Pediatric Science & Health Summit, Para Ahli Bahas Deteksi Dini untuk Kesehatan Anak

jpnn.com
13 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Kesehatan anak, khususnya pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau golden window, masih menjadi perhatian utama di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Berbagai tantangan kesehatan anak seperti gangguan kesehatan saluran cerna, alergi, hingga kekurangan zat besi dan anemia masih menjadi isu yang memerlukan pendekatan komprehensif berbasis sains dan praktik klinis terkini.

BACA JUGA: Strategi Visual & Animasi Dinilai Efektif Tingkatkan Literasi Kesehatan Anak

Hal ini menjadi fokus dalam Pediatric Science & Health Summit 2026 bertajuk "Advancing Science for Clinical Excellence" yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) dan IDAI Cabang Bali pada 7-9 Agustus 2026 di Nusa Dua, Bali.

Forum ini mempertemukan para pakar kesehatan anak dari berbagai disiplin ilmu dan negara untuk bertukar pengalaman serta perspektif terkait berbagai tantangan kesehatan anak.

BACA JUGA: 5 Makanan yang Baik untuk Kesehatan Anak

Selain itu, forum ini menjadi wadah untuk berbagi temuan penelitian terkini sekaligus mendorong pengembangan solusi inovatif yang didukung oleh keahlian ilmiah dan kemajuan teknologi.

Turut hadir memberikan keynote speech dalam Pediatric Science & Health Summit 2026, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD, Ph.D. yang menekankan bahwa investasi pada kesehatan otak dan perkembangan kognitif anak sejak 1.000 HPK merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa.

BACA JUGA: Edukasi Tentang Zat Besi sangat Penting untuk Jaga Kesehatan Anak

"Periode 1.000 HPK paling menentukan bagi kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Proses perkembangan anak pada periode tersebut sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi serta kemampuan otak untuk terus berkembang melalui mekanisme neuroplastisitas," ujar Taruna Ikrar.

Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan juga menunjukkan adanya hubungan erat antara saluran cerna dan otak melalui gut-brain axis.

Keseimbangan mikrobiota usus berperan penting dalam menjaga sistem imun sekaligus mendukung pematangan fungsi otak pada masa awal kehidupan.

Sebaliknya, gangguan keseimbangan mikrobiota atau disbiosis dapat memicu peradangan sistemik yang berdampak negatif terhadap neuroplastisitas dan fungsi neurologis, sebagaimana telah dibuktikan dalam berbagai penelitian klinis pada manusia.

Oleh karena itu, precision nutrition yang didukung mikrobiota usus yang sehat mampu menunjang pembentukan struktur otak, meningkatkan neuroplastisitas fungsional, serta menjaga regulasi sistem imun pada periode emas perkembangan anak.

"Namun, perlu ditekankan bahwa seluruh inovasi pangan maupun nutrisi, harus melalui proses penelitian, pembuktian ilmiah, komunikasi yang bertanggung jawab, serta harmonisasi regulasi sebelum dapat diterjemahkan menjadi produk maupun rekomendasi kesehatan masyarakat," sambungnya.

Sementara Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) mengatakan tema Pediatric Science & Health Summit 2026 tahun ini "Advancing Science for Clinical Excellence" mengingatkan  bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus selalu diterjemahkan menjadi pelayanan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia.

"Melalui forum ini, para dokter anak akan bersama-sama memperbarui pengetahuan mengenai growth faltering, precision biotics, tatalaksana alergi, serta pentingnya deteksi dini dan penanganan defisiensi besi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak," ujar dr Piprim.

Dia mengatakan kehadiran para ahli dari berbagai negara dalam forum ini menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan kunci dalam menjawab tantangan kesehatan anak yang semakin kompleks.

"Sebagai organisasi profesi, IDAI akan terus berkomitmen mendukung pendidikan kedokteran berkelanjutan, penelitian dan praktik klinis berbasis bukti, demi terwujudnya pelayanan kesehatan anak yang semakin berkualitas. Forum ini juga merupakan kesempatan untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, serta membangun kolaborasi yang bermanfaat bagi kemajuan pediatri di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara," tegasnya.

Salah satu topik yang dibahas sebagai fondasi penting bagi tumbuh kembang optimal anak adalah terkait dengan kesehatan saluran cerna, terutama pada 1.000 HPK.

Para ahli kesehatan menegaskan bahwa saluran cerna tidak hanya berperan dalam proses pencernaan dan penyerapan nutrisi, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan perkembangan sistem imun anak. S

ebab, di dalam saluran cerna terdapat sekitar 100 triliun mikrobiota yang dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna, fungsi daya tahan tubuh dan berbagai fungsi penting tubuh lainnya.

Oleh karena itu, keseimbangan mikrobiota usus menjadi faktor yang perlu diperhatikan sejak dini, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Salah satu caranya adalah melalui asupan biotik (prebiotik, probiotik atau sinbiotik) yang membantu menjaga keseimbangan bakteri di usus, sehingga mendukung kesehatan pencernaan dan penyerapan nutrisi anak.

Prof. Yvan Vandenplas, MD, Ph.D., Pakar Gastroenterologi dan Nutrisi Anak dari University Hospital Brussels (UZ Brussel), Belgia, menjelaskan bahwa peran biotik menjadi semakin penting dalam mendukung kesehatan anak secara menyeluruh.

