xabi Alonso dan Alvaro Arbeloa; keduanya harus menanggung akibat bukan hanya karena hasil yang mengecewakan dan kegagalan meraih trofi, tetapi juga karena ketidakmampuan mereka mengendalikan ruang ganti yang dikenal sulit dikelola.
Emmanuel Adebayor, yang pernah bekerja di bawah asuhan pelatih asal Portugal itu di Real Madrid, tidak membuat prediksi mengenai hasil yang akan dicapai Mourinho.
Namun, mantan penyerang asal Togo itu yakin akan satu hal: Mourinho memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk kembali mengendalikan ruang ganti sebesar itu.
“Saya tidak tahu apakah dia akan sukses, hasil akhirnya nanti yang akan menjawabnya. Kita semua melihat ruang ganti yang kacau balau di bawah asuhan Alonso, padahal dia sebenarnya pelatih yang bagus,” katanya dikutip Sports Mole.
“Bersama Mou, situasinya tidak akan seperti itu. Dia memiliki pengalaman luas dan karakter yang kuat untuk mengelola klub sebesar ini. Dia punya cara tersendiri dalam memimpin, dan para pemain justru akan berkembang di bawah arahannya. Jose sudah seperti saudara bagi saya, dia telah banyak berjasa bagi saya,” ujar mantan penyerang Real Madrid itu kepada Top Mercato.
“Ada hal-hal tertentu yang tidak akan ditoleransi di ruang ganti Real Madrid,” tegasnya.
Sama halnya dengan insiden antara Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde, ketegangan internal kerap menjadi sorotan terkait Real Madrid dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, menurut Adebayor, Mourinho memiliki satu kualitas khusus yang dapat membantunya menangani situasi semacam ini: ia tidak ragu untuk menegaskan otoritasnya, terlepas dari status pemain yang terlibat.
“Masalah pasti ada di setiap ruang ganti. Namun, satu hal yang pasti jika bersama Mou adalah adanya hal-hal tertentu yang tidak akan ditoleransi,” jelasnya.
“Dia telah memenangkan segalanya: Liga Champions, Liga Europa, Liga Spanyol, dan sebagainya. Dengan manajer seperti itu, saat dia berbicara kepada Anda, Anda tidak punya pilihan selain mendengarkan,” tegasnya.
“Dia sosok yang inspiratif. Dia tahu cara memengaruhi pola pikir pemain. Dia tidak takut pada tekanan dari jurnalis maupun suporter. Dia bersedia memikul semua beban itu sendirian demi membebaskan para pemainnya dari tekanan eksternal tersebut,” ungkapnya.
Kemampuan untuk meredam tekanan dan melindungi timnya, sembari tetap menerapkan aturan ketat, merupakan salah satu kekuatan terbesar sang pelatih asal Portugal itu menurut Adebayor. Pria berusia 42 tahun itu masih menyimpan berbagai kenangan dari masa-masanya di Madrid.
Adebayor mengenang satu kejadian spesifik yang melibatkan Cristiano Ronaldo, sosok yang kala itu sudah menyandang status sebagai pemenang Ballon d’Or.
Dalam sebuah pertandingan, Real Madrid unggul 2-0 saat jeda babak pertama, meskipun performa mereka di babak pertama dianggap tidak dapat diterima oleh Mourinho. Reaksi sang manajer terhadap pemain bintangnya itu sangat keras.
“Kalau tidak salah ingat, saat itu kami sedang menjalani laga tandang melawan Villarreal di liga dan unggul 2-0 saat jeda babak pertama, namun permainan kami buruk,” ujarnya.
“Namun, saat jeda babak pertama, Jose memarahi Cristiano Ronaldo habis-habisan. Dia berani memaki CR7—yang saat itu sudah menjadi pemenang Ballon d’Or—dengan kata-kata yang sangat keras! Pada akhirnya, Ronaldo mencetak dua gol dan kami menang 5-0,” lanjutnya.
“Hal itu menunjukkan standar tinggi dan keberanian yang dimiliki Jose. Sangat sedikit manajer yang berani menegur keras pemain seperti Cristiano Ronaldo. Saya juga ingat pernah melihatnya membentak serta mencoret Casillas dan Sergio Ramos, yang merupakan juara Piala Dunia. Dia tidak takut pada apa pun,” kenang penyerang kelahiran Lome tersebut, yang juga mengungkapkan rasa bangganya melihat Yan Diomande mengikuti jejaknya sebagai penyerang asal Afrika berikutnya di Real Madrid.
Bagi Adebayor, anekdot yang melibatkan Ronaldo ini merangkum metode Mourinho dengan sempurna: status bintang saja tidak cukup untuk lolos dari tuntutan sang manajer.
Dengan kembalinya pelatih yang sudah sangat memahami tekanan dalam pekerjaan ini ke Real Madrid, para pemain di ruang ganti pun tahu apa yang akan mereka hadapi.
Adebayor yakin bahwa di bawah asuhan Mourinho, ada batasan-batasan tertentu yang tidak akan dilanggar. (amr)






Komentar (0)