REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi mengungkap banyak perokok ternyata masih belum menyadari bahwa merokok dan paparan asap rokok orang lain dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Padahal, informasi mengenai risiko kesehatan akibat tembakau telah disampaikan selama puluhan tahun.
Penelitian ini menganalisis data lebih dari 240 ribu perokok dewasa di 46 negara. Hasil penelitian itu dilaporkan dalam jurnal BMJ Open.
Baca Juga
Purbaya Sudah Ajukan Rencana Penambahan Cukai Rokok
Lagi Razia Satpol PP Ini Diduga Curi Rokok Pedagang
Satgas Cukai Lombok Timur Edukasi Warga Cegah Peredaran Rokok Ilegal
Peneliti menemukan bahwa lebih dari 90 persen perokok sudah mengetahui bahwa merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru. Namun, pengetahuan mengenai dampak merokok terhadap penyakit mematikan lainnya masih lebih rendah.
Hanya sekitar 80 persen responden yang mengetahui merokok berkontribusi terhadap penyakit jantung dan serangan jantung. Sementara itu, hanya sekitar 70 persen yang menyadari bahwa merokok dapat menyebabkan stroke.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Yang lebih mengkhawatirkan, selama hampir dua dekade tidak terlihat banyak kemajuan dalam pengetahuan masyarakat mengenai berbagai risiko kesehatan akibat merokok. "Kesenjangan pengetahuan mengenai dampak utama merokok terhadap kesehatan serta bahaya asap rokok orang lain sangat memprihatinkan," kata Janet Chung-Hall, peneliti utama studi sekaligus ilmuwan untuk International Tobacco Control Policy Evaluation Project di University of Waterloo, Kanada.
Menurut Chung-Hall, rendahnya kesadaran mengenai dampak merokok terhadap sistem kardiovaskular sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, merokok disebut menyebabkan lebih dari 2 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular di seluruh dunia setiap tahun.
"Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai risiko-risiko ini seharusnya menjadi prioritas yang lebih besar dalam kesehatan masyarakat," kata dia dilansir laman US News, Senin (17/8/2026)
Studi tersebut juga menemukan masalah serupa dalam hal pengetahuan mengenai bahaya asap rokok orang lain atau perokok pasif. Bahkan, di sebagian besar negara berpenghasilan tinggi yang ditliti, pengetahuan mengenai risiko kesehatan akibat asap rokok orang lain justru mengalami penurunan. Negara-negara tersebut antara lain Kanada, Amerika Serikat, Selandia Baru, Inggris, dan Jepang.
Meski sekitar 90 persen responden mengetahui bahwa merokok menyebabkan kanker paru-paru, hanya 77 persen yang mengetahui bahwa paparan asap rokok orang lain juga dapat menyebabkan kanker paru-paru.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai bahaya merokok tidak selalu mencakup risiko terhadap orang-orang yang berada di sekitar perokok.
Geoffrey Fong, pakar psikologi dan ilmu kesehatan masyarakat di University of Waterloo sekaligus salah satu peneliti, mengatakan bahwa pengetahuan merupakan langkah awal yang penting untuk mendorong seseorang berhenti merokok sekaligus melindungi orang lain dari paparan asap rokok. "Pengetahuan merupakan langkah awal yang penting untuk berhenti merokok dan melindungi orang lain dari paparan asap rokok," kata Fong.
Menurut dia, hasil penelitian tersebut menunjukkan perlunya pemerintah menjalankan edukasi publik yang lebih kuat dan berkelanjutan mengenai berbagai bahaya merokok dan asap rokok orang lain. Utamanya risiko terhadap jantung dan pembuluh darah serta risiko kanker.
"Kebijakan komunikasi kesehatan yang lebih efektif, seperti peringatan bergambar pada produk tembakau, kampanye media yang dilakukan secara berkelanjutan, dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat," kata Fong.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mendorong orang yang sudah merokok untuk berhenti, tetapi juga membuat kaum muda lebih memahami bahayanya sehingga dapat mencegah mereka mulai merokok.
Studi sebelumnya mengenai peringatan pada kemasan rokok juga menunjukkan bahwa peringatan yang lebih besar, bergambar, dan memiliki informasi yang lebih lengkap lebih efektif dalam menyampaikan risiko kesehatan akibat merokok.
Komentar (0)