“Mikrobiota usus memainkan peran sentral dalam penyerapan nutrisi, perkembangan sistem imun, hingga pertumbuhan anak. Asupan biotik seperti prebiotik, probiotik, dan sinbiotik dapat membantu mendukung keseimbangan mikrobiota usus sejak awal kehidupan. Secara khusus, prebiotik berperan sebagai nutrisi bagi bakteri baik yang dapat mendukung kesehatan saluran cerna, kenyamanan pencernaan, serta berkontribusi pada pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal,” jelasnya.

Dalam diskusi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Yvan Vandenplas, MD, PhD; Assoc. Prof. Marion M. Aw, MBBS, MMed, MRCP, FRCPCH, MD; serta Dr. Yi Jin, MD, para ahli menyoroti semakin banyaknya bukti ilmiah mengenai manfaat biotik bagi kesehatan usus antara lain dengan menjaga keseimbangan bakteri baik dalam saluran cerna.

Bakteri baik ini merupakan fondasi penting untuk perkembangan sistem imun pada anak.

Manfaat ini juga menjadi semakin relevan bagi kelompok anak tertentu, termasuk anak yang lahir melalui operasi caesar.

Beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang lahir secara caesar memiliki komposisi mikrobiota usus yang berbeda dibandingkan anak yang lahir secara normal, dan berisiko lebih tinggi mengalami ketidakseimbangan mikrobiota (disbiosis) yang dapat berpengaruh pada kesehatan pencernaan serta perkembangan sistem imunnya.

Sebab, kondisi disbiosis dapat meningkatkan risiko anak mengalami berbagai masalah kesehatan alergi (seperti asma) dan penurunan imunitas tubuh (seperti infeksi dan penyakit inflamasi).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sinbiotik berpotensi membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, yang memiliki peran penting dalam mendukung fungsi saluran cerna dan kesehatan anak secara keseluruhan. Salah satunya sinbiotik kombinasi FOS:GOS 1:9 dengan Bifidobacterium breve M16-V (B.breve M16-V) yang telah teruji secara klinis dan membantu memulihkan bakteri baik 27 kali lebih cepat pada anak yang lahir secara sesar.

Oleh karena itu, penting memastikan keseimbangan mikrobiota yang baik di saluran cerna untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak.

Selain kesehatan saluran cerna, isu alergi pada anak juga menjadi perhatian penting. Dalam sesi diskusi, Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), menekankan pentingnya diagnosis yang tepat dan dini dalam penanganan Alergi Protein Susu Sapi (ASS).

Keterlambatan diagnosis yang masih kerap terjadi dapat memperpanjang proses penanganan serta berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak.

“Dalam praktik klinis, masih terdapat penggunaan formula partially hydrolyzed (pHF) untuk penanganan alergi protein susu sapi padahal, berdasarkan berbagai panduan internasional, termasuk rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pHF tidak direkomendasikan untuk anak yang sudah mengalami alergi susu sapi tetapi masih dapat digunakan untuk pencegahan alergi susu sapi serta masalah saluran cerna lainnya yang tidak disebabkan oleh alergi susu sapi,’’ ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Zakiudin menekankan bahwa pilihan nutrisi harus mengikuti panduan berbasis bukti.

“Extensively hydrolyzed formula (eHF) direkomendasikan sebagai pilihan pertama dalam penanganan anak dengan kondisi alergi susu sapi ringan-sedang karena lebih dari 90% ditoleransi oleh pasien yang mengalami alergi susu sapi. Berbagai studi juga menunjukkan bahwa eHF berbasis whey lebih mudah dicerna, memiliki penerimaan rasa yang lebih baik, serta mampu membantu perbaikan gejala dalam waktu 10–12 minggu," ujarnya.

Sementara itu, pada kasus alergi berat, penggunaan AAF diperlukan untuk membantu mengurangi gejala secara cepat.

"Salah satu studi menunjukkan perbaikan gejala sejak hari ketiga. Selain itu, formula isolat protein soya dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pada kasus alergi ringan hingga sedang, dengan mempertimbangkan faktor keterjangkauan dan rasa serta bukti ilmiah yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak," jelasnya.

Forum Pediatric Science & Health Summit 2026 menegaskan bahwa tantangan kesehatan anak membutuhkan pendekatan berbasis bukti yang terintegrasi, mulai dari kesehatan saluran cerna, manajemen alergi, hingga pencegahan defisiensi zat besi dan gangguan pertumbuhan.

Dengan semakin berkembangnya bukti ilmiah, kolaborasi antara tenaga kesehatan, peneliti, dan industri menjadi kunci dalam menghadirkan solusi nutrisi yang efektif dan berbasis sains, guna mendukung tumbuh kembang optimal anak Indonesia. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Telkom Hadirkan Inovasi OCA Berbasis AI di DTI-CX 2026
• 3 jam lalu
0
thumb
Sumedang anggarkan minimal Rp100 miliar untuk perbaiki jalan pada 2027
• 20 jam lalu
0
thumb
Kukuhkan Pengurus MUI DKI, Pram: Semoga Jadi Role Model Kegiatan MUI di Mana Pun
• 22 jam lalu
0
thumb
Kapten Vietnam Siap Beri Teror ke Malaysia di Semifinal Piala AFF 2026, Bakal Main dengan Motivasi dan Determinasi Tinggi!
• 7 jam lalu
0
thumb
Artificial Ligament Jadi Pilihan Baru Rekonstruksi Cedera ACL
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.