Terkini, Makassar — Malam itu, suasana Rumah Jabatan Wali Kota Makassar terasa berbeda. Bukan barisan tegap, aba-aba, atau langkah kaki yang terdengar, melainkan suasana hangat pertemuan antara 70 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Makassar bersama orang tua mereka dan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi.
Selasa (18/8/2026) malam, para pelajar yang sehari sebelumnya menjadi bagian penting dalam upacara HUT ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu hadir bukan lagi sebagai pasukan yang harus berdiri sempurna di hadapan tiang bendera. Mereka datang sebagai anak-anak yang baru saja menuntaskan sebuah tanggung jawab besar.
Jamuan makan bersama itu menjadi bentuk apresiasi Pemerintah Kota Makassar atas keberhasilan mereka menjalankan tugas pengibaran dan penurunan Sang Merah Putih. Namun, bagi Munafri, penghargaan yang paling penting bukan sekadar apa yang mereka terima malam itu, melainkan nilai yang telah mereka bawa pulang dari proses panjang menjadi Paskibraka.
“Atas nama Pemerintah Kota Makassar, saya mengucapkan selamat dan sukses serta apresiasi yang setinggi-tingginya. Saya juga menyampaikan rasa bangga kepada anak-anakku Paskibraka yang telah melaksanakan tugas dengan sangat sempurna,” ujar Appi.
Dari Banyak yang Bermimpi, Hanya 70 yang Terpilih
Menjadi Paskibraka bukan sekadar mengenakan seragam dan berdiri di tengah upacara kemerdekaan. Di balik langkah yang terlihat seragam, ada proses panjang yang menuntut fisik, mental, ketekunan, dan disiplin.
Munafri mengingatkan bahwa dari begitu banyak pelajar yang seusia mereka dan memiliki keinginan menjadi Paskibraka, hanya mereka yang terpilih untuk menjalankan tugas tersebut.
“Kalian adalah orang-orang pilihan, terpilih dari begitu banyak anak-anak yang seusia kalian yang ingin menjadi Paskibraka,” katanya.
Karena itu, keberhasilan 70 Paskibraka tersebut menurut Munafri bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi.
Di belakang mereka ada orang tua yang mendukung, pelatih yang membimbing, serta Pemerintah Kota Makassar dan masyarakat yang ikut menyaksikan hasil kerja keras mereka.
Proses latihan juga tidak ringan. Para anggota Paskibraka harus membangun kesiapan fisik sekaligus mental dalam usia yang masih sangat muda.
“Di usia yang masih sangat muda ini, dibutuhkan effort yang luar biasa. Bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan mental yang harus terpuji. Alhamdulillah, kalian semua bisa melewatinya dengan sangat baik,” tuturnya.
Ketika Barisan Menjadi Cerita tentang Makassar
Kerja keras itu kemudian terlihat dalam penampilan Paskibraka Kota Makassar pada upacara HUT ke-81 RI.
Munafri secara khusus memberikan apresiasi kepada para pelatih dan seluruh tim yang selama berbulan-bulan membentuk kemampuan dan kekompakan pasukan.
“Saya juga sangat mengapresiasi para pelatih dan tim pasukan yang tidak pernah berhenti melatih. Kita bisa bayangkan, mereka mulai melatih dari nol dengan penuh kesabaran,” ungkapnya.
Bagi Munafri, formasi yang ditampilkan tahun ini bukan sekadar gerakan yang indah dipandang. Ada cerita dan identitas yang disisipkan di dalamnya.
Pada prosesi pengibaran bendera, Tim Narya menghadirkan formasi yang terinspirasi dari Benteng Rotterdam dan menyerupai seekor penyu yang tengah merayap menuju laut.
Formasi tersebut membawa pesan tentang karakter bangsa sekaligus menggambarkan jiwa bahari masyarakat Sulawesi Selatan.
Sementara pada prosesi penurunan Sang Merah Putih, Tim Gasta menampilkan formasi yang terinspirasi dari Stupa Candi Borobudur, simbol warisan budaya Indonesia.
“Menurut saya, Paskibraka Kota Makassar adalah salah satu penampilan terbaik yang pernah saya lihat dalam kegiatan, baik penaikan bendera maupun penurunan bendera,” kata Munafri.
Di balik formasi itu, ada berbulan-bulan latihan, pengulangan gerakan, koreksi, dan tuntutan untuk tetap kompak. Nilai itulah yang kemudian ingin dibawa Munafri jauh melampaui lapangan upacara.
