Persaingan industri antariksa antara Cina dan perusahaan roket milik Elon Musk, SpaceX, menjadi sorotan. Hal ini setelah roket Long March 7A milik Cina gagal meluncur dan meledak pada Senin (10/8).
Elon Musk turut menanggapi kegagalan tersebut. Melalui unggahan di platform X, pendiri dan CEO SpaceX itu menulis bahwa industri roket sangat sulit. Pernyataan ini ditujukan saat Musk ketika mengomentari video atau unggahan mengenai kegagalan peluncuran roket Cina bernama Long March 7A.
"Saya berharap mereka cepat pulih," kata Musk dikutip dari Reuters, Senin (10/8).
Kegagalan roket Cina tersebut terjadi setelah Long March 7A yang membawa satelit ChinaSat-4B lepas landas dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang, Provinsi Hainan. Kantor berita pemerintah Cina, Xinhua, melaporkan roket mengalami anomali dalam penerbangan dan meledak sekitar pukul 20.02 waktu Beijing. Misi tersebut kemudian dinyatakan gagal, sementara penyebabnya masih dianalisis dan diselidiki.
Pakar antariksa Jonathan McDowell dari Durham University mengatakan rekaman peluncuran menunjukkan roket hancur total pada ketinggian dan kecepatan yang relatif rendah. Dengan kondisi tersebut, muatan maupun puing-puing roket diperkirakan tidak mencapai orbit.
Kegagalan ini menjadi perhatian karena Long March 7A sebelumnya memiliki catatan penerbangan yang relatif baik. Setelah mengalami kegagalan pada penerbangan perdananya pada Maret 2020, roket tersebut kembali beroperasi setahun kemudian dan mencatat lebih dari selusin penerbangan sukses sebelum insiden terbaru.
Kegagalan Long March 7A terjadi ketika Cina tengah memperkuat industri antariksa dan mengejar kemampuan SpaceX dalam bisnis peluncuran roket.
Sejumlah perusahaan swasta dan perusahaan milik negara Cina berlomba mengembangkan teknologi peluncuran untuk memperkecil kesenjangan dengan SpaceX, yang saat ini menjadi salah satu pemain dominan dalam industri peluncuran antariksa global.
SpaceX memiliki keunggulan besar melalui teknologi roket yang dapat digunakan kembali. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan menekan biaya dan meningkatkan frekuensi peluncuran.
Cina sendiri tidak hanya mengandalkan program antariksa pemerintah. Ekosistem perusahaan swasta di negara tersebut juga berkembang dengan mengembangkan roket dan teknologi peluncuran baru.
Persaingan tersebut membuat keberhasilan dan kegagalan setiap peluncuran menjadi semakin penting. Bagi Cina, kemampuan meluncurkan roket secara konsisten dan dengan tingkat keberhasilan tinggi menjadi salah satu kunci untuk membangun industri antariksa yang kompetitif secara global.
Long March 7A dalam penerbangan yang gagal tersebut membawa satelit ChinaSat-4B. Satelit ini disebut merupakan bagian dari seri satelit yang menyediakan layanan transmisi suara, data, radio dan televisi.
Satelit komunikasi orbit tinggi seperti ChinaSat-4B dapat digunakan untuk menjangkau wilayah yang luas, termasuk daerah terpencil yang berada di luar jangkauan jaringan komunikasi terestrial.Namun, karena roket gagal pada fase awal penerbangan, satelit tersebut tidak berhasil mencapai orbit.
Kegagalan ini berpotensi memicu pemeriksaan terhadap misi peluncuran Cina lainnya. Penyelidikan dapat diperluas apabila ditemukan masalah yang berkaitan dengan komponen yang digunakan bersama, proses manufaktur, maupun operasi di fasilitas peluncuran Wenchang.
Sementara itu, Cina tengah mempersiapkan sejumlah misi antariksa lainnya, termasuk misi eksplorasi Bulan Chang'e-7 yang dijadwalkan meluncur pada paruh kedua 2026.Chang'e-7 akan menjelajahi kutub selatan Bulan, termasuk kawasan kawah yang secara permanen berada dalam bayangan dan berpotensi mengandung es air.
Meski demikian, Chang'e-7 akan menggunakan roket Long March 5 yang berbeda dari Long March 7A. Karena itu, kegagalan Long March 7A belum berarti misi Bulan Cina tersebut otomatis ikut tertunda.





Komentar (0)