Sebuah video viral memperlihatkan aksi orang tua di depan gerbang sekolah bersama anak-anaknya. Narasi video menyebutkan orang tua itu demo karena dikunci gerbangnya.
Dalam video itu, seorang pria mengatakan bahwa gerbang dikunci oleh pihak sekolah, sehingga anak-anak tak bisa masuk ke sekolah.
Pria itu kemudian meminta kepala sekolah agar ditindak oleh Dinas Pendidikan.
“Dikunci pagarnya, tak dibolehkan anak-anak masuk. Dan ini akan mengancam keselamatan anak-anak. Ini di Jalan Raya Yos Sudarso, gara-gara anak-anak terlambat masuk. Ini supaya Dinas Pendidikan menindak kepala sekolah yang tak becus,” ucap pria di dalam video viral tersebut.
Peristiwa itu terjadi di SD Negeri 060951 di Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, pada Senin (10/8).
Kepala SD Negeri 060951, Lesmono mengatakan bahwa saat itu sekolah sedang melaksanakan upacara bendera. Sehingga, gerbang sekolah ditutup agar pelaksanaan upacara berlangsung khidmat.
Siswa-siswi yang terlambat tidak diperbolehkan masuk agar upacara tidak terganggu.
"Waktu itu hari Senin, ada pelaksanaan upacara bendera. Pukul 07.15 WIB itu sekolah sudah bel ya. Pukul 07.17 WIB, baru pintu gerbang ditutup, karena anak-anak enggak boleh masuk lagi. Nah, barulah dilaksanakan upacara (gerbang dibuka). Pelaksanaan upacara yaitu bendera jadi khidmat," kata Lesmono saat ditemui di kantornya, Kamis (13/8).
Lesmono menuturkan, setelah pengibaran bendera, terdengar dari luar gerbang keributan para orang tua siswa yang terlambat. Para orang tua itu melakukan aksi unjuk rasa atau demo di depan gerbang dikarenakan pintu gerbang sekolah dikunci.
"Kemudian, guru-guru piket kan tetap standby di depan pintu gerbang," ujar Lesmono.
Menurutnya, para orang tua itu melontarkan kata-kata makian kepada dirinya. Ia pun tidak mempermasalahkan hal tersebut, sebab peraturan sekolah harus dijalankan oleh para siswa agar tidak terlambat ke sekolah.
Lesmono menuturkan, bukan hanya para siswa saja yang terlambat, melainkan beberapa guru juga terlambat ke sekolah dan tidak bisa masuk. Sehingga tidak ada perbedaan.
"Kami anggap sudah tidak boleh masuk itu bukan hanya siswa, tapi guru yang terlambat. Ada beberapa orang guru yang terlambat juga tidak boleh masuk. Boleh masuk ketika upacara selesai," imbuh Lesmono.
Ia pun tidak menyangka para orang tua yang demo itu viral di media sosial. Namun, ia tetap memegang pedoman bagaimana cara mendidik anak agar disiplin.
"Saya juga berpikir yang saya lakukan itu tidak salah ya. Saya hanya berpedoman bagaimana cara mendidik anak, mendisiplinkan anak" kata Lesmono.
Lesmono mengatakan, pihak sekolah juga akan memberikan sanksi kepada guru-guru yang terlambat ke sekolah.
Menurutnya ada sekitar 20 siswa dan tiga guru yang terlambat pada hari Senin tersebut. Sebelum video viral, para siswa dan guru juga pernah terlambat dan berada di luar gerbang. Setelah upacara selesai, kemudian para guru dan murid diperbolehkan untuk masuk ke sekolah.
Menurut Lesmono, saat terjadi demo menyebabkan kemacetan karena para orang tua memarkirkan kendaraannya sembarangan.
Sementara para siswa menunggu di depan pintu gerbang. Lalu, para guru piket juga berjaga di depan pintu gerbang untuk melihat para siswanya yang terlambat.
"Kalau anak-anak semuanya ada di depan pintu gerbang. Yang buat macet itu memang ada kendaraan orang tua tadi yang parkirnya sembarangan. Bukan karena siswa tadi, bukan, karena ulah dari orang tua sendiri," imbuh Lesmono.
Lesmono menambahkan, pihak dinas pendidikan sudah melihat kebijakan sekolahnya. Sehingga, belum ada teguran dari dinas pendidikan.
"Kalau dinas pendidikan tidak ada (teguran). Mungkin dinas pendidikan itu sudah melihat ya kejadiannya, tujuan sekolah itu benar," ujar Lesmono.
Lesmono berharap agar para orang tua untuk sadar diri dalam membimbing anaknya.
"Kalau harapan untuk orang tua ini ya sadar diri ya, sadar diri bagaimana membimbing anak," pungkas Lesmono.






Komentar (0)