Kurus Bukan Berarti Bebas Diabetes, Waspadai Kondisi Skinny Fat Beauty!

herstory.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
HerStory, Jakarta —

Obesitas kerap dipandang sebatas persoalan berat badan atau bentuk tubuh. Padahal, penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh, terutama di area perut, dapat berkaitan dengan gangguan metabolisme dan meningkatkan risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2.

Kaitan antara obesitas dan diabetes salah satunya terjadi melalui resistensi insulin. Insulin merupakan hormon yang diproduksi pankreas dan berperan membantu sel-sel tubuh menyerap serta mengolah gula darah menjadi energi.

Ketika seseorang mengalami obesitas, sel-sel lemak dapat mengeluarkan zat kimia yang membuat jaringan tubuh menjadi kurang responsif terhadap kerja insulin. Kondisi tersebut membuat pankreas harus bekerja lebih keras dengan memproduksi lebih banyak insulin untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, pankreas dapat mengalami kelelahan dan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan insulin tubuh. Penurunan efektivitas dan produksi insulin tersebut kemudian membuat glukosa menumpuk di dalam aliran darah hingga berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Kapan Obesitas Membutuhkan Terapi Obat?

Perubahan gaya hidup melalui pengaturan pola makan dan aktivitas fisik tetap menjadi pilar utama dalam penanganan obesitas. Namun, pada sebagian pasien, perubahan tersebut belum cukup memberikan hasil yang optimal.

Terapi obat dapat mulai dipertimbangkan ketika obesitas disertai penyakit penyerta, seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan gangguan kolesterol. Terapi juga dapat dipertimbangkan ketika perubahan gaya hidup yang telah dilakukan secara konsisten belum mampu menurunkan berat badan secara bermakna.

Meski demikian, penggunaan obat tetap harus berdasarkan indikasi medis dan berada di bawah pengawasan dokter. Terapi obat merupakan bagian dari penanganan secara komprehensif, bukan pengganti pola hidup sehat.

Terapi Diabetes Modern Juga Dapat Membantu Menurunkan Berat Badan

Perkembangan terapi diabetes dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan pilihan pengobatan yang tidak hanya ditujukan untuk mengendalikan kadar gula darah, tetapi juga dapat membantu menurunkan berat badan.

Salah satunya adalah kelompok GLP-1 receptor agonist serta terapi dual incretin. Golongan terapi ini bekerja dengan meningkatkan rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung, mengurangi nafsu makan, serta meningkatkan kerja hormon yang berperan dalam mengontrol kadar gula darah.

Terapi tersebut umumnya direkomendasikan bagi pasien diabetes tipe 2 yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, terutama ketika target pengendalian gula darah belum tercapai dengan terapi sebelumnya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terapi modern tersebut mampu memberikan penurunan berat badan yang signifikan sekaligus memperbaiki kadar HbA1c. Pada sebagian pasien, manfaat tersebut juga disertai dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan peningkatan kualitas hidup.

Tubuh Kurus Belum Tentu Bebas dari Risiko Diabetes

Di sisi lain, diabetes juga dapat dialami seseorang yang memiliki berat badan normal. Pasalnya, berat badan hanya menggambarkan keseluruhan massa tubuh yang terdiri dari otot, tulang, air, dan lemak.

Kondisi yang dikenal sebagai skinny fat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kondisi ini menggambarkan tubuh yang tampak kurus dari luar, tetapi menyimpan kadar lemak tubuh yang tinggi di dalam.

Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes DCC Eka Hospital BSD, dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, FINASIM, menjelaskan bahwa seseorang yang terlihat kurus belum tentu memiliki komposisi tubuh yang sehat. Hal tersebut ia sampaikan dalam media briefing di Bintaro, Tangerang Selatan, Sabtu (8/8/2026).

“Makanya kalau kita bicara obesitas itu bukan bicara cuma ukuran. Bukan kilogramnya. Bukan kilogram berat badan. Karena tadi ingat berat badan kita itu ada otot, ada tulang, ada air, ada lemak juga,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tubuh yang tampak kurus tidak selalu menunjukkan rendahnya kadar lemak. Seseorang dapat memiliki lemak tubuh yang tinggi meski berat badannya berada dalam kisaran normal.

“Nggak kelihatan, gemuknya nggak kelihatan, tapi ternyata gulanya naik, ternyata memang lemaknya tinggi. Ada istilah fit, fat inside, thin outside,” imbuhnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lemak, terutama yang menumpuk di sekitar organ dalam atau visceral fat, dapat mengganggu metabolisme tubuh.

Lingkar Perut Bisa Jadi Salah Satu Indikator

Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya mengandalkan angka timbangan untuk menilai kondisi tubuh. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah mengukur lingkar perut.

Lingkar perut dapat memberikan gambaran mengenai penumpukan lemak di area perut, termasuk lemak visceral yang berkaitan dengan gangguan metabolisme.

Bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai terapi penyakit metabolik yang berkaitan dengan obesitas, salah satu pilihan terapi yang tersedia adalah Tirzepatide. Terapi tersebut hadir di Diabetes Connection Care Eka Hospital Group.

Dengan layanan yang komprehensif dan pendampingan dokter berpengalaman, pasien dapat memperoleh rekomendasi terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Aplikasi KAI Access Down, Pembelian Tiket Kereta Api Sementara Offline
• 5 jam lalu
0
thumb
Setelah Disuntik Dana SAL, Kredit Himbara Melonjak Ditopang Sektor Konstruksi
• 6 jam lalu
0
thumb
Puan minta dampak ekonomi penutupan wisata Bromo mulai dihitung
• 19 jam lalu
0
thumb
Hati-Hati Usut Kasus Febrie Adriansyah, Kejagung: Yang Kita Hadapi Mantan Pendekar Hukum
• 4 jam lalu
0
thumb
Wamenag Minta Madrasah Perketat Perlindungan Anak, CCTV dan Sistem Pengaduan Diperkuat
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.