Mengolah 1,96 Ton Limbah Organik per Bulan dengan Sistem Hugelkultur

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Siapa yang menyangka kalau tumpukan ranting pohon, batang kayu lapuk, dan dedaunan kering yang sering dianggap sampah justru bisa disulap jadi media tanam super subur tanpa perlu pupuk kimia mahal? Pengelolaan sampah organik atau limbah organik merupakan bagian penting dari upaya menjaga lingkungan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah Hugelkultur, yang menggabungkan pengelolaan bahan organik dengan kegiatan bercocok tanam.

Pendekatan ini sedang diterapkan di lingkungan Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor. Kampus yang dikenal asri ini ternyata menghasilkan limbah organik dalam jumlah cukup besar dari kegiatan pemangkasan pohon dan pembersihan taman. Tercatat sekitar 65,4 kg limbah organik dihasilkan setiap hari, atau setara dengan sekitar 1,96 ton per bulan. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa limbah organik tidak hanya menjadi persoalan yang perlu ditangani, tetapi juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.

Daripada sekadar ditumpuk, dibakar, atau bikin pemandangan kampus kurang estetis, para peneliti dari Program Studi Teknik Pertanian Unpad, Boy Macklin Pareira Prawiranegara, Mochammad Agung Trianto, Deaby Febrianti Patiha, Agung Dyan Catur Pratama, dan Muhammad Rigel Lazuardi menemukan solusi cerdas nan ramah lingkungan.

Jawabannya adalah: Hugelkultur.

Apa Sih Teknik Hugelkultur Itu?

Bagi sebagian orang, istilah Hugelkultur (dibaca: hoo-gul-kul-toor) mungkin terdengar asing. Teknik yang berasal dari Jerman ini secara harfiah berarti "kebun gundukan".

Prinsip dasarnya sangat sederhana: meniru cara alam bekerja di dalam hutan. Di hutan, kayu-kayu dan daun tumbang tidak dibersihkan, melainkan dibiarkan menumpuk, membusuk, dan menyerap air hujan layaknya spons alami.

Nah, di Teknik Pertanian Unpad, gundukan Hugelkultur ini dibuat dalam bentuk bedengan berukuran 1 x 0,5 x 0,5 meter dengan susunan berlapis:

  1. Lapisan Bawah (Paling Tebal): Potongan kayu lapuk (sekitar 88,25 kg) dan ranting-ranting pohon (21,5 kg). Lapisan ini berfungsi sebagai penyimpan cadangan air jangka panjang.

  2. Lapisan Tengah: Daun-daunan kering (10 kg), daun kipahit (30 kg), arang (5 kg), serta kompos (32 kg).

  3. Lapisan Atas: Tanah (60 kg) sebagai penutup dan media tanam.

  4. Pemicu Alami: Disiram dengan larutan Bioaktivator (bakteri pengurai) untuk mempercepat proses dekomposisi alami.

Kenapa Teknik Ini Menarik dan Efektif?

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan para peneliti dari bulan Juli 2025 hingga Agustus 2026, ada beberapa alasan mengapa metode Hugelkultur ini layak diacungi jempol:

Langkah Konkret Menuju Green Campus & Circular Economy

Penerapan Hugelkultur ini bukan cuma sekadar proyek eksperimen laboratorium Teknik Sumber Daya Lahan dan Air, Program Studi Teknik Pertanian, Universitas Padjadjaran, melainkan langkah nyata Unpad menuju konsep Green Campus dan Circular Economy.

Limbah yang tadinya dianggap masalah lingkungan kini "diputar kembali" menjadi sumber daya bernilai guna. Selain mengurangi hampir 2 ton (perhari berkisar 65 kg per hari) potensi tumpukan sampah tiap bulannya, kebun Hugelkultur ini bisa dimanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran, tanaman obat, hingga tanaman hias tanpa bergantung pada pupuk kimia.

Metode ini juga sangat mudah ditiru, tidak membutuhkan modal besar, dan cocok diterapkan bukan hanya di area kampus, tetapi juga di pekarangan rumah atau program urban farming perkotaan.

Kesimpulannya? Sampah organik bukanlah musuh jika kita tahu cara mengolahnya. Lewat sentuhan teknologi tepat guna seperti Hugelkultur, tanah jadi subur, lingkungan makin asri, dan bumi pun jadi lebih sehat!


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bupati Puncak Pastikan Roda Pemerintahan Berjalan Normal Pascakerusuhan Massa
• 18 jam lalu
0
thumb
Prabowo Sebut Negara Harus Hadir untuk Rakyat di Daerah Terpencil
• 9 jam lalu
0
thumb
Penyelundupan Emas Rp 63 Miliar Digagalkan, Diduga Berasal dari Tambang Ilegal
• 4 jam lalu
0
thumb
Raymond/Nikolaus Ingin Buktikan Diri di Kejuaraan Dunia 2026, meski Tak Dibebani Target
• 20 jam lalu
0
thumb
Korban Kekerasan Capai 38.810, Rieke Soroti Anggaran Perlindungan Perempuan
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.