JAKARTA, KOMPAS – Proses pergantian kursi pucuk pimpinan Bank Indonesia terus berlanjut. Nama Destry Damayanti yang saat ini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara muncul sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia atas usulan Presiden.
Perkembangan ini memberikan sinyal keberlanjutan dari arah kebijakan Bank Indonesia (BI). Namun, pelaku pasar dan dunia usaha masih akan terus mencermati perkembangan dinamika kebijakan moneter ke depan.
Pengumuman mengenai proses pergantian gubernur BI tersebut disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi seusai menyerahkan surat presiden (surpres) kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Salah satu surpres itu berisi usulan daftar nama calon gubernur BI, termasuk calon pengganti Deputi Gubernur Senior BI dan calon Deputi Gubernur. Terkait dengan itu, Prasetyo menyatakan, Presiden hanya mengusulkan satu nama alias calon tunggal untuk mengisi kursi Gubernur BI definitif.
”Jadi, namanya tunggal, ya, satu nama, yaitu atas nama Ibu Destry Damayanti, yang sekarang menjabat sebagai pejabat sementara gubernur,” katanya kepada awak media.
Sebagaimana ketentuan peraturan yang berlaku, Destry akan mengikuti uji kelayakan dan kepatutan untuk mendapatkan persetujuan di Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Berdasarkan pengalaman sebelumnya, proses pemilihan hingga pengumuman di rapat paripurna memakan waktu 1-2 pekan.
Mengutip laman resmi BI, status Destry saat ini masih menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI. Sebelumnya, ia menduduki posisi sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia selama dua periode, yakni pada 2019–2024 dan 2024–2029.
Rekam jejak Destry mencakup kombinasi luas antara sektor swasta, pasar modal, dan lembaga negara. Ia pernah berkarier sebagai Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Staf Khusus Menteri Keuangan, hingga anggota Dewan Komisioner LPS.
Pasar keuangan menilai Destry memiliki kapabilitas paling siap untuk menjaga kelancaran transisi kepemimpinan dan mempertahankan kepercayaan investor serta kredibilitas bank sentral tanpa gejolak berarti.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Rahma Gafmi berpendapat, penunjukkan Destry sebagai calon tunggal gubernur BI memiliki dasar pada sejumlah keunggulan kompetitif dan rekam jejak yang matang di bidang moneter dan perbankan.
“Pasar keuangan menilai Destry memiliki kapabilitas paling siap untuk menjaga kelancaran transisi kepemimpinan dan mempertahankan kepercayaan investor serta kredibilitas bank sentral tanpa gejolak berarti,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (10/8/2026) ditutup di level Rp 17.795 per dolar AS, menguat 0,66 persen dibanding hari sebelumnya. Namun, kurs rupiah terhadap dolar AS masih mencatatkan depresiasi 6,4 persen secara tahun kalender.
Padahal, pada saat yang sama, indeks dolar AS terhadap mata uang utama global (DXY) menguat 0,21 persen ke level 99,75. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.365,37 atau melemah 0,69 persen.
Rahma menambahkan, penguatan rupiah di tengah tekanan keluarnya arus modal asing mengindikasikan persediaan valuta asing (valas) domestik masih memadai. Di sisi lain, faktor kepemimpinan Destry di masa transisi juga memberikan rasa aman bagi pelaku pasar valas.
“Pasar melihat sosok internal yang sangat menguasai instrumen pasar keuangan, sehingga ekspektasi spekulatif terhadap rupiah dapat diredam lebih cepat melalui sinyal kebijakan yang kredibel dan terukur. Demikian juga dengan IHSG yang melemah. Ini menandakan kehati-hatian investor domestik dan asing,” ujarnya.
Dengan kata lain, pasar masih cenderung bersikap wait and see atas kepastian definitif. Hal ini dipengaruhi oleh ketidakpastian politik di tingkat atas mengenai figur definitif di pucuk pimpinan BI dan dinamika tarik-menarik kepentingan fiskal-moneter tetap menciptakan kehati-hatian jangka pendek.
Apabila nantinya tongkat estafet kepemimpinan akan berada di bawah Destry secara definitif, menurut Rahma, arah kebijakan BI, baik moneter maupun makroprudensial, akan berjalan secara berkelanjutan. Namun, kebijakan tersebut akan cenderung bercorak teknokratis-pragmatis yang dalam.
“Proyeksi utama arah kebijakan BI ke depan, hemat saya adalah mengenai stabilitas nilai tukar sebagai panglima,” ujarnya.
