Grid.ID – Belakangan ini, nama Dilan Janiyar kembali menjadi perbincangan publik. Selain karena kontennya yang viral terkait biaya pendidikan anak, muncul pula isu yang menyebutkan bahwa dirinya akan rujuk dengan sang mantan suami lantaran keduanya terlihat kembali berkomunikasi dengan baik.
Menanggapi isu tersebut, Dilan dengan tegas menepis kabar rujuk. Ia menjelaskan bahwa hubungannya dengan mantan suami murni hanya sebatas urusan pengasuhan anak.
"Enggaklah, ngapain rujuk. Jadi kenapa aku berhubungan sama mantan itu kan karena untuk kepentingannya anak saja, pure untuk kepentingannya anak," tegas Dilan Janiyar di kawasan Tendean, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Ia memandang bahwa tetap menjaga komunikasi yang baik demi anak adalah bentuk perpisahan yang matang.
"Di luar daripada itu kita enggak ada hubungan dan yang menurut aku itu perpisahan yang dewasa adalah seperti itu. Kita tetap bisa berkomunikasi, tetap bisa bersinggungan tanpa ada perasaan," tambahnya.
Sebagai ibu tunggal, Dilan saat ini tengah berjuang keras memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya yang mulai bersekolah. Biaya yang tidak sedikit memaksanya untuk terus memutar otak dan bekerja ekstra.
Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi mantan suaminya yang disebut-sebut sedang tidak memiliki pekerjaan, sehingga beban finansial jatuh sepenuhnya ke pundak Dilan. Meski demikian, Dilan mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut, asalkan sang anak mengetahui siapa yang benar-benar berjuang untuknya.
"Aku apa pun itu untuk anak itu enggak ada masalah gitu ya, biar aku yang back up. Cuma di sini yang perlu digarisbawahi adalah ketika seorang ibu itu menafkahi anak itu jatuhnya sedekah, dan itu memang peraturannya seperti itu," kata Dilan.
Ia sangat menyayangkan sikap mantan suaminya yang terkesan lepas tangan dan mengandalkan dirinya.
"Pengennya kan yang aku denger ya dia masih asyik clubbing, naik-naik gunung saja gitu, kok kayak enggak kerja-kerja doang, malah dilemparkan ke aku. Aku enggak ada masalah aku yang back up, tapi yang jelas anakku tahu bahwa yang berjuang itu ibunya," ungkapnya.
Dilan juga menekankan bahwa ia tidak bermaksud pamer (flexing) atau ingin dianggap sebagai ibu bak malaikat, melainkan ia hanya ingin anaknya kelak menghargai keringat dan perjuangannya dari pagi hingga malam.
Terkait masalah nafkah bulanan, Dilan mengungkapkan bahwa mantan suaminya biasanya mengirimkan uang sebesar 4 juta rupiah sesuai putusan pengadilan, meski untuk bulan ini hal tersebut belum dilakukan. Namun, putusan pengadilan juga menyebutkan bahwa biaya kesehatan dan pendidikan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab sang ayah di luar nominal tersebut. Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.
"Faktanya tidak dilakukan karena ya tidak sanggup dan lain-lain sebagainya. Dan aku ya sudah nerima, cuma aku pengen lihat effort-nya juga gitu. Siapa tahu dia bisa bantu. Aku juga enggak ada kasih persentase kayak bagi dua nih, aku tahulah kemampuan dia berapa, cuma kan aku pengen lihat itikad baiknya dia," jelas Dilan.
Ia memberi contoh, jika biaya pendidikan mencapai Rp300 juta, bantuan sebesar Rp10 juta saja sudah ia anggap sebagai sebuah usaha. Ia ingin mantan suaminya sadar bahwa pengeluaran untuk anak jauh melebihi angka Rp4 juta tersebut.
Dilan juga merespons kritik dari beberapa pihak yang mempertanyakan keputusannya menyekolahkan anak di tempat yang mahal. Baginya, itu adalah haknya karena ia memiliki kemampuan finansial.
"Yang pertama, karena aku mampu. Yang kedua, aku pengen bikin anak aku itu bukan jadi generasi lemah, generasi yang kuat yang memimpin bangsa Indonesia ini," tegasnya.
Ia meyakini bahwa generasi yang kuat lahir dari orang tua hebat yang mampu memfasilitasi anaknya di tempat pendidikan yang berkualitas. Di tengah lelahnya bekerja keras demi buah hati, Dilan mengaku tidak pernah merasa jenuh. Ia menyadari bahwa semua yang dilakukannya adalah demi masa depan sang anak.
"Aku memang suka kerja. Aku memang suka banget kerja dan itu untuk anakku sendiri gitu. Kalau bukan aku yang membantu anak aku ya siapa lagi," ucapnya.
Untuk menjaga kewarasannya dan memulihkan energi setelah lelah bekerja, Dilan memiliki cara tersendiri untuk menikmati me-time.
"Me-time-nya adalah belanja, terus mungkin pijat, aku suka banget pijat, terapi spa kayak-kayak gitu. Jadi merefresh lagi pikiran. Pasti teman-teman perempuan lainnya tuh banyak juga yang me-recharge energinya pakai me-time, pakai belanja, kayak begitu," tutup Dilan. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)