Aktivis Said Didu mengungkap analisisnya mengenai dinamika kekuasaan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam podcast Abraham Samad SPEAK UP, Said menilai mantan presiden Jokowi sebenarnya tidak pernah sepenuhnya bersedia melepaskan kekuasaannya, termasuk kepada Prabowo.
Menurut Said, Prabowo seolah hanya "diberi waktu" sekitar dua tahun hingga Oktober 2026. Ia menilai tanda-tanda pelemahan terhadap posisi Prabowo semakin terlihat, termasuk melalui apa yang disebutnya sebagai sabotase struktural melalui penggembosan lewat menteri-menterinya.
"Targetnya Oktober 2026, ini ronde terakhir, apakah KO atau menang angka," kata Said Didu.
Ia juga menyebut adanya apa yang disebutnya "segitiga SSB", yakni Singapore-Solo-Bandung, yang menurut dia diduga tengah mempersiapkan langkah politik tertentu.
Said menggambarkan dinamika tersebut sebagai silent and creeping coup atau "kudeta senyap" yang berlangsung dari dalam pemerintahan.
Selain itu, Said turut menyinggung kasus yang melibatkan Febri Adriansyah. Ia menilai perkara tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan dugaan korupsi, tetapi juga melihat adanya dimensi politik yang lebih luas.
Said menegaskan dirinya tidak bermaksud membela Febri. Namun, ia mempertanyakan narasi yang menurutnya berpotensi mengaitkan kasus tersebut secara langsung dengan Prabowo, Jaksa Agung, maupun tokoh lain di lingkaran Istana.
Menurut Said, perkembangan perkara tersebut perlu dilihat dalam konteks dinamika perebutan pengaruh di dalam pemerintahan.
Ia menilai eskalasi politik mulai semakin terlihat sejak Agustus 2026 dan berpotensi mencapai titik kritis pada Oktober mendatang. Said menyebut periode tersebut sebagai "ronde terakhir" yang akan menentukan arah pertarungan politik di sekitar pemerintahan Prabowo.
Said memperkirakan ketegangan internal pemerintahan akan semakin meningkat menjelang Oktober 2026. Ia melihat adanya upaya yang dinilainya dapat melemahkan posisi Prabowo dari dalam pemerintahan.
Menurut dia, dinamika tersebut tidak selalu berlangsung secara terbuka, tetapi dapat muncul melalui kebijakan, manuver politik, maupun tindakan sejumlah pihak di dalam struktur pemerintahan.
Said pun mengingatkan bahwa beberapa bulan ke depan akan menjadi ujian penting bagi stabilitas pemerintahan Prabowo.
Ia menilai kemampuan Presiden mempertahankan kendali pemerintahan akan sangat menentukan apakah tekanan politik tersebut dapat diredam atau justru berkembang menjadi krisis yang lebih besar.






Komentar (0)