Dedi Mulyadi Ditantang Umumkan Sayembara Tangkap Koruptor saat Peringatan HUT ke-81 RI, Pengamat: Saya Tantang!

grid.id
5 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ditantang umumkan sayembara tangkap koruptor saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Tantangan itu datang dari seorang Pengamat politik asal Cirebon, Heru Subagia.

Seperti diketahui, masyarakat Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus. Tahun ini, Indonesia alan memperingati hari ulang tahun yang ke-81 tahun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan HUT ke-81 RI digelar meriah dengan berbagai acara lomba hingga upacara. Hal itu pula yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Dedi kabarnya akan memimpin upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Jawa Barat di halaman depan Gedung Sate, Kota Bandung. Namun siapa sangka, Jelang HUT ke-81 RI itu, Dedi Mulyadi justru mendapat tantangan dari seorang pengamat politik bernama Heru Subagia.

Dedi Mulyadi ditantang umumkan sayembara tangkap korupsi saat peringatan Hari Kemerdekaan. Heru mendesak agar Dedi berani bertindak dalam upaya membersihkan praktik korupsi, khususnya yang melibatkan para pelaku kelas kakap di kawasan Jawa Barat.

Tantangan itu juga muncul setelah Dedi menggelar sayembara tangkap begal di Jawa Barat. Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut berpandangan bahwa ide sayembara tersebut mestinya diperluas agar tidak melulu menyasar tindak pidana skala kecil.

"Ini berkaitan dengan 17 Agustus 2026 yang ke-81. Kembali lagi saya menantang Dedi Mulyadi untuk menangkap koruptor kelas kakap, sayembara menangkap koruptor kelas kakap," tegas Heru saat mengonfirmasi kepada awak media, Sabtu (15/8/2026) pagi dilansir TribunJabar.ID.

Heru mengusulkan jika kepala daerah tidak boleh dijadikan dalih untuk menghindari pembicaraan mengenai pemberantasan korupsi yang jauh lebih fundamental, maka Dedi Mulyadi bisa memakai posisinya secara personal jika terhalang aturan birokrasi.

"Jika jabatannya dijadikan halangan dan rintangan dan dianggapnya tidak mempunyai korelasi kewenangannya berbicara koruptor. Silakan Dedi Mulyadi memakai hak politik pribadinsya sebagai calon presiden dan bukan lagi disebut sebagai raja kecil," ucap Heru.

"Manakala jabatan dan tempelan Gubernur Jawa Barat menjadi sebuah kendala atau isolator yang menjebak secara teknis, saya tantang Dedi Mulyadi secara pribadi berbicara konteks isu dan perjuangannya melawan koruptor kelas kakap," lanjutnya.

 

Heru juga mempertanyakan komitmen pemimpin daerah dalam menindak penyelewengan anggaran yang berdampak masif pada masyarakat luas, terutama jika kasus tersebut mengendap di wilayah hukum Tanah Pasundan.

"Pertanyaannya, apalagi mau bertindak, mau bercakap dan bekerja melawan koruptor, terutama koruptor kelas kakap yang tentunya pasti ada di Jawa Barat dalam konteks korupsi-korupsi yang menempel atau terjadi di wilayah Jawa Barat dan melibatkan para koruptor kelas kakap?" ujar dia.

Heru menilai momentum HUT ke-81 RI, bisa menjadi kesempatan emas bagi Dedi untuk menentukan sikap politiknya.

"Dan karenanya, 17 Agustus momentum buat Dedi Mulyadi menyatakan perang terhadap koruptor," tuturnya.

"Sekali lagi, 17 Agustus hadiah untuk warga Jabar secara khusus dan masyarakat Indonesia, ada seorang calon presiden dari Jawa Barat yang berani berbicara lantang tentang pemberantasan koruptor kelas kakap," sebut Heru.

Lebih lanjut, Heru juga menanggapi soal tantangannya pada Dedi yang viral di media sosial. Heru menyebut masukannya terkait agenda antikorupsi semestinya tidak dipandang dari sudut pandang sentimen politik elektoral belaka.

"Mendadak viral lagi dan sangat ramai dibicarakan berkaitan tantangan saya terhadap Dedi Mulyadi yang saat ini sebagai Gubernur telah gagal untuk melakukan sayembara tangkap koruptor kelas kakap di Jawa Barat secara khusus," terangnya.

"Yang menarik dari percakapan media sosial yang saya amati, ternyata sungguh miris dan sangat tragis ketika para pendukung militan dan/atau juga tim content creator-nya melihat apa yang saya minta, sayembara tangkap koruptor kelas kakap ini dipahami sebagai serangan secara pribadi, serangan elektoral terhadap KDM (sapaan akrab Dedi) itu sendiri," cetusnya.

Seperti diketahui, sebelum Dedi Mulyadi ditantang umumkan sayembara tangkap korupsi, sang gubernur memang sempat menggelar sayembara tangkap begal di Jawa Barat. Melansir dari akun Instagram @dedimulyadi71, Dedi sempat menjanjikan hadiah Rp5 juta ke atas bagi warga yang bisa menangkap begal dan menyerahkan pada polisi.

"Saya memberikan sayembara pada seluruh warga Jabar. Yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, rampok kami siapkan hadiah dari Rp 5 sampai Rp 50 juta yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup," ujar Dedi.(*)

 

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Presiden Minta Kampus Dilibatkan Sejak Awal Pembangunan Giant Sea Wall
• 20 jam lalu
0
thumb
Yang Terjadi Usai Heboh Laporan Tentara Tewas di USS Abraham Lincoln
• 14 jam lalu
0
thumb
Siapkan Tisu, Ini 6 Film Korea yang Bikin Kamu Banjir Air Mata
• 23 jam lalu
0
thumb
Menko Pangan Zulkifli Hasan Minta Maaf soal MBG: Hampir 1 Tahun Lebih Gunjang-Ganjing
• 17 jam lalu
0
thumb
Drama Belum Usai! Mees Hilgers Kembali ke FC Twente, Tapi Malah Terasing dari Tim Utama
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.