Sektor transportasi dan pergudangan masih bisa tumbuh 5,65% pada triwulan II-2026. Meski demikian, pelaku usaha sektor logistik masih dihadapkan sejumlah tantangan.
Ini karena mereka menghadapi perubahan permintaan, perdagangan, teknologi, dan kebijakan. Kondisi ini mendorong perusahaan mencari sumber pertumbuhan baru, salah satunya melalui diversifikasi bisnis
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29% secara tahunan. Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan memberikan kontribusi 6,16% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
CEO dan Founder Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan di tengah pertumbuhan itu, pelaku logistik menghadapi perubahan permintaan, perdagangan, teknologi, dan kebijakan.
Kondisi ini dinilai membuat perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan volume dari sektor yang selama ini menjadi pelanggan utama. Pelaku logistik perlu memilih sektor pelanggan yang memiliki prospek pertumbuhan sekaligus membutuhkan layanan logistik.
"Perusahaan tidak cukup mengejar volume, tetapi perlu memilih sektor pelanggan yang prospektif, membutuhkan layanan logistik, dan memiliki ketahanan bisnis," ujar Setijadi dalam keterangannya, Selasa (18/8).
Diversifikasi ini dapat menyasar sejumlah sektor, seperti makanan dan minuman, ritel dan perdagangan elektronik, manufaktur, agribisnis, farmasi, serta rantai dingin.
Namun, pemilihan sektor tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Perusahaan perlu mempertimbangkan ukuran dan pertumbuhan pasar, arus barang, tingkat persaingan, kebutuhan investasi, serta kesesuaian sektor tersebut dengan jaringan yang telah dimiliki.
Strategi diversifikasi juga perlu dilakukan secara bertahap. Pelaku logistik dapat memulai dari pemetaan peluang, penilaian kapabilitas, penentuan sektor prioritas, pengembangan solusi, hingga uji pasar.
Chief Sales Officer CJ Logistics Indonesia Yan Hendry Jauwena mengatakan diversifikasi juga harus didukung model bisnis yang jelas. Perusahaan perlu menentukan segmen pelanggan, proposisi nilai, cakupan layanan, sumber pendapatan, struktur biaya, hingga kemitraan yang dibutuhkan.
"Kapabilitas sumber daya manusia, proses, teknologi, aset, jaringan, tata kelola, dan standar layanan harus sesuai dengan kebutuhan sektor sasaran agar peluang tidak menimbulkan kompleksitas yang tidak terkendali," kata Yan.
Dia mengatakan, pelaku logistik dapat menguji bisnis baru melalui proyek percontohan sebelum melakukan ekspansi lebih besar. Kinerja proyek tersebut dapat diukur dari pendapatan, margin, utilisasi aset, kualitas layanan, hingga retensi pelanggan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengingatkan bahwa diversifikasi juga membawa risiko baru bagi perusahaan.
Risiko tersebut mencakup risiko pasar, kredit pelanggan, investasi, operasional, teknologi, regulasi, keselamatan, hingga reputasi. Karena itu, perusahaan perlu menyiapkan batas toleransi risiko, skenario, mitigasi, serta mekanisme pemantauan sebelum masuk ke sektor baru.
Peluang diversifikasi juga didukung oleh aktivitas perdagangan luar negeri. Data BPS mencatat ekspor Indonesia pada Januari-Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar, tumbuh 3,02% secara tahunan. Sementara impor mencapai US$111,33 miliar atau tumbuh 15,24%.
Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Mei 2026 masih mencatat surplus US$ 4,03 miliar. Kondisi ini menjadi salah satu peluang bagi industri logistik untuk memperluas layanan dan sumber pertumbuhan di tengah perubahan pasar.





Komentar (0)