Ringkasan Berita:
- Danang Purwanto, Komandan Pos Unit Tongas Damkar Kabupaten Probolinggo, sudah sembilan hari berada di kawasan Bromo untuk membantu pemadaman karhutla.
- Selama bertugas, Danang belum sempat pulang dan hanya dapat melepas rindu kepada keluarga melalui video call.
- Personel Damkar bekerja bergantian dengan sistem sif untuk menjaga stamina sekaligus memastikan pemadaman terus berjalan.
- Di tengah medan terjal dan risiko kebakaran, Danang dan rekan-rekannya tetap bertahan dengan harapan api Bromo segera padam.
Probolinggo (beritajatim.com) – Di saat sebagian orang bisa tidur nyenyak di rumah dan berkumpul bersama keluarga, Danang Purwanto justru masih bertahan di tengah kawasan Gunung Bromo yang dilanda kebakaran. Sudah sembilan hari ia meninggalkan rumah.
Bukan karena tak ingin pulang. Bukan pula karena lupa pada keluarga. Namun, kobaran api yang belum sepenuhnya padam membuat langkahnya masih tertahan di medan kebakaran.
Danang merupakan Komandan Pos Unit Tongas, Damkar Kabupaten Probolinggo. Sejak kebakaran mulai terjadi pada Selasa pekan lalu, ia bersama personel lainnya terus berada di lapangan untuk membantu proses pemadaman.
Hingga Selasa (11/8/2026), ia mengaku belum sempat kembali ke rumah. Sembilan hari berada jauh dari keluarga tentu bukan perkara mudah.
Di tengah lelah setelah seharian berjibaku memadamkan api, ada satu hal sederhana yang selalu dilakukan Danang pada malam hari, yakni menghubungi keluarga melalui video call.
“Semoga lekas padam. Kalau dukanya ya kita jauh dari keluarga,” ujar Danang.
Bagi Danang, beberapa menit berbicara dan melihat wajah keluarga melalui layar ponsel menjadi obat di tengah rasa rindu yang terus menumpuk.
“Jadi selesai pemadaman, saat malam, kita memberikan waktu sedikit untuk video call keluarga di rumah. Setidaknya memberi kabar kalau kita saat ini baik-baik saja. Biar keluarga di rumah tidak khawatir,” tuturnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan beratnya perjuangan yang harus dijalani para petugas di garis depan kebakaran.
Ketika api masih menyala, mereka harus tetap berada di lokasi. Ketika tubuh mulai lelah, tugas belum selesai. Dan ketika malam tiba, keluarga hanya bisa ditemui melalui layar ponsel.
“Saya di sini sudah sejak awal terbakar, Selasa minggu lalu, hingga saat ini belum sempat pulang. Jadi sudah sekitar sembilan hari,” ungkapnya.
Di medan yang penuh risiko itu, Danang tidak bekerja seorang diri. Personel Damkar diterjunkan secara bergantian untuk menjaga stamina sekaligus memastikan proses pemadaman terus berjalan.
Dalam satu pos, terdapat satu komandan pos dan dua personel. Mereka menjalankan sistem pergantian dengan pola sif satu hari bertugas dan satu hari bergantian.
Namun, pergantian sif tidak serta-merta menghapus rasa lelah. Medan yang sulit, kondisi kebakaran yang belum sepenuhnya terkendali, serta jauhnya jarak dari keluarga menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, Danang dan rekan-rekannya memilih tetap bertahan.
Harapannya hanya satu: api segera padam.
“Semoga lekas padam,” katanya.
Di balik kepulan asap, panas api, dan medan terjal Gunung Bromo, ada manusia-manusia yang juga memiliki keluarga yang menunggu di rumah.
Ada anak yang menunggu ayahnya pulang. Ada keluarga yang setiap malam menanti kabar. Dan ada rasa khawatir yang hanya bisa sedikit diredakan melalui sebuah panggilan video.
Sembilan hari telah berlalu. Namun, bagi Danang, tugas belum selesai. Selama api masih menyala, ia dan para petugas lainnya masih harus bertahan.
Meninggalkan sementara orang-orang yang mereka cintai, demi memastikan api tidak semakin meluas dan kawasan Bromo dapat kembali aman.
Di situlah sisi lain perjuangan menghadapi karhutla Bromo terlihat: bukan hanya tentang api yang harus dipadamkan, tetapi juga tentang rindu yang harus ditahan. [rap/beq]





Komentar (0)