IKM Fesyen dan Kriya Didorong Naik Kelas Lewat Pendampingan Bisnis

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri fesyen dan kriya menjadi salah satu sektor yang terus didorong untuk berkembang karena potensinya dinilai cukup besar. Namun, bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM), menghasilkan produk yang bagus saja belum cukup. Mereka juga perlu memahami pasar, membangun identitas merek, hingga menyusun strategi bisnis agar mampu bertahan dan berkembang.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencoba menjawab tantangan tersebut melalui program Creative Business Incubator (CBI). Program yang digagas Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan bisnis secara berkelanjutan.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan persaingan di industri fesyen dan kriya semakin ketat. Karena itu, pelaku usaha dituntut tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menentukan arah bisnis dan memiliki karakter produk yang kuat.

“Kami terus memantau dan memastikan agar para wirausaha muda dan IKM sektor fesyen dan kriya bisa lebih berani, produktif, dan naik kelas dengan memiliki strategi bisnis yang tepat, terukur, dan terus dievaluasi,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Menurut dia, potensi sektor tersebut terlihat dari pertumbuhannya yang terus meningkat. Industri fesyen dan kriya tercatat tumbuh dari 2,43 persen pada 2024 menjadi 4,93 persen pada 2025.

Kinerja ekspornya juga cukup besar. Sepanjang Januari-April 2026, ekspor industri kriya mencapai USD228 juta. Pada periode yang sama, ekspor pakaian jadi mencapai USD2,78 miliar, sedangkan ekspor industri tekstil mencapai USD1,04 miliar.

Angka tersebut menunjukkan pasar yang masih terbuka lebar. Di sisi lain, semakin besarnya pasar juga membuat persaingan antarjenama semakin sengit.

Agus menilai pelaku usaha perlu memiliki pembeda yang jelas agar produknya tidak mudah tenggelam di tengah banyaknya pilihan konsumen.

“Tantangannya adalah bagaimana desainer maupun pemilik usaha dan jenama mampu membangun identitas yang kuat, memahami konsumen, serta menciptakan nilai unik yang menjadi keunggulan kompetitif di tengah persaingan pasar,” ujarnya.

Di sinilah Kemenperin melihat pendampingan bisnis menjadi penting. Melalui CBI, pelaku IKM tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga membangun bisnis yang lebih terstruktur dan membuka akses menuju pasar yang lebih luas.

Program tersebut telah berjalan sejak 2018. Sejumlah alumninya disebut berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan omzet, bahkan naik kelas dari usaha mikro menjadi usaha kecil atau dari usaha kecil menjadi usaha menengah.

Ada pula alumni yang berhasil masuk ke rantai pasok industri yang lebih besar. Salah satunya Rappo, alumni CBI 2024 asal Makassar, yang mengembangkan limbah plastik menjadi produk kreatif dan kemudian berkolaborasi dengan Garuda Indonesia serta Borobudur Marathon.

Baca Juga: Molinas Diluncurkan, Kemenperin Dorong Indonesia Tak Cuma Jadi Pasar

Baca Juga: Kemenperin Soal Pajak Kendaraan Listrik DKI: Jangan Memberatkan Industri

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendampingan dapat membuka peluang yang lebih besar bagi IKM, baik dari sisi kapasitas usaha, pasar maupun kemitraan.

“Keberhasilan para alumni tersebut menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat membuka peluang yang jauh lebih besar bagi IKM, baik dalam peningkatan kapasitas usaha, pengembangan pasar maupun membangun kemitraan dengan industri yang lebih besar,” kata Reni.

Dari Kelas Bisnis hingga Akses Investor

CBI 2026 dirancang dengan proses yang cukup panjang. Sebanyak 20 peserta terpilih akan terlebih dahulu mengikuti kelas daring selama 14 hari. Setelah melalui proses kurasi, delapan peserta akan melanjutkan program melalui kelas tatap muka di Bali.

Materi yang diberikan tidak hanya berkutat pada produk. Peserta juga akan belajar mengenai manajemen strategi, operasional, hukum bisnis hingga keuangan.

Pada tahap tatap muka, peserta mendapat pendampingan langsung dari mentor. Perkembangan bisnis, capaian kontrak, hingga berbagai kendala yang dihadapi akan dievaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

“Mentor akan mengevaluasi capaian kontrak, kendala peserta, hingga bersama-sama menyusun langkah tindak lanjut untuk mencapai tujuan bisnis utama pada akhir tahun pelatihan,” ujar Reni.

Pendampingan juga tidak berhenti setelah program selesai. Lulusan CBI akan menjadi mitra binaan Kemenperin dan memiliki kesempatan memperluas jaringan melalui berbagai kegiatan serta pameran di tingkat nasional maupun internasional.

Mereka juga dapat mengikuti business pitching dengan mitra ritel CBI, pemodal atau angel investor, serta pihak yang menyediakan akses pendanaan. Skema ini diharapkan bisa mempertemukan pelaku IKM dengan pasar sekaligus membuka peluang pembiayaan dan kerja sama bisnis.

Selain CBI, BPIFK rutin menggelar Creative Talk untuk memperkenalkan berbagai strategi pengembangan usaha kepada pelaku fesyen dan kriya. Kegiatan ini digelar secara daring maupun tatap muka dan menyasar pelaku usaha dari berbagai skala.

Salah satu pembahasannya adalah bagaimana sebuah jenama menemukan nilai unik yang membuat produknya lebih mudah dilirik pasar. Topik tersebut dibahas dalam Creative Talk bertajuk “Membangun Brand dan Menentukan Nilai Unik agar Bisnis Dilirik Pasar” pada 30 Juli 2026.

Dalam kegiatan itu, pendiri jenama TriCycle sekaligus alumni CBI 2018, Annisa Fauziah, membagikan pengalamannya membangun bisnis kepada para wirausaha muda.

Menurut Annisa, memahami konsumen merupakan salah satu fondasi penting dalam mengembangkan usaha. Pelaku bisnis perlu mengetahui kebutuhan dan persoalan yang dihadapi pelanggan sebelum menentukan produk atau layanan yang ditawarkan.

Peserta kemudian diperkenalkan dengan Value Proposition Canvas, alat yang dapat digunakan untuk memetakan kebutuhan pelanggan sekaligus merumuskan nilai yang ingin ditawarkan sebuah bisnis.

Dalam sesi workshop, peserta bahkan diminta langsung memetakan bisnis masing-masing. Mereka mengidentifikasi target pelanggan, kebutuhan dan persoalan konsumen, kemudian menyusun solusi serta nilai tambah yang dapat diberikan produknya.

Hasilnya kemudian dipresentasikan untuk mendapatkan masukan langsung dari narasumber.

Kepala BPIFK, Dickie Sulistya, mengatakan kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting bagi pelaku usaha fesyen dan kriya karena selera konsumen dan kondisi pasar terus berubah.

“BPIFK rutin menggelar Creative Talk, baik melalui daring maupun tatap muka. Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi pelaku IKM yang sudah berkembang, tetapi juga menyasar pelaku usaha fesyen dan kriya yang ingin naik kelas serta berkomitmen mengikuti tahapan membangun bisnis yang berkelanjutan,” ujar Dickie.

Program CBI 2026 sendiri dibuka pada Juli 2026 dengan periode pendaftaran 20 Juli hingga 17 Agustus 2026. Kemenperin berharap semakin banyak pelaku usaha kreatif yang tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga membangun bisnis yang kuat, memperluas pasar, dan terhubung dengan industri yang lebih besar.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Karnaval HUT ke-81 RI di Monas Dimeriahkan Bagi-bagi Hadiah
• 18 jam lalu
0
thumb
Buka RTH Pasanggrahan Pancarasa, Dedi Mulyadi Sentil Disiplin Warga dan Mental Pejabat
• 17 jam lalu
0
thumb
Mas Dar Sampai Mengancam Pecat PPPK yang Bekerja Ala Kadarnya
• 12 jam lalu
0
thumb
Potret Presiden dan Pejabat Hadiri Upacara Proklamasi HUT ke-81 RI
• 20 jam lalu
0
thumb
Mengenal Navarone Foor, Gelandang Serang PSM Makassar yang Masih Memendam Hasrat Berseragam Timnas Indonesia
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.