LABUAN BAJO, KOMPAS — Sesudah gempa dengan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026) lalu, sejumlah gempa susulan masih terus terjadi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kendati demikian, sejumlah wisatawan, termasuk dari luar negeri, tetap berdatangan ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, yang merupakan salah satu destivasi wisata favorit di Indonesia.
Dominika, wisatawan asal Polandia, melakukan perjalanan ke Labuan Bajo dengan pesawat terbang melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Senin (17/8/2026) siang.
Sebelumnya, Dominika dan seorang temannya tiba di Indonesia pekan lalu. Mereka telah berwisata selama tiga malam di Bali dan tiga malam di Lombok.
Menurut rencana, Dominika hendak berwisata di Labuan Bajo selama dua malam. Pada Selasa (18/8/2026) pagi, ia bakal pergi ke Pulau Komodo dan pada Rabu (19/8/2026) pagi dia akan terbang ke Jakarta, kemudian ke Bangkok, Thailand.
Sebenarnya, Dominika tahu bahwa gempa bumi baru saja terjadi di sejumlah wilayah di NTT, termasuk Labuan Bajo. Meski khawatir dengan kondisi itu, Dominika yang baru pertama kali ke Indonesia itu mengaku tetap antusias untuk berwisata di wilayah tersebut.
“Saya terus memantau informasi terkait situasi terkini di sana. Semoga saja, situasinya segera membaik sehingga para wisatawan bisa berwisata dengan tenang,” kata Dominika saat ditemui di Lombok Tengah.
Dominika menyebut, dirinya akan menginap di salah satu hotel yang terletak di tepi pantai di Labuan Bajo. Ia mengaku tak tahu bagaimana kondisi hotel yang akan menjadi tempatnya menginap tersebut. Namun, hingga Senin siang, dirinya mengaku belum mendapatkan informasi mengenai pembatalan pemesanan dari pihak hotel.
“Sejauh ini belum ada informasi apapun dari pihak hotel sehingga saya berasumsi bahwa di hotel tempat saya menginap tidak terdampak kerusakan,” ucap Dominika.
Andrea, wisatawan asal Italia, juga mengaku telah memantau perkembangan terkait gempa bumi yang melanda NTT. Menurut informasi yang didapatkan Andrea, gempa bumi susulan masih terus terjadi, termasuk di Labuan Bajo. Kendati demikian, hal itu tak lantas membuat Andrea dan empat temannya membatalkan perjalanan mereka ke Labuan Bajo.
“Sejujurnya kami juga takut, tapi kami berusaha berpikiran positif. Sayang kalau mau dibatalkan karena (perjalanan ke Labuan Bajo) itu merupakan pengalaman pertama kami. Kami tidak ingin melewatkan Labuan Bajo,” ujar Andrea.
Sesampainya di Labuan Bajo, Andrea yang terbang dari Lombok Tengah itu merasa lebih tenang. Sebab, banyak wisatawan yang juga berdatangan di bandara itu.
“Informasi dari pihak hotel, di tempat mereka penuh. Saya rasa itu pertanda baik, ya,” katanya.
Berdasarkan pantauan Kompas, suasana di terminal kedatangan Bandara Komodo di Labuan Bajo cukup padat pada Senin sore. Sejumlah wisatawan asing juga tampak di antara para penumpang yang tiba, baik dari Lombok, Bali, Jakarta, Surabaya, dan Makassar.
Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Komodo mencatat, penumpang yang tiba maupun berangkat dari Bandar Komodo relatif normal. Jumlahnya disebut tidak berkurang signifikan meski ada penerbangan dari dan menuju dua wilayah di NTT yang dibatalkan, yakni Ende dan Bajawa.
Pada Jumat (14/8/2026), jumlah penumpang yang berangkat maupun tiba di Bandara Komodo sekitar 5.000 penumpang. Kemudian, pada Sabtu (15/8/2026), hari saat gempa pertama kali terjadi, jumlahnya berkurang menjadi sekitar 4.000 penumpang. Namun, jumlah tersebut terus bertambah pada Minggu (16/8/2026) menjadi sekitar 4.500 penumpang.
“Data untuk hari ini masih dalam proses penghitungan. Kendati demikian, kami perkirakan angkanya hampir sama dengan kemarin, sekitar 4.500 penumpang,” ucap Kepala Kantor UPBU Komodo, Ceppy Triono.
Ceppy menyebut, gempa yang terjadi pada Sabtu menimbulkan kerusakan ringan di Bandara Komodo. Kerusakan itu meliputi retakan di taxiway dan pecahan ringan di lantai. Saat kejadian, dia menuturkan, ada plafon dan lampu di sekitar terminal yang jatuh.
Pada Senin, situasi di Bandara Komodo disebut Ceppy sudah relatif aman. Aktivitas naik dan turun penumpang juga sudah normal.
Sementara itu, sejumlah hotel di Manggarai Barat juga terdampak gempa. Di kawasan Macan Tanggar, Kecamatan Komodo, misalnya, hotel The Jayakarta Suites ditutup. Menurut keterangan petugas keamanan, penutupan hotel dilakukan sejak Sabtu, setelah gempa terjadi.
Akibat gempa itu, hotel tersebut mengalami kerusakan cukup parah di area lobi. Saat gempa terjadi, tamu yang menginap di hotel tersebut panik hingga keluar kamar masing-masing untuk menyelamatkan diri.
“Setelah tamu berada di luar ruangan, petugas masuk ke kamar-kamar mereka untuk membantu membereskan barang bawaan. Kemudian, mereka dievakuasi petugas menuju ke tempat yang lebih tinggi karena sempat ada peringatan tsunami,” ujar petugas keamanan tersebut.
Pemesanan kamar yang dilakukan untuk hari Minggu (16/8) dan setelahnya pun dibatalkan oleh pihak hotel. Hal itu dilakukan karena pertimbangan keamanan.
Hingga Senin, masih ada sejumlah tamu yang datang ke hotel itu untuk menginap. Oleh karena itu, pihak hotel berinisiatif memasang papan informasi bahwa hotel itu tutup.
Kerusakan juga disebut terjadi di hotel Crowne Plaza. Namun, kerusakan di hotel itu dinilai ringan, hanya sedikit retakan di tembok.
Pada Senin malam, situasi di hotel tersebut cukup padat. Sejumlah tamu terlihat sedang mengantre untuk check in. Tak hanya tamu dalam negeri, tamu-tamu dari mancanegara juga terpantau di sekitar lobby hotel tersebut.
“Sejak gempa hingga hari ini, kamar-kamar di sini masih relatif penuh. Pada Sabtu memang ada sedikit penurunan jumlah tamu, tapi setelahnya sudah kembali normal, bahkan hari ini hampir penuh,” kata petugas di hotel yang memiliki sekitar 200 kamar tersebut.






Komentar (0)