Brasilia: Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva masih memimpin atas Senator sayap kanan Flavio Bolsonaro dalam survei terbaru menjelang pemilihan presiden pada Oktober 2026.
Survei Quaest yang dirilis Jumat, 14 Agustus 2026, menunjukkan Lula memperoleh 43 persen dukungan dalam simulasi putaran kedua, sementara Flavio Bolsonaro meraih 40 persen.
Dikutip dari Al Jazeera, Sabtu, 15 Agustus 2026, selisih tiga poin tersebut secara statistik masih berada dalam margin of error survei yang mencapai dua poin persentase. Dengan demikian, persaingan keduanya secara statistik tergolong ketat.
Hasil tersebut juga menunjukkan penyempitan jarak dibandingkan survei Quaest pada 5 Agustus. Saat itu, Lula unggul lima poin atas Flavio, dengan perolehan 44 persen berbanding 39 persen.
Dalam simulasi putaran pertama, Lula memiliki keunggulan lebih besar dengan 38 persen dukungan. Flavio berada di posisi kedua dengan 31 persen.
Tiga kandidat lainnya tertinggal cukup jauh. Renan Santos dan Ronaldo Caiado masing-masing memperoleh 4 persen, sementara Romeu Zema mendapatkan 2 persen dukungan.
Sistem pemilu Brasil menetapkan bahwa jika tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50 persen suara sah pada putaran pertama, dua kandidat dengan perolehan suara tertinggi akan maju ke putaran kedua.
Flavio Bolsonaro merupakan putra sulung mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan kini menjadi salah satu tokoh utama kubu kanan Brasil. Jair Bolsonaro tidak dapat mencalonkan diri setelah pengadilan pemilu tertinggi Brasil menyatakan dirinya tidak memenuhi syarat untuk mengikuti pemilu karena menyalahgunakan kekuasaan ketika menjabat.
Jair Bolsonaro kemudian dinyatakan bersalah dalam perkara terpisah terkait upaya membatalkan kekalahannya dari Lula pada pemilu 2022.
Survei Quaest dilakukan pada 10-13 Agustus terhadap 2.004 responden. Survei tersebut dipesan oleh kelompok media Brasil Globo. Lula Angkat Isu Kedaulatan Brasil Lula resmi mencalonkan diri kembali pada 2 Agustus dalam konvensi Partai Pekerja (PT) di Sao Paulo. Dalam kampanyenya, Lula menempatkan isu kedaulatan nasional sebagai salah satu tema utama, di tengah tekanan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Lula menyerukan peningkatan anggaran pertahanan dan berjanji melindungi cadangan mineral tanah jarang serta mineral strategis Brasil dari kendali asing.
“Saya ingin siap sehingga tidak ada yang menginvasi negara ini,” kata Lula dalam konvensi tersebut.
Dia juga memperingatkan bahwa China, Amerika Serikat, maupun Prancis tidak akan mendapatkan akses terhadap kekayaan mineral Brasil tanpa menghormati kedaulatan negara tersebut.
“Inilah Brasil. Kami tidak menerima siapa pun ikut campur dalam urusan yang bukan menjadi urusannya,” ujar Lula.
Hubungan Trump dengan keluarga Bolsonaro turut menjadi perhatian dalam kontestasi pemilu Brasil. Trump diketahui memiliki hubungan dekat dengan keluarga Bolsonaro.
Juni lalu, Lula meminta Trump tidak mencampuri pemilu Brasil.
“Jangan ikut campur dalam pemilu Brasil, karena pemilu Brasil adalah urusan Brasil, sama seperti pemilu Amerika adalah urusan mereka, bukan urusan saya,” kata Lula.
Dengan waktu sekitar dua bulan menuju pemungutan suara, hasil survei menunjukkan pertarungan antara Lula dan Flavio Bolsonaro semakin kompetitif. Meski masih memiliki keunggulan struktural, posisi Lula kini menghadapi tantangan yang lebih kuat dari kubu kanan menjelang fase akhir kampanye.
Baca juga: Presiden Lula Peringatkan Trump Agar Tak Intervensi Pemilu Brasil





Komentar (0)