VIVA – Budidaya ulat hongkong bisa menjadi salah satu ide bisnis rumahan bagi Anda yang ingin mencoba usaha dari sektor peternakan tanpa membutuhkan lahan luas. Ulat hongkong atau Tenebrio molitor dikenal sebagai salah satu pakan yang banyak digunakan untuk burung, ikan dan reptil.
Berbeda dengan ternak berukuran besar, pemeliharaan ulat hongkong dapat dilakukan menggunakan kotak atau nampan yang disusun pada rak.
Namun, usaha ini tetap membutuhkan ketelitian karena peternak harus memperhatikan kebersihan, pakan, suhu serta siklus hidup ulat agar produksi dapat berlangsung terus. Berikut ulasan lengkapnya, sebagaimana dihimpun Viva pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
1. Siapkan tempat budidaya
Anda tidak membutuhkan kandang besar untuk memulai. Kotak plastik, nampan atau kotak kayu dapat digunakan sebagai wadah. Jika ingin menghemat tempat, wadah dapat disusun bertingkat menggunakan rak. Pilih ruangan yang teduh, memiliki sirkulasi udara baik dan tidak terkena sinar matahari langsung. Lingkungan yang terlalu panas atau terlalu lembap dapat mengganggu perkembangan ulat.
2. Siapkan bibit dan media
Bibit dapat berupa ulat hongkong yang nantinya dikembangkan hingga menjadi pupa dan kumbang. Kumbang kemudian digunakan sebagai indukan untuk menghasilkan telur. Media pemeliharaan sekaligus pakan kering dapat menggunakan dedak atau pollard. Sebagian peternak juga menggunakan kombinasi bahan pakan lain sesuai kebutuhan.
3. Pahami empat fase hidupnya
Salah satu hal penting dalam bisnis ulat hongkong adalah memahami siklus hidupnya. Serangga ini melewati fase telur, larva, pupa dan kumbang dewasa. Larva merupakan bagian yang umumnya dijual sebagai pakan. Sementara itu, sebagian larva perlu dipertahankan agar berkembang menjadi pupa dan kumbang sehingga dapat menghasilkan generasi baru. Dengan mempertahankan indukan, Anda dapat membangun siklus produksi sendiri dan tidak harus terus membeli bibit baru.
4. Berikan pakan dan sumber air
Pakan kering seperti dedak dapat menjadi salah satu bahan utama. Untuk memenuhi kebutuhan air, bahan seperti wortel, kentang atau sayuran dengan kadar air cukup dapat diberikan dalam jumlah terkontrol. Pemberian bahan yang terlalu basah sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan kelembapan dan memicu masalah kebersihan.






Komentar (0)