Washington: Senator Amerika Serikat (AS) Richard Blumenthal menuntut penjelasan mengenai kondisi di atas kapal USS Abraham Lincoln, yang telah berada di laut selama lebih dari 250 hari.
Blumenthal mendesak jawaban dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Pelaksana Tugas (Plt.) Menteri Angkatan Laut Hung Cao.
"Terdapat banyak laporan mengenai kekurangan pasokan kebutuhan pokok, kontaminasi air, masalah sistem perpipaan, penurunan kesehatan mental, kekhawatiran keselamatan di geladak, serta gangguan pada sistem pengiriman surat, yang menyebabkan banyak paket kiriman untuk awak kapal hilang dalam perjalanan selama berbulan-bulan," tulis Blumenthal, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat, dalam sebuah surat, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat 14 Agustus 2026.
Senator tersebut mengatakan bahwa kapal Lincoln bertolak dari Pangkalan Angkatan Laut San Diego pada 21 November 2025 untuk misi yang awalnya direncanakan berlangsung selama tujuh bulan. Penugasannya dijadwalkan berakhir pada Mei namun kemudian diperpanjang, tanpa adanya pengumuman resmi mengenai tanggal kepulangan.
Blumenthal menyebutkan bahwa kapal induk tersebut telah berada di laut selama lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan, mencetak rekor durasi terlama berada di laut secara berturut-turut.
Menurut Blumenthal, perpanjangan masa tugas ini memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai kemampuan Angkatan Laut dalam memenuhi tuntutan operasional terhadap armada kapal induknya sembari tetap menjaga kesejahteraan awak, kesiapan peralatan, dan pelaksanaan pemeliharaan terjadwal.
"Laporan-laporan ini menuntut perhatian segera, namun juga memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah Angkatan Laut mampu mempertahankan tempo operasional yang kini dituntut dari kekuatan kapal induknya," tulisnya.
Senator tersebut menyatakan bahwa penugasan panjang kapal Lincoln menjadi sangat krusial karena berlangsung di tengah operasi militer AS yang berkelanjutan terkait Iran, serta adanya kemungkinan bahwa kekuatan angkatan laut Amerika akan tetap berada di kawasan tersebut untuk jangka waktu yang lama.
"Jika Pemerintah berniat mempertahankan kampanye militer berkepanjangan atau kehadiran kapal induk dalam jumlah besar di kawasan tersebut, mereka harus menjelaskan bagaimana cara memastikan bahwa kebutuhan operasional saat ini tidak memicu krisis kesiapan di masa mendatang," tulis Blumenthal.
Ia juga memperingatkan bahwa penugasan yang berkepanjangan dapat memperparah risiko inheren dalam pengoperasian kapal induk, di mana para pelaut bekerja di sekitar mesin jet, bahan bakar, persenjataan, mesin berat, dan sistem kelistrikan, sembari menghadapi potensi ancaman dari pihak lawan. Pertanyaan seputar kelelahan, moral, dan kesehatan mental prajurit Menurut Blumenthal, kelelahan, penundaan pemeliharaan, serta berkurangnya kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan kondisi dapat semakin meningkatkan risiko-risiko tersebut.
Blumenthal meminta Pentagon untuk menjelaskan bagaimana mereka berencana mempertahankan operasi gugus tempur kapal induk di Timur Tengah selama 12 hingga 24 bulan ke depan jika kebutuhan saat ini terus berlanjut.
Ia juga meminta rincian mengenai setiap perpanjangan masa penugasan kapal induk Lincoln, termasuk siapa yang memberikan izin dan alasan kebutuhan operasional apa yang menjadi dasar keputusan tersebut.
Senator tersebut meminta Angkatan Laut untuk memberikan daftar masalah signifikan terkait kondisi hunian dan kualitas hidup yang teridentifikasi di kapal induk itu -,termasuk masalah pasokan perlengkapan kebersihan, jamur, toilet, fasilitas binatu, dan pasokan air,- beserta langkah-langkah perbaikan yang telah diambil.
Ia juga meminta informasi mengenai tolok ukur yang digunakan untuk memantau kelelahan, moral, kesehatan mental, dan kesiapan awak kapal, serta adanya peningkatan insiden keselamatan, masalah medis, atau pelanggaran disiplin yang terkait dengan penugasan tersebut.
Blumenthal lebih lanjut mempertanyakan apakah struktur kekuatan dan model penugasan Angkatan Laut saat ini dapat memenuhi kebutuhan akan kapal induk secara berkelanjutan.
Terakhir, ia meminta Pentagon untuk menjelaskan tujuan militer di balik perpanjangan penugasan Lincoln terkait situasi dengan Iran, serta bagaimana para pejabat menentukan apakah keberadaan kapal tersebut masih diperlukan.
Dilaporkan bahwa sejumlah pelaut di kapal induk USS Abraham Lincoln telah mencoba melompat ke laut selama masa penugasan kapal yang berkepanjangan di Timur Tengah; hal ini memicu kekhawatiran baru di kalangan keluarga militer dan para pembuat undang-undang mengenai kesehatan mental serta kondisi kehidupan para awak kapal.
Laporan dari Navy Times dan Stars and Stripes memaparkan beberapa insiden di mana pelaut mencoba melompat ke laut saat kapal memasuki bulan kesembilan pelayarannya.
Menurut laporan tersebut, kapal induk yang membawa sekitar 5.000 pelaut dan personel Marinir ini telah berada di laut selama lebih dari 250 hari berturut-turut tanpa singgah di pelabuhan.





Komentar (0)