Cuaca Panas Ekstrem Diam-diam Bisa Ganggu Siklus Menstruasi, Kok Bisa?

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Perubahan iklim bukan lagi sekadar persoalan suhu bumi yang semakin panas atau cuaca yang sulit diprediksi. Dampaknya perlahan terasa dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan manusia.

Menariknya, siklus menstruasi juga mulai dikaitkan dengan perubahan kondisi lingkungan. Suhu yang semakin tinggi, gelombang panas, stres akibat bencana, hingga perubahan pola hidup dapat memberikan tekanan pada tubuh. 

Baca Juga :
73 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan Selatan, Pemerintah Perkuat Pencegahan Karhutla
Jangan Langsung Anggap Menopause, Menstruasi Tak Teratur di Usia 40 Tahun Bisa Jadi Anovulasi, Apa Itu?

Kondisi itulah yang berpotensi ikut memengaruhi sistem hormon yang mengatur siklus menstruasi. Lantas, apa sebenarnya hubungan perubahan iklim dengan siklus menstruasi? Berikut beberapa faktor yang perlu Anda ketahui, sebagaimana dirangkum Viva dari Science Direct, Selasa, 18 Agustus 2026.

Hubungan Perubahan Iklim dan Siklus Menstruasi

1. Suhu panas bisa membuat tubuh lebih stres

Salah satu dampak perubahan iklim yang paling terasa adalah meningkatnya suhu dan frekuensi gelombang panas. Ketika tubuh terus-menerus terpapar suhu tinggi, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal.

Kondisi ini dapat menjadi stres fisiologis. Dalam situasi tertentu, stres pada tubuh dapat memengaruhi berbagai fungsi hormonal, termasuk sistem hormon yang berperan dalam mengatur reproduksi.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa penelitian mengenai hubungan langsung antara suhu ekstrem dan keterlambatan menstruasi masih terus berkembang. Jadi, bukan berarti setiap kali cuaca panas, menstruasi Anda otomatis akan terlambat.

2. Hormon dapat ikut terdampak

Siklus menstruasi sangat bergantung pada keseimbangan hormon. Otak, ovarium, dan organ reproduksi bekerja dalam sebuah sistem yang saling berhubungan untuk mengatur ovulasi dan menstruasi.

Ketika tubuh mengalami tekanan akibat kondisi lingkungan yang ekstrem, sistem tersebut berpotensi ikut terganggu. Beberapa penelitian mengenai paparan suhu tinggi juga menunjukkan adanya perubahan pada hormon reproduksi perempuan.

Selain itu, suhu tubuh perempuan memang secara alami berubah sepanjang siklus. Setelah ovulasi, suhu inti tubuh biasanya sedikit meningkat karena pengaruh hormon progesteron. Ketika fase tersebut bertepatan dengan cuaca yang sangat panas, tubuh bisa menghadapi beban panas yang lebih besar.

3. Perubahan iklim dapat meningkatkan stres

Hubungan perubahan iklim dengan menstruasi tidak selalu terjadi secara langsung. Dampaknya juga bisa melalui kondisi psikologis.

Baca Juga :
Panas Ekstrem di Italia, 3 Orang Tewas dan 27 Kota Berstatus Siaga
3 Singa Betina di Jepang Mati Diduga Akibat Cuaca Panas Ekstrem
Bappenas Pastikan Dana Pemerintah Masih Aman Hadapi Dampak El Nino, Fokus pada Penanganan Mendesak

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Video: Vina Panduwinata - Wali Band Meriahkan Peringatan HUT ke-81 RI
• 21 jam lalu
0
thumb
Bos MIND ID Beberkan Keuntungan RI Punya National Mineral Stockpile
• 35 menit lalu
0
thumb
Suporter Yunani Tak Rela PAOK Lepas Alexander Jeremejeff ke Persija, Singgung Peran Penting Sang Striker
• 22 jam lalu
0
thumb
Percepat Evakuasi Korban Gempa NTT, Polisi Kerahkan 10 Anjing Pelacak
• 16 jam lalu
0
thumb
Pasar Merdeka 2026 di Perth Hadirkan Ragam Budaya dan Kuliner Indonesia
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.