MAKASSAR, KOMPAS-Air laut yang sempat naik ke permukaan pascagempa Magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur, membuat warga Selayar, Sulawesi Selatan, panik. Mereka mengungsi ke lokasi lebih tinggi.
Hingga Sabtu (15/8/2026) siang, sebagian warga di Pulau Bonerate dan Pulau Kalaotoa, Kabupaten Kepulauan Selayar, masih mengungsi.
Dua pulau ini terbilang cukup dekat dengan lokasi pusat gempa. Mereka masih diliputi trauma saat gempa dengan M 7,4 terjadi di NTT 2021. Saat itu air laut juga naik dan banyak bangunan yang roboh.
“Sampai sekarang kami masih mengungsi di kebun. Lokasinya agak tinggi. Kami belum berani pulang, masih trauma karena tadi guncangan cukup keras. Mana air laut juga naik,” kata Indawati, warga Desa Bonea, Kecamatan Pasimarannu di Pulau Bonerate yang dihubungi via telepon.
Kondisi ini juga diakui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel. “Sampai siang ini masih banyak warga mengungsi. Sebagian mulai kembali. Tapi kami tetap meminta warga waspada untuk mengantisipasi gempa susulan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Selayar, warga di tiga pulau yakni Bonerate, Kalaotoa, dan Madu, merasakan guncangan gempa yang cukup keras. Usai gempa, air sempat naik menerjang permukiman.
Hal ini membuat warga panik dan berlarian ke lokasi yang tinggi. Pulau-pulau ini berada di Pasilambena dan Pasimarannu, dua kecamatan terdekat dengan NTT.
Sejauh ini belum ada laporan terkait kerusakan akibat gempa. Pendataan masih dilakukan.
“Kami mengimbau warga tetap waspada namun tidak panik. Informasi sebaiknya dipantau melalui BMKG atau instansi resmi lainnya,” tambah Amson.
Sebelumnya Prof Adi Maulana, Guru Besar Teknik Geologi Universitas Hasanuddin yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Sulawesi Selatan dan Barat menyebut gempa disebabkan Sesar Naik Belakang Busur Flores.
Ia menyebut secara geologi, kawasan di NTT berada dalam sistem tektonik yang sangat kompleks. “Gempa ini salah satunya dipengaruhi Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Belakang Busur Flores, Akumulasi tegangan pada sistem sesar tersebut dapat dilepaskan secara tiba-tiba dan menghasilkan gempa besar serta guncangan kuat,” katanya.
Secara historis, Adi bilang, kawasan Flores dan NTT merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas tektonik paling tinggi di Indonesia. Dia juga mengingatkan pelajaran yang sangat penting dari gempa dan tsunami Flores 12 Desember 1992.
Gempa besar tersebut membangkitkan tsunami yang menimbulkan kerusakan sangat luas dan ribuan korban jiwa, termasuk di kawasan Maumere dan pesisir Flores.
“Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa ancaman gempa dan tsunami di kawasan tersebut bukanlah sesuatu yang hipotetis, tetapi merupakan bagian nyata dari dinamika geologi Nusa Tenggara,” katanya.
Dalam jangka panjang, kejadian ini kembali menunjukkan bahwa pemahaman geologi harus menjadi bagian penting dari pembangunan wilayah
Peta sumber gempa, zona rawan tsunami, jalur dan tempat evakuasi, tata ruang pesisir, standar bangunan tahan gempa, serta pendidikan kebencanaan harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar diterapkan di lapangan.
”Kita memang tidak dapat mencegah gempa bumi, tetapi dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan tata kelola yang baik, kita dapat secara signifikan mengurangi jumlah korban dan kerugian ketika gempa besar kembali terjadi,” katanya.






Komentar (0)