Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi, disebut berada di segmen Back-Arc Thrust.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa mengatakan, potensi tersebut telah tercantum dalam Peta Gempa Indonesia 2024 dan dipetakan memiliki potensi gempa maksimum mencapai magnitudo 7,8.
Advertisement
"Di Peta Gempa 2024 juga sudah kami tulis potensi maksimum yang mungkin terjadi dari Back-Arc Thrust ini mencapai magnitudo 7,8," ujar Nuraini saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Nuraini, gempa dengan magnitudo 7,7 tersebut berada di segmen bersebelahan dengan lokasi gempa Flores pada 1992. Dia menjelaskan, Back-Arc Thrust merupakan jalur sesar menerus dari wilayah utara Flores, Lombok, hingga Bali. Jalur tersebut juga memicu gempa besar di Lombok 2018.
Berdasar pengalaman dari rangkaian gempa Lombok pada 2018, Nuraini menuturkan, gempa besar terjadi setelah gempa sedang. Oleh karena itu, BRIN masih mencermati apakah gempa magnitudo 7,7 di NTT merupakan gempa utama atau justru gempa pendahulu (foreshock).
"Kita sih ekspektasinya, karena gempa sekarang sudah magnitudo 7,7, kita berharap ini sudah gempa utamanya, bukan foreshock. Foreshock itu gempa pendahuluan," ujar Nuraini.
Sebab, Nuraini menambahkan, berdasarkan pemetaan, potensi maksimum gempa di segmen tersebut berada di sekitar magnitudo 7,8. Sementara gempa telah terjadi mencapai magnitudo 7,7 dan gempa susulan dengan kekuatan sekitar magnitudo 6 juga tercatat. Menurut dia, ekspektasi BRIN energi tersimpan di segmen ini sudah banyak keluar.
"Kita melihat potensi gempa di segmen ini maksimum magnitudo 7,8. Tetapi tadi kan sudah terjadi magnitudo 7,7. Sudah keluar 7,7, kemudian tidak lama berselang salah satu gempa susulannya juga sudah magnitudo 6," tutur dia.





Komentar (0)