Semarang dikenal sebagai kota dengan kekayaan budaya dan sejarah yang masih terjaga hingga kini. Di antara berbagai destinasi wisata yang dapat dikunjungi, Kelenteng Tay Kak Sie menjadi salah satu ikon budaya yang menarik perhatian.
Berlokasi di Gang Lombok, kawasan Pecinan Semarang, kelenteng ini dikenal sebagai kelenteng terbesar sekaligus salah satu yang terindah di ibu kota Jawa Tengah.
Berdiri megah dengan arsitektur khas Tiongkok, Kelenteng Tay Kak Sie bukan hanya menjadi tempat ibadah umat Konghucu, Buddha, dan Tao, tetapi juga ruang untuk mengenal sejarah panjang serta budaya Tionghoa yang telah mengakar di Semarang selama berabad-abad.
Hingga kini, Kelenteng Tay Kak Sie masih aktif menjadi pusat perayaan dan upacara keagamaan yang mengundang pengunjung dari berbagai latar belakang etnis, serta menjadi salah satu daya tarik wisata bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Semarang.
Di balik keindahan patung dan ornamennya, kelenteng ini sendiri menyimpan sejarah panjang sejak tahun 1746. Dikutip dari laman Indonesia Kaya, Kelenteng Tay Kak Sie mulanya didedikasikan untuk pemujaan Dewi Kwan Im Po Sat, Dewi Welas Asih. Namun, seiring berjalannya waktu, kelenteng ini berkembang menjadi tempat pemujaan berbagai dewi-dewi dari aliran Tao dan Konfusianisme.
Pembangunan kelenteng berlangsung sejak 1746 hingga 1772. Nama "Tay Kak Sie" yang berarti "Kuil Kesadaran Agung" diberikan oleh Kaisar Dao Guang dari Dinasti Qing yang memerintah pada periode 1821–1850.
Daya tarik utama Kelenteng Tay Kak Sie terletak pada arsitekturnya yang masih mempertahankan gaya tradisional Tiongkok. Beragam ornamen khas menghiasi bangunan, mencerminkan perpaduan nilai-nilai Buddha, Tao, dan Konfusianisme.
Salah satu yang paling terlihat, atap klenteng berhiaskan sepasang naga sedang memperebutkan matahari. Naga dalam mitologi Tionghoa adalah binatang yang melambangkan keadilan, kekuatan, dan penjaga barang-barang suci. Sepasang naga yang berada di atap itu pun menjadi simbol penjaga kelenteng dari pengaruh negatif.
Jika dibandingkan dengan kelenteng lain yang berada di Semarang, kelenteng ini punya konstruksi gaya Tiongkok yang begitu kental. Hal ini terlihat pada bagian tiang penahan bangunan yang terbuat dari kayu berbentuk segitiga.
Sistem penahan bingkai berbentuk segitiga tersebut atau dalam bahasa Mandarin disebut dou-gong ini difungsikan untuk menahