Buka RTH Pasanggrahan Pancarasa, Dedi Mulyadi Sentil Disiplin Warga dan Mental Pejabat

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyelipkan pesan filosofis mendalam di balik penamaan RTH baru yang menyatukan halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.

Ruang publik yang dinamai 'Pasanggrahan Pancarasa' ini merujuk pada pentingnya memfungsikan lima indra manusia secara bijak dan ikhlas.

BACA JUGA: Penampakan Gedung Sate yang Baru Direvitalisasi dengan Biaya Rp 15 M

Dedi memerinci bahwa nama Pancarasa memiliki makna filosofis lima indra manusia yang harus difungsikan secara ikhlas, yakni mata melihat, telinga mendengar, hidung menghirup, lidah berucap, dan hati yang ikhlas.

"Pasanggrahan itu tempat berkumpul. Pancarasa artinya kita punya lima rasa: punya mata harus melihat, punya telinga mendengar, hidung menghisap, lidah berucap, dan punya hati harus ikhlas. Ini resmi dibuka untuk masyarakat per hari ini," ujar Dedi Mulyadi di Gedung Sate Bandung, Senin.

BACA JUGA: Pertama Kali Upacara 17 Agustus di Gedung Sate, Dimeriahkan Defile Pasukan Elite

Kendati fasilitas publik tersebut dibuka bebas untuk warga, KDM menegaskan bahwa pembenahan daerah tidak hanya bergantung pada mentalitas pejabat birokrasi, tetapi juga memerlukan kesadaran disiplin dari masyarakat itu sendiri.

Karenanya, dia juga menyerukan pembenahan mentalitas masyarakat dalam menjaga lingkungan, di manapun di seluruh Jabar.

BACA JUGA: Dedi Mulyadi Ungkap Alasan Pindahkan Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Sate

Dedi membeberkan temuan mencengangkan timnya yang baru saja mengeruk endapan tumpukan sampah berusia puluhan tahun yang menyumbat saluran air di pusat Kota Bandung.

"Yang harus diperbaiki itu bukan hanya mentalitas pejabat, rakyat juga harus diperbaiki. Di Bandung ini ada satu saluran air di depan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang sampahnya 32 tahun baru diangkat. Bertumpuk karena saluran airnya digunakan pedagang dan sampahnya tidak diperhatikan. Ini problem yang harus kita merdekakan," tutur Dedi menambahkan.

Diketahui, penataan Gedung Sate Bandung dilaksanakan mulai pertengahan April 2026 dan selesai di pertengahan Agustus 2026 ini, dengan membuat halaman Gedung Sate bersatu dengan Lapangan Gasibu di depannya.

Proyek yang menelan biaya hingga Rp15 miliar ini, membuat Jalan Diponegoro menjadi satu dengan Gedung Sate dan Gasibu, sementara Pemprov juga membuat jalan baru yang mengelilingi Lapangan Gasibu dan tak sedikit pohon yang terdampak karenanya.

Sementara itu di area halaman Gedung Sate, proyek revitalisasi itu berdampak pada Prasasti Sapta Taruna yang menjadi simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum (PU) digeser dari posisi awalnya tepat di tengah halaman depan Gedung Sate, ke bagian belakang Gedung Sate dekat parkiran di sekitar pintu masuk Museum Gedung Sate.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Upacara Penurunan Bendera HUT Ke-81 RI Selesai, Sang Saka Merah Putih Dikirab ke Monas
• 7 jam lalu
0
thumb
HUT RI, PLBN Entikong Perkuat Peran Perbatasan sebagai Etalase Indonesia
• 3 jam lalu
0
thumb
ATR/BPN Pastikan Lahan Huntap Korban Gempa NTT Tersedia, Pembangunan Menunggu Tanggap Darurat Berakhir
• 3 jam lalu
0
thumb
1.500 Drone Akan Hiasi Langit Bundaran HI Malam Ini, Bawa Pesan Pray for NTT
• 10 jam lalu
0
thumb
Sejumlah Menteri dan Wamen Ikuti Upacara HUT Kemerdekaan RI di NTT
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.