Bucharest: Rumania menghentikan operasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) satu-satunya di negara itu akibat rendahnya permukaan Sungai Danube setelah gelombang panas berkepanjangan melanda Eropa.
Pembangkit Cernavoda yang memiliki dua reaktor dan memasok sekitar 20 persen kebutuhan listrik Rumania diperkirakan tidak akan kembali beroperasi dalam 10 hari ke depan.
Reaktor kedua berkapasitas 706 megawatt diputus dari jaringan listrik nasional pada Kamis 13 Agustus 2026 setelah reaktor pertama lebih dulu dihentikan pada Juli. Pembangkit tersebut menggunakan air Sungai Danube sebagai pendingin reaktor.
Direktur Cernavoda Romeo Urjan mengatakan pihaknya belum memperkirakan pembangkit dapat kembali beroperasi dalam 10 hari mendatang.
“Kami tidak memperkirakan pembangkit akan kembali beroperasi dalam 10 hari ke depan,” kata Urjan kepada kantor berita AFP, dikutip dari BBC.
Sebelumnya, otoritas Rumania berupaya meningkatkan aliran air menuju pembangkit dengan menenggelamkan sejumlah tongkang yang membawa batu di sungai. Namun, langkah tersebut tidak cukup untuk mempertahankan operasi reaktor.
Penutupan Cernavoda merupakan gangguan besar bagi pasokan energi Rumania. Kekurangan listrik pada siang hari dapat ditutupi oleh pembangkit tenaga surya dan angin, tetapi kebutuhan pada malam hari harus dipenuhi dengan tambahan pembangkit berbahan bakar batu bara dan gas serta impor listrik.
Pembangkit listrik tenaga air Rumania juga mengalami penurunan kapasitas akibat rendahnya permukaan sungai.
Kondisi serupa mengancam pembangkit listrik tenaga nuklir Paks di Hungaria yang juga menggunakan Sungai Danube sebagai sumber air pendingin. Pejabat pembangkit mengatakan permukaan air telah turun hingga saluran pengambilan air berisiko tidak lagi mencapai sungai.
Penurunan permukaan Danube terjadi di sejumlah negara Eropa dan disebut telah mencapai level terendah dalam sekitar 30 tahun. Sungai Rhine, salah satu jalur transportasi utama Eropa, juga mengalami penurunan permukaan air yang mengganggu aktivitas pelayaran.
Layanan iklim Copernicus menyebut Eropa merupakan benua dengan pemanasan tercepat, dengan laju pemanasan sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, serta tekanan terhadap sumber daya air di kawasan tersebut.





Komentar (0)