PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyiapkan pemanfaatan Sungai Enim sebagai sumber kebutuhan air untuk mendukung proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE), Muara Enim, Sumatera Selatan.
Vice President Hilirisasi PTBA, Dahlia Muchtar, mengatakan teknologi gasifikasi membutuhkan utilitas air dalam jumlah besar. Oleh karena itu, keberadaan Sungai Enim yang berjarak sekitar 3 kilometer dari area proyek menjadi salah satu faktor pendukung pengembangan fasilitas tersebut.
"Di situ khusus untuk Coal to DME ini kami menyediakan lahan sebesar 164 hektar dan semuanya 99% sudah bebas. Lalu di dekat situ karena memang teknologi gasifikasi ini sangat membutuhkan utilitas air yang sangat banyak, di situ juga ada sumber air sungai dari Sungai Enim itu jaraknya dengan jarak 3 kilometer dari plant," ujar Dahlia dalam gelaran HIPMI, dikutip Selasa (11/8/2026).
BACBIE sendiri berdiri di atas lahan seluas 585 hektare dan saat ini tengah diajukan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Dari total luas kawasan tersebut, PTBA mengalokasikan 164 hektare khusus untuk proyek Coal to DME yang telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).
PTBA merancang fasilitas Coal to DME dengan kapasitas produksi mencapai 1,4 juta ton DME per tahun. Untuk menghasilkan kapasitas tersebut, pabrik membutuhkan sekitar 7 juta ton batu bara setiap tahunnya.
Dalam prosesnya, kebutuhan air sangat penting demi menunjang proses produksi yang dilakukan mulai dari tahapan gasifikasi menjadi syngas. Selanjutnya, syngas tersebut diolah menjadi metanol dan kemudian diproses lebih lanjut menjadi DME.
Meski memiliki ketergantungan air dalam jumlah besar, Dahlia menyebut proyek Coal to DME memiliki kontribusi besar dari sisi energi, ekonomi, dan sosial.
"Untuk di sisi energi tentu ini akan menjadi substitusi impor LPG yang setara dengan satu juta ton. Ini nantinya tentu kita akan menghemat devisa kita lalu pemanfaatan sebanyak 140 juta ton batubara ini tentu akan menjadikan kemandirian energi bagi Indonesia," jelasnya.
Dari sisi ekonomi, proyek dengan nilai investasi sekitar US$2,56 miliar tersebut diproyeksikan menghasilkan penghematan devisa dan perbaikan neraca perdagangan sekitar Rp145 triliun. Selain itu, proyek ini juga diharapkan mendorong pertumbuhan industri di kawasan Tanjung Enim.
Pada aspek sosial, proyek Coal to DME diperkirakan menciptakan lapangan kerja besar, yakni sekitar 4 juta kesempatan kerja pada tahap konstruksi dan sekitar 1 juta lapangan kerja saat operasional.
Sementara itu, Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ke-18 Arcandra Tahar mengingatkan tantangan besar dalam pengembangan teknologi gasifikasi batu bara, salah satunya kebutuhan air yang sangat tinggi.
Menurutnya, proses gasifikasi membutuhkan air untuk menghasilkan syngas yang menjadi bahan baku lanjutan produksi DME.
Baca Juga: PTBA Ajukan BACBIE Jadi KEK untuk Percepat Hilirisasi Batu Bara
Baca Juga: PTBA Pasok 7,78 Juta Ton Batu Bara ke PLN pada Semester I 2026
"Kita butuh air yang banyak, kita injekkan, menjadi CO, karbon monoksida, tambah hidrogen. Itu namanya syngas, dari syngas itu bisa turun jadi sintetik top fuel, bisa menjadi LPG sintetik, dan lain-lain," ujar Arcandra dalam sebuah podcast YouTube, dikutip Kamis (23/10/2025).
Arcandra menilai kebutuhan air akan meningkat seiring dengan target produksi DME yang semakin besar. Ia mencontohkan, sejumlah wilayah di Amerika Serikat bahkan mempertimbangkan dampak penggunaan sumber air untuk proyek serupa.
"Sehingga di Amerika, teknologi ini juga dibawa ke Amerika, itu ada negara bagian yang para senatornya bilang, jangan di sini, nanti lake (danau) saya kering," lanjutnya.






Komentar (0)