Jakarta, tvOnenews.com- Viral di media sosial dengan video massa geruduk rumah, diduga tempat tinggal MC dari booth alkohol yang lakukan challange hafalan Al-Quran.
Hal ini kelanjutan dari viralnya video promosi alkohol dengan hafalan Al-Quran beberapa waktu lalu. Merek minuman keras (Miras) itu Newport.
Video promosi alkohol dengan hafalan Al-Quran ini pun menuai kecaman dari berbagai pihak. Dari warganet sampai tokoh agama Indonesia atau ulama.
- dok.kolase tvOnenews.com/ @infojawabarat
Sehubungan dengan viralnya video rumah MC digeruduk massa itu, disebutkan aksi tersebut juga tersapat ormas (organisasi masyarakat) yang ikut mengawal.
"Rumah disebut sebagai kediaman MC pembuat konten tantangan membaca Al-Qur’an di booth minuman keras didatangi sejumlah massa ormas di kawasan Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi, Selasa malam" bunyi keterangan dalam akun antara tv Indonesia, dan tv.koma, Kamis (13/8).
Dijelaskan juga dalam keterangan video itu, saat dilakukan gruduk oleh sejumlah kelompok warga. Namun, setelah dicek pihak RT dan RW setempat, MC bernama Revnaldo Ega Siahaan tidak ditemukan.
Dalam info yang beredar disebutkan, Rumah tersebut telah dikontrakkan kepada pihak lain sejak sekitar dua bulan lalu.
- dok.kolase tvOnenews.com/ @antaratvindonesia/@tv.koma
Kedatangan massa tidak menemukan orang yang mereka cari. Sejauh ini isu video promosi alkohol pakai Al-Quran masih mendapatkan sorotan publik.
Sebelumnya, tokoh agama indonesia, Buya Anwar Abbas menyampaikan pesan tegas soal adanya iklan alkohol menggunakan al-quran, tidaklah dibenarkan.
Hal ini dinilainya bisa merusak persatuan. Dikatakan juga kalau langkah brand tersebut, jelas sangat melecehkan agama islam.
Seperti diketahui, dalam agama islam, sudah jelas dilarang hukumnya untuk minum alkohol. Sangat disayangkan, malah buat iklan alkohol yang dikaitkan dengan al-quran.
"Mencari rezeki silahkan tapi jangan menyinggung, dan menyakiti hati orang lain. Apa yang mereka lakukan tentu jelas sangat melecehkan agama islam," ungkap Buya kepada tvonenews.com, Selasa (11/8).
"Dan lebih parah lagi, cara ini akan bisa merusak persatuan dan kesatuan itu sangat berbahaya," tegas Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan itu.




Komentar (0)