EtIndonesia.com Kabar meninggalnya mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji menarik perhatian publik. Semasa hidupnya, Zhu pernah tampil mendukung pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping, tetapi dalam beberapa tahun terakhir ia jarang muncul di depan publik. Ada informasi yang menyebutkan bahwa pada masa tuanya, Zhu Rongji cukup tidak puas terhadap Xi Jinping.
Media resmi PKT menerbitkan berita duka pada 12 Agustus dan menyatakan bahwa Zhu Rongji meninggal dunia di Beijing dalam usia 98 tahun. Berita duka tersebut menyebut bahwa semasa hidupnya Zhu Rongji “mendukung dan menopang dua periode Komite Sentral PKT di bawah kepemimpinan Hu Jintao dan Xi Jinping”.
Pakar masalah Tiongkok dan komentator politik senior Chen Pokong mengatakan kepada The Epoch Times bahwa memang benar Zhu Rongji mendukung Hu Jintao dan juga mendukung Wen Jiabao, tetapi Zhu Rongji tidak mendukung Xi Jinping karena Xi dianggap sangat berhaluan kiri.
Ketika Xi Jinping memperpanjang masa jabatannya pada Kongres Nasional PKT ke-19, rekaman berita menunjukkan bahwa Zhu Rongji merupakan satu-satunya orang di seluruh ruangan yang tidak bertepuk tangan.
Menurut Chen Pokong, Zhu Rongji adalah seorang tokoh senior PKT sekaligus bagian dari kelompok reformis. Sementara itu, Xi Jinping sejak awal disebut waspada terhadap para tokoh senior PKT, terlebih terhadap kelompok reformis.
Setelah Xi Jinping berkuasa, Hu Jintao, Wen Jiabao, Zhu Rongji dan sejumlah tokoh lainnya beberapa kali tampil secara terbuka untuk menunjukkan dukungan kepada Xi.
Namun, setelah Kongres Nasional PKT ke-19, pemerintahan Xi bergerak semakin jauh ke arah kiri. Akibatnya, sejumlah pejabat berpandangan lebih terbuka dan intelektual publik yang sebelumnya mendukung Xi mulai merasa tidak puas terhadap keadaan saat ini.
Meskipun Zhu Rongji tidak pernah terlibat konflik terbuka dengan Xi Jinping, citra politiknya sebagai tokoh yang “mempertahankan reformasi berbasis pasar” sangat kontras dengan model pemerintahan Xi Jinping. Karena itu, ia dianggap sebagai salah satu tokoh senior PKT yang diwaspadai oleh Xi.
Pada pembukaan Kongres Nasional PKT ke-19 pada 18 Oktober 2017, setelah Xi Jinping selesai menyampaikan pidato dan membungkuk kepada hadirin, Zhu Rongji tidak ikut bertepuk tangan bersama yang lainnya. Ia hanya menatap Xi Jinping dengan ekspresi dingin.
Tangkapan layar CCTV PKT mengenai momen tersebut kemudian memicu berbagai spekulasi dan perhatian publik.
Pada 25 Maret 2022, sejumlah media berbahasa Mandarin di luar Tiongkok mengabarkan bahwa Zhu Rongji pada 10 Maret telah mengirim surat kepada pemerintah pusat berisi sembilan usulan yang sangat tajam dan disebut-sebut ditujukan kepada Xi Jinping.
Salah satu bagian yang diklaim sebagai usulan kesembilan berbunyi: “Dorong keberanian untuk mengatakan kebenaran. Saya, Zhu Rongji, tidak takut diaudit, tidak takut ditahan, dan tidak takut masalah menimpa anak cucu saya. Jika ada sesuatu yang ingin dikatakan, maka katakanlah.”
Pada 15 Maret tahun yang sama, The Wall Street Journal menerbitkan artikel berjudul “China’s Economic Activity Contraction Exposes Xi Jinping’s Power Fractures.”
Artikel tersebut mengutip sumber dari dalam PKT yang mengatakan bahwa sejumlah mantan pejabat senior PKT yang masih memiliki pengaruh politik secara terbuka menentang keinginan Xi Jinping untuk mengubah sistem suksesi kepemimpinan yang telah ditetapkan. Zhu Rongji disebut sebagai salah satu penentangnya.
Zhu Rongji Semakin Jarang Tampil di PublikPada masa tuanya, Zhu Rongji sangat jarang tampil di depan umum.
Kemunculan publik terakhirnya disebut terjadi pada Oktober 2018, ketika ia bertemu dengan anggota Komite Penasihat Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua di Beijing.
Setelah itu, Zhu terus absen dari berbagai acara penting yang menampilkan Xi Jinping sebagai tokoh utama, termasuk:
- peringatan 70 tahun berdirinya PKT;
- peringatan 100 tahun berdirinya PKT;
- Kongres Nasional PKT ke-20;
- serta parade militer 3 September yang digelar di Beijing.
Sebagian pihak menganalisis bahwa kondisi kesehatan Zhu mungkin bermasalah. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa Zhu sengaja tidak menghadiri acara-acara tersebut karena tidak ingin tampil mendukung atau menjadi “pendukung panggung” bagi Xi Jinping.
Dalam beberapa tahun terakhir, kabar mengenai Zhu Rongji yang sakit kritis bahkan telah meninggal beberapa kali beredar di internet. Hal ini menunjukkan sensitivitas posisi Zhu sebagai salah satu tokoh yang dianggap mewakili kelompok reformis PKT.
Ia juga sesekali tetap mempertahankan kehadiran publik secara terbatas, misalnya dengan menyampaikan salam melalui kegiatan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua atau mencantumkan namanya dalam acara-acara penting.
Ketika menjabat, Zhu Rongji mendukung reformasi ekonomi berbasis pasar. Namun, reformasi perusahaan milik negara yang ia dorong pada masa itu pernah memicu gelombang besar pemutusan hubungan kerja, yang berdampak sangat berat terhadap para pekerja biasa.
Karena itu, di ruang opini publik di luar sistem politik PKT, penilaian terhadap Zhu Rongji sangat beragam.






Komentar (0)