Bukan Sekadar Sehari Menjadi Paskibraka
Setelah tugas selesai, Munafri tidak ingin pengalaman tersebut berhenti sebagai kenangan singkat dalam perayaan kemerdekaan.
Ia meminta para Paskibraka menjadikan proses yang telah mereka jalani sebagai bekal untuk menatap masa depan.
Disiplin, fokus, kekompakan, kemampuan berinteraksi, dan membangun jaringan disebutnya sebagai pelajaran penting yang akan terus berguna ketika mereka memasuki dunia pendidikan, organisasi maupun kehidupan profesional.
“Banyak sekali pelajaran berharga yang kalian bisa dapatkan, terutama tentang kedisiplinan, kekompakan, fokus, dan yang lebih penting adalah interaksi. Membangun networking ini menjadi salah satu hal yang harus kita bangun secara bersama-sama,” imbuh Appi.
Munafri juga mengingatkan bahwa status sebagai mantan Paskibraka merupakan bagian dari perjalanan hidup yang dapat menjadi rekam jejak tersendiri.
Yang lebih penting, menurutnya, kesempatan tersebut tidak lahir karena kedekatan dengan pejabat atau keluarga tertentu. Para anggota terpilih karena memiliki kemampuan dan kepercayaan diri.
“Kalian punya talenta, punya kemampuan, punya percaya diri, dan itu kalian tunjukkan dengan sangat baik,” tegasnya.
Penghargaan Tidak Berhenti pada Tepuk Tangan
Sebagai bentuk penghargaan nyata, Pemerintah Kota Makassar memberikan uang tunai kepada seluruh anggota Paskibraka.
“Ini adalah apresiasi yang bisa kami berikan dari Pemerintah Kota,” ungkap Munafri.
Tetapi malam itu masih menyimpan satu kabar yang membuat suasana semakin meriah. Munafri kembali menawarkan kesempatan kepada para Paskibraka untuk mengikuti studi wisata ke Bali, seperti yang dilakukan pada tahun sebelumnya.
“Tahun lalu juga kami memberangkatkan untuk studi wisata ke Bali. Tahun ini masih mau ke Bali atau tidak?” tanya Munafri.
Pertanyaan itu langsung disambut antusias para Paskibraka.
Studi wisata tersebut menjadi bentuk apresiasi lanjutan. Setelah belajar tentang disiplin dan kekompakan di lapangan, mereka kembali mendapat kesempatan memperluas pengalaman melalui perjalanan dan pembelajaran di luar daerah.
Munafri dan Cerita tentang Kegagalan Menjadi Paskibraka
Menjelang akhir sambutan, Munafri membawa suasana menjadi lebih ringan. Ia bercerita bahwa dirinya pernah memiliki cita-cita menjadi anggota Paskibraka. Namun, keinginan tersebut tidak terwujud karena ia mengaku memiliki kendala saat mengikuti latihan baris-berbaris.
Dengan gaya khasnya, Munafri kemudian melontarkan candaan kepada para Paskibraka.
“Saya tidak lulus, mungkin saya tidak jadi Paskibraka. Saya jadi wali kota. Tapi mungkin seandainya saya jadi Paskibraka, mungkin lebih tinggi daripada wali kota,” ujarnya disambut tawa.
Candaan itu kemudian kembali pada pesan utama malam tersebut: kegagalan atau keberhasilan pada satu tahap bukanlah akhir perjalanan. Yang lebih penting adalah karakter yang dibentuk sepanjang proses.
Munafri meminta para Paskibraka mempertahankan disiplin, fokus, dan kekompakan yang telah mereka miliki.
“Kenapa? Karena mental dan kedisiplinan itu sudah tertanam dari awal. Ini modal yang sangat-sangat besar. Disiplin, fokus, kompak, ini modal. Kalian sudah punya modal itu, pertahankan dan tingkatkan,” pesan Appi.
Malam itu, 70 Paskibraka Makassar mungkin telah menanggalkan sepatu dan seragam latihan. Tugas mereka dalam upacara kemerdekaan pun telah selesai. Tetapi bagi Munafri, justru setelah bendera diturunkan, perjalanan mereka yang sesungguhnya baru dimulai.
Uang tunai dan rencana studi wisata ke Bali menjadi bentuk penghargaan yang terlihat. Namun, pesan tentang disiplin, mental, fokus, dan kekompakan adalah bekal yang diharapkan terus melekat ketika mereka melangkah menuju masa depan.





Komentar (0)