BELAKANGAN ini muncul fenomena menarik: FOMO cek desil.
Di media sosial, masyarakat ramai mencari tahu, membandingkan, bahkan mencemaskan posisi desilnya, apakah posisi tersebut berkaitan dengan peluang menerima bantuan, atau bagaimana jika data sosial ekonominya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Fenomena ini patut diapresiasi. Untuk pertama kalinya, istilah yang biasanya hanya beredar di ruang statistik dan birokrasi menjadi percakapan masyarakat luas.
Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyadari, data sosial ekonomi bukan sekadar angka di dalam sistem pemerintah, tetapi sesuatu yang menjadi salah satu dasar dalam penargetan berbagai program pemerintah.
Desil Itu SederhanaDTSEN merupakan basis data tunggal individu dan/atau keluarga yang mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan peringkat kesejahteraan.
DTSEN dibentuk dari penggabungan Regsosek, DTKS, dan P3KE serta dipadankan dengan data kependudukan.
Pemutakhiran dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan berbagai sumber data, baik dari pemerintah pusat dan daerah maupun data administratif dan pelayanan.
Hasil pemeringkatan diperbarui secara berkala sebagai bentuk implementasi Inpres No. 4/2025 dan Peraturan Badan Pusat Statistik No. 6/2025.
Desil adalah hasil pengelompokan penduduk atau keluarga berdasarkan peringkat kesejahteraan. Ide ini bukan sesuatu yang rumit.
Peringkat kesejahteraan disusun berdasarkan estimasi tingkat kesejahteraan menggunakan metode Proxy Means Test (PMT), kemudian populasi yang telah diurutkan tersebut dibagi ke dalam sepuluh kelompok.
Bayangkan seluruh keluarga diurutkan dari yang paling rendah hingga paling tinggi berdasarkan estimasi pengeluarannya.
Kemudian barisan panjang itu dipotong menjadi sepuluh bagian. Desil 1 adalah kelompok 10 persen dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 adalah kelompok 10 persen dengan posisi relatif paling tinggi. Itulah desil.
Karena yang diukur adalah posisi relatif, dua keluarga yang sama-sama berada di desil 10 bisa memiliki kondisi ekonomi yang sangat berbeda.
Yang satu mungkin berpengeluaran Rp 15 juta, sementara yang lain Rp 1 miliar.
Baca juga: Saatnya Berempati, Bukan Berjoget
Keduanya sama-sama berada di 10 persen teratas, tetapi tentu tidak berarti tingkat kesejahteraannya sama.






Komentar (0)