Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menilai perubahan cakupan data survei menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan indeks literasi dan inklusi keuangan syariah pada 2026.
Menurutnya, pengambilan data tahun ini dilakukan dengan cakupan yang lebih luas, yakni hingga tingkat nasional dan provinsi. Sementara, survei pada tahun sebelumnya hanya mencakup tingkat nasional.
”Mungkin kita lihat coverage-nya (data), karena mungkin waktu itu kan levelnya masih nasional. Sekarang kan kita sudah lebih komprehensif sampai tingkat provinsi. Cakupan daerahnya kelihatannya ya,” kata Amalia, di Jakarta, Senin.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan syariah sebesar 43,07 persen, turun dibandingkan tahun lalu yang sebesar 43,42 persen.
Penurunan juga terjadi pada indeks inklusi keuangan syariah yang tercatat sebesar 13,24 persen pada 2026, dibandingkan 13,41 persen pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, Amalia memandang diperlukan analisis lebih lanjut guna mengetahui faktor pasti yang mempengaruhi perubahan indeks literasi dan inklusi keuangan syariah tersebut.
“Nanti perlu kita bedah supaya apple to apple gitu ya,” ujarnya.
Adapun secara keseluruhan, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 mencatat indeks literasi keuangan masyarakat sebesar 69,57 persen, naik 2,93 poin persentase dibandingkan 2025 yang sebesar 66,64 persen.
Sedangkan, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen pada 2026, naik 0,87 poin persentase dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya.
Baca juga: Literasi dan jalan panjang menciptakan tenaga kerja berkualitas
Baca juga: BPS: Indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat meningkat di 2026
Menurutnya, pengambilan data tahun ini dilakukan dengan cakupan yang lebih luas, yakni hingga tingkat nasional dan provinsi. Sementara, survei pada tahun sebelumnya hanya mencakup tingkat nasional.
”Mungkin kita lihat coverage-nya (data), karena mungkin waktu itu kan levelnya masih nasional. Sekarang kan kita sudah lebih komprehensif sampai tingkat provinsi. Cakupan daerahnya kelihatannya ya,” kata Amalia, di Jakarta, Senin.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan syariah sebesar 43,07 persen, turun dibandingkan tahun lalu yang sebesar 43,42 persen.
Penurunan juga terjadi pada indeks inklusi keuangan syariah yang tercatat sebesar 13,24 persen pada 2026, dibandingkan 13,41 persen pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, Amalia memandang diperlukan analisis lebih lanjut guna mengetahui faktor pasti yang mempengaruhi perubahan indeks literasi dan inklusi keuangan syariah tersebut.
“Nanti perlu kita bedah supaya apple to apple gitu ya,” ujarnya.
Adapun secara keseluruhan, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 mencatat indeks literasi keuangan masyarakat sebesar 69,57 persen, naik 2,93 poin persentase dibandingkan 2025 yang sebesar 66,64 persen.
Sedangkan, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen pada 2026, naik 0,87 poin persentase dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya.
Baca juga: Literasi dan jalan panjang menciptakan tenaga kerja berkualitas
Baca juga: BPS: Indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat meningkat di 2026






Komentar (0)