Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melaporkan lima bandar udara (bandara) di wilayah Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur, terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0.
Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa membeberkan pemeriksaan terhadap fasilitas dan infrastruktur bandara terus dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan.
Hasil pengecekan itu menemukan kerusakan berupa retakan pada bangunan terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, hingga fasilitas pendukung lainnya.
“Di Bandar Udara Soa – Bajawa, berdasarkan laporan awal, terdapat kerusakan sedang pada runway dan sejumlah bangunan serta fasilitas pendukung, termasuk adanya retakan baru di beberapa titik,” kata Lukman dalam keterangannya, Sabtu (15/8).
Lima bandara yang dilaporkan terdampak gempa yaitu:
1. Bandara Komodo, Labuan Bajo;
2. Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende;
3. Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu;
4. Bandara Frans Sales Lega, Ruteng; dan
5. Bandar Soa, Bajawa.
Berdasarkan informasi Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) BMKG, gempa utama berkekuatan M7,0 terjadi pada pukul 05.58 WITA. Pusat gempa berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 10 kilometer.
Selain itu, tercatat gempa berkekuatan M6,2 pada pukul 06.13 WITA dengan pusat gempa di laut sekitar 46 kilometer timur laut Labuan Bajo pada kedalaman 10 kilometer.
Dampak gempa juga dirasakan pada pelayanan navigasi penerbangan. Unit pelayanan yang terdampak meliputi Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng.
“Seluruh personel penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di lokasi yang terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat,” ujar Lukman.
Pada sejumlah lokasi, khususnya yang mengalami kerusakan pada gedung tower, pelayanan navigasi untuk sementara dilaksanakan dari lokasi yang dinilai aman.
Selain itu, Lukman memastikan Ditjen Perhubungan Udara juga menyiapkan contingency plan untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan pelayanan navigasi penerbangan.
“Pemeriksaan kondisi fasilitas dan infrastruktur bandar udara serta fasilitas navigasi penerbangan terus dilakukan. Untuk kesiapan pengiriman bantuan ke masyarakat dilakukan dengan skema Get Airport Ready for Disaster (GARD),” tutur Lukman.
Dia memastikan akan terus memonitor perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait. Informasi lebih lanjut akan disampaikan setelah hasil pemeriksaan dan asesmen terbaru diterima.
Selain Bandara, Sejumlah Pelabuhan Turut Terdampak GempaSelain berdampak pada sejumlah bandara, kerusakan juga terjadi pada sejumlah pelabuhan di wilayah tersebut.
“Meskipun peringatan dini tsunami telah dicabut, saya minta seluruh pihak untuk tetap mengutamakan aspek keselamatan dalam bermobilitas, khususnya di wilayah terdampak. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, selalu update informasi resmi terkait cuaca dari BMKG, dan senantiasa ikuti arahan petugas di lapangan,” ujar Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi.
Di Pelabuhan Laurentius Say, gempa menyebabkan bagian dermaga dan bangunan ruang tunggu roboh. Saat kejadian, KM Bukit Siguntang sedang bersandar di dermaga.
Sementara di Pelabuhan Reo, kerusakan terjadi pada bagian kantor dan terminal. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Kerusakan ringan juga ditemukan di Pelabuhan Nangakeo, berupa plafon runtuh hingga tembok retak. Akibatnya, layanan perintis di pelabuhan tersebut dihentikan sementara.
Dudy kemudian menginstruksikan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemenhub di wilayah NTT dan sekitarnya untuk terus berkoordinasi dengan BMKG, Basarnas, TNI/Polri, pemerintah daerah, dan operator transportasi. Pemeriksaan fasilitas transportasi juga dilakukan untuk memastikan kondisi sarana dan prasarana tetap aman pascagempa.






Komentar (0)