JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri mengaku sedih mengetahui ada 1 juta orang sarjan di Indonesia yang menganggur.
Megawati pun meminta Badan Riset dan Analisis Kebijakan (BARAK) Pusat PDI-P mencari tahu penyebab mengapa kalangan terdidik pun sulit memperoleh pekerjaan di Indonesia.
"Beberapa hari ini saya membaca di koran bahwa justru yang namanya orang-orang pintar kita itu tidak mempunyai pekerjaan sampai jumlahnya sedih sendiri melihat berita, katanya 1 juta. Ini saya sedang suruh untuk membedah sebetulnya apa alasannya tidak bisa kerja dan mengapa terjadi seperti itu,” kata Megawati saat melantik pengurus BARAK Pusat PDI-P, Selasa (11/8/2026), dikutip dari siaran pers.
Baca juga: Megawati: Kita Sudah 81 Tahun Merdeka, Kalau Gak Dipelihara, Lalu Gimana?
Menurut Megawati, partai politik membutuhkan riset berbasis sains untuk menjalankan perannya.
Dia mengingatkan bahwa badan riset adalah salah satu instrumen penting bagi partai untuk berkontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan bangsa.
Oleh karena itu, Megawati meminta seluruh jajaran yang baru dilantik segera bergerak dan menghasilkan kerja nyata.
“Sering kali orang berpikir kalau partai itu tidak memerlukan riset-riset. Padahal menurut saya, partai itu merupakan sebuah gerakan, riset itu adalah untuk sains,”kata Megawati.
Baca juga: Megawati Kritik Hukum Seperti Karet: Yang Salah Dibenarkan, Yang Benar Disalahkan
Dalam pelantikan tersebut, Megawati kembali mempercayakan Andi Widjajanto sebagai Kepala BARAK Pusat PDI-P masa bakti 2025-2030.
BARAK memiliki sejumlah tugas, antara lain membangun pusat data partai dan melakukan kajian terhadap proses legislasi nasional.
badan tersebut juga bertugas merumuskan kebijakan berbasis ideologi kerakyatan serta menyiapkan evaluasi dan transformasi organisasi partai.
Baca juga: Megawati Keluhkan Menu MBG ke Prabowo: Kok Makanannya Itu-itu Saja
1 juta sarjana menganggurIndonesia masih menghadapi persoalan pengangguran terdidik.
Sekitar 1 juta lulusan sarjana tercatat masih menganggur pada Februari 2026.
Jumlah tersebut menjadi bagian dari total 7,24 juta orang yang masuk dalam Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada periode yang sama.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah semakin luasnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Gelar sarjana yang selama ini dipandang sebagai bekal untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik ternyata belum menjamin lulusan perguruan tinggi terserap di pasar kerja.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)