PT Freeport Indonesia (PTFI) menyebut salah satu fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) mereka yakni PT Smelting di Gresik, Jawa Timur mengalami gangguan sehingga perlu perbaikan furnace (tungku). Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan smelter tersebut telah berhenti operasi sementara sejak 8 Agustus 2026.
“Berdasarkan penilaian awal, perbaikan diperkirakan selesai pada kuartal ketiga 2026,” kata Tony kepada Katadata.co.id, Minggu (16/8).
PT Smelting merupakan smelter pertama PTFI yang dibangun pada tahun 1996 bersama konsorsium Jepang dan dioperasikan oleh Mitsubishi. Smelter yang berada di Gresik, Jawa Timur ini 66% sahamnya dimiliki oleh PTFI, sementara sisanya 34% dimiliki Mitsubishi Materials Corporation.
Smelter ini dibangun sebagai wujud kepatuhan PTFI terhadap Kontrak Karya II dan merupakan fasilitas smelter tembaga pertama di Indonesia. Tony menyebut penghentian sementara ini tidak berdampak pada produksi tambang di Grasberg, Papua Tengah.
“PTFI sedang mengevaluasi dampaknya terhadap waktu realisasi proyeksi penjualan yang telah disampaikan sebelumnya. Apabila terdapat dampak, hal tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara,” ujarnya.
Sementara itu di saat yang bersamaan PTFI juga tengah menyesuaikan jadwal pengiriman dan mempercepat persiapan pengoperasian kembali smelter baru yang sepenuhnya dimiliki dan dioperasikan PTFI, yakni Smelter Manyar.
“(Smelter tersebut) ditargetkan kembali beroperasi pada akhir Agustus 2026, lebih cepat dari rencana sebelumnya pada akhir kuartal ketiga,” ucapnya.
PTFI sebelumnya mengatakan smelter Manyar di Gresik akan beroperasi penuh pada akhir tahun depan. Smelter tersebut saat ini masih berhenti operasi dipicu terputusnya suplai konsentrat dari tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Tembagapura, Papua, setelah longsor lumpur bijih basah pada 8 September 2025.
“(Masih) menunggu (pasokan) konsentratnya cukup untuk ke Smelter Manyar. September nanti mungkin konsentratnya akan mulai masuk. Kira-kira (beroperasi penuh) akhir 2027,” kata Tony saat ditemui di kompleks DPR RI, Selasa (14/7).
Dia mengatakan operasi penuh smelter ini terjadi bersamaan atau paralel ketika tambang GBC juga mencapai produksi 100% di tahun depan.
“Tambang perlu beroperasi penuh dahulu, baru smelternya bisa beroperasi penuh,” ujarnya.
Tak hanya operasional smelter, tambang yang beroperasi penuh juga turut menopang target produksi emas yang dipasok untuk BUMN PT Aneka Tambang (Antam). Dia menyebut ketika kapasitas produksi sudah penuh maka PTFI bisa mengirim 40-50 ton emas kepada Antam di akhir 2027.
Tony sebelumnya menyatakan kondisi longsor di GBC membuat tingkat produksi PTFI turun menjadi sekitar 30% atau 65 ribu-70 ribu ton per hari, jauh di bawah kapasitas normal 200 ribu ton.
Smelter Freeport Indonesia di Manyar, Gresik, itu memiliki kapasitas terpasang pemurnian hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga dan 6.000 ton lumpur anoda per tahun. Pabrik ini dapat mengolah lumpur anoda menjadi beberapa logam berharga, seperti emas, perak, platinum paladium, selenium, bismut, dan timbal.
Target operasi smelter ini sebetulnya mundur dari perkiraan awal. Pada November 2025, Tony menargetkan fasilitas ini bisa beroperasi pada kuartal II 2026. Selain smelter, Tony juga menjelaskan progres tambang GBC yang mengalami longsor tahun lalu. Pada semester I 2026, progres pemulihan tambang tersebut bisa mencapai 65%.





Komentar (0)