Artinya, fokus BI akan tetap defensif dan proaktif dalam meredam volatilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Apalagi, latar belakang Destry cukup melekat dengan pasar keuangan, pendalaman pasar valas, serta instrumen stabilisasi rupiah dan operasi moneter.
Pengalaman menjadi penting, karena BI saat ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, dinamika perdagangan internasional, volatilitas nilai tukar, tekanan terhadap inflasi, hingga kebutuhan untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, koordinasi antara kebijakan fiskal-moneter sebagai bauran kebijakan, mengingat rekam jejak Destry yang pernah berada di lingkaran Kementerian Keuangan. Meski demikian, Rahma mengingatkan agar independensi bank sentral tetap dipertahankan di tengah tekanan politik.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, berpandangan, proses pergantian kepemimpinan BI dapat berjalan secara transparan, sesuai dengan peraturan perundangan-undangan, serta tetap menjaga kredibilitas institusi otoritas moneter.
“Pengalaman menjadi penting, karena BI saat ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, dinamika perdagangan internasional, volatilitas nilai tukar, tekanan terhadap inflasi, hingga kebutuhan untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
Dalam hal ini, pasar dan dunia usaha masih akan terus mencermati kredibilitas institusi dan kepastian arah kebijakan BI selama masa transisi. Kepastian ini terkait dengan arah suku bunga, stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, serta konsistensi komunikasi kebijakan.
Menurut Shinta, independensi BI menjadi pilar terpenting. Sebab, independensi bank sentral merupakan fondasi bagi setiap keputusan bank sentral secara kredibel berdasarkan mandat, kondisi ekonomi, dan asesmen risiko yang objektif.
Ia menambahkan, stabilitas makroekonomi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan yang berkelanjutan, sedangkan pertumbuhan sektor riil juga penting bagi ketahanan ekonomi. Maka dari itu, dibutuhkan bauran kebijakan yang kuat antara kebijakan moneter, fiskal, dan kebijakan sektor riil.
“Bagi dunia usaha, sinyal positif pada periode awal kepemimpinan Gubernur BI berikutnya adalah terjaganya kontinuitas kebijakan, komunikasi yang konsisten kepada pasar, inflasi yang terkendali, nilai tukar yang relatif stabil,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Perbankan Nasional (Perbanas) Hery Gunardi menyampaikan, pengumuman calon definitif Gubernur BI memberikan kepastian sekaligus memperkuat keyakinan industri perbankan terhadap keberlanjutan arah kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan nasional.
“Kepastian mengenai proses suksesi diharapkan dapat menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional, memperkuat confidence pelaku usaha, serta mendukung terciptanya iklim keuangan dan perbankan yang stabil,” katanya secara tertulis.
Ke depan, industri perbankan berharap sinergi antara BI, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan seluruh pemangku kepentingan sektor keuangan dapat terus diperkuat. Koordinasi kebijakan ini akan menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
BCA senantiasa mendukung upaya pemerintah dan regulator dalam memperkuat industri jasa keuangan. Kami juga berkomitmen menjalankan bisnis dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dan menerapkan tata kelola manajemen risiko yang disiplin.
Hery menambahkan, industri perbankan siap mendukung BI dalam menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan sekaligus memperkuat peran sektor perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi lain, EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Hera F Haryn menambahkan, BCA menghormati seluruh tahapan proses pemilihan Gubernur BI yang saat ini sedang berlangsung, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku.
“BCA senantiasa mendukung upaya pemerintah dan regulator dalam memperkuat industri jasa keuangan. Kami juga berkomitmen menjalankan bisnis dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dan menerapkan tata kelola manajemen risiko yang disiplin,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Santoso Liem, turut menyambut positif proses pergantian pucuk pimpinan BI. Dalam hal ini, pengumuman mengenai usulan Presiden terhadap Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI.
Menurutnya, perkembangan tersebut memberikan sinyal bahwa arah kebijakan BI cenderung berkesinambungan, termasuk dalam kebijakan sistem pembayaran. Di sisi lain, bauran kebijakan pun dapat dijalankan secara komprehensif.
“Saya percaya bahwa Ibu Destry cukup komprehensif dan berkesinambungan untuk langkah-langkah BI berikutnya. Makropudensial akan tetap diperlihara prundent, tetapi juga menjaga sistem pembayaran ini tetap solid,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.
Ia berharap, Gubernur BI selanjutnya juga dapat melanjutkan berbagai inovasi dalam kebijakan sistem pembayaran. Hal ini salah satunya telah tertuang dalam dokumen Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030.






Komentar (0)