Kisah Nyata Warga di Wilayah 3T, Dari Naik Pohon Cari Sinyal Hingga Terhubung Berkat BAKTI

jpnn.com
4 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Untuk memperluas konektivitas hingga wilayah yang sulit dijangkau, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital mengelola sejumlah aset infrastruktur strategis nasional secara terintegrasi.

Di ruang angkasa, Satelit Republik Indonesia (Satria-1) dengan kapasitas 150 Gbps telah mendukung konektivitas fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hinggapos TNI/Polri di wilayah 3T sejak 2024.

BACA JUGA: SMA YPPK Teruna Bakti Jayapura Tembus Nasional, Siap Buktikan Papua Mampu Bersaing

Direktur Utama BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar yang akrab disapa Indah mengatakan keberadaan Satria-1 memungkinkan BAKTI mengombinasikan jaringan terestrial dan non-terestrial dalam memperluas akses internet ke berbagai wilayah yang sebelumnya sulit terjangkau.

"Hal lain yang membuat kami dapat mempercepat penggelaran konektivitas digital itu adalah kehadiran Satria-I. Kehadiran Satria-I ini membuat kita bisa menggabungkan solusi terestrial dengan solusi non-terestrial pada saat wilayah-wilayah itu memang masih sangat sulit,” kata Indah dalam agenda BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

BACA JUGA: Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin Ditunjuk Secara Aklamasi Jadi Ketum TP Sriwijaya

Sementara di jaringan darat dan laut, Palapa Ring menjadi tulang punggung jaringan serat optik di wilayah non-komersial.

Infrastruktur tersebut membentang sepanjang 12.148 kilometer dan melayani 131 titik Network Operation Center (NOC) yang tersebar di 57 kabupetan/kota di wilayah Barat, Tengah, danTimur Indonesia.

BACA JUGA: Kitabisa dan Bakti Barito Berkolaborasi Dukung Pendidikan Perubahan Iklim

Konektivitas juga diperkuat melalui BAKTI AKSI, yang telah merealisasikan layanan internet gratis di lebih dari 31.864 titik layanan publik di seluruh Indonesia.

Adapun melalui BAKTI SINYAL, pembangunan infrastruktur BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) telah mencapai 6.747 titik lokasi di wilayah 3T dan perbatasan, dengan sumber pendanaan dari APBN dan kontribusi USO.

Infrastruktur tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat melalui program Ekosistem Digital dan Kemitraan BUMDes, antara lain melalui pelatihan literasi digital, pemberdayaan UMKM, digitalisasi pariwisata, serta kemitraan dengan BUMDes dan BUMDesma untuk mendorong kemandirian ekonomi desa berbasis teknologi informasi dankomunikasi.

Dari Sinyal ke Pembangunan Daerah

Dampak pembangunan infrastruktur tersebut terlihat dari pengalaman daerah penerima layanan.

Salah satunya Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki kondisi geografis berupa kepulauan, pegunungan dan wilayahrawan bencana.

Kepala Dinas Kominfo Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen mengatakan sebelum hadirnya konektivitas BAKTI, masyarakat dan aparatur pemerintah harus menempuh jarak tertentu untuk sekadar mendapatkan sinyal.

"Masyarakat kami atau teman-teman di sekolah, bahkan fasilitas kesehatan, Puskesmas, Pustu, harus menjangkau berkilometer-kilometer jarak untuk mendapatkan tempat bersinyal sehingga bisa mengakses informasi, memberikan laporan, menyampaikandata,” katanya.

Bahkan, keterbatasan sinyal membuat masyarakat harus berjalankaki atau menggunakan sepeda motor menuju lokasi tertentu.

Silvester menggambarkan kondisi tersebut dengan cara yang cukup ekstrem.

"Kadang naik pohon karena di bawah tidak ada sinyal. Jadi, harus naik pohon,” imbuhnya.

Kehadiran infrastruktur BAKTI kemudian mengubah kondisi tersebut. Di Flores Timur, BAKTI telah membangun enam BTS serta membantu sekitar 262 akses internet yang digunakan di fasilitas pemerintahan, desa, sekolah dan fasilitas kesehatan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga sektor pendidikan.

Kepala SMAN 1 Titehena Konradus Kudarto mengatakan akses internet kini menjadi kebutuhan penting karena berbagai aktivitas sekolah telah beralih ke sistem digital, mulai dari administrasi hingga pelaksanaan asesmen.

Namun, peningkatan akses tersebut juga menghadirkan tantangan baru, yakni kapasitas jaringan. Konradus menyebut sekolahnya masih menghadapi keterbatasan bandwidth ketikaseluruh siswa harus mengakses sistem ujian secara bersamaan.

"Saya datang dengan harapan besar supaya ada peningkatan kapasitasnya sudah ada di lapangan, tetapi ada ada sesuatu yang harus dibenahi supaya itu bisa dimaksimalkan,” jelasnya.

Dia mencontohkan saat pelaksanaan asesmen, sekitar 450 siswa ditambah 50 guru dan pengawas dapat menggunakan jaringan secara bersamaan.

Oleh karena itu, kebutuhan sekolah bukan lagi sekadar tersedianya sinyal, melainkan peningkatan kapasitas agar konektivitas benar-benar mendukung proses belajar dan evaluasi.

Internet Buka Akses Ekonomi Masyarakat

Manfaat konektivitas juga mulai terasa di sektor ekonomi. Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pemerintah daerah mencatat internet membantu masyarakat di daerah terpencil memperoleh informasi harga komoditas sehingga posisi tawar petani terhadap tengkulak menjadi lebih kuat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Parigi Moutong Khairuddin mengatakan sebelum adanya jaringan, masyarakat di daerah pegunungan kesulitan memperolehinformasi mengenai harga hasil pertanian.

"Namun, dengan adanya ini bantuan dari BAKTI, masyarakat sudah bisa mengakses semua informasi-informasi yang ada di khususnya di provinsi, kabupaten sampai di kecamatan,” terangnya.

Kepala Desa Baina Barat, Yuslan, turut memberikan kesaksianmengenai perubahan tersebut.

Menurutnya, masyarakat kinidapat membandingkan harga dan mencari pembeli dengan hargayang lebih baik sebelum menjual hasil pertaniannya.

Dengan akses informasi tersebut, internet secara tidak langsung menjadi instrumen yang memperbaiki posisi tawar masyarakat desa.

Aktivitas ekonomi yang sebelumnya sangat bergantung pada informasi dari pembeli lokal mulai berubah karena petani dapat mencari informasi harga dan menghubungi pembeli dari wilayah lain.

Dampak serupa juga dirasakan pelaku UMKM. Yuslan mengatakan masyarakat dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk dan menerima pesanan dari luar desa.

"Mudah aksesnya untuk mereka mendapatkan misalnya seperti makanan yang dibuat kemudian dijual, kemudian mereka posting di foto posting kemudian dikirim di media sosial,” tuturnya.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Roy Suryo soal Praperadilan Keempat: KUHAP Baru Memang Membolehkan
• 13 jam lalu
0
thumb
Persib Panaskan Mesin di Dewata Challenge Series 2026, 7 Pemain Timnas Indonesia Sudah Kembali Lengkapi Skuad
• 15 jam lalu
0
thumb
Gaji PNS Tak Naik Dua Tahun, Ini Besarannya Berdasarkan Golongan
• 21 jam lalu
0
thumb
Kampung Bahari, Perang Narkoba yang Tak Usai hingga Bos Gendut Ditangkap
• 21 jam lalu
0
thumb
BGN Tutup Permanen 504 Dapur MBG, Dianggap Tak Penuhi Standar Sanitasi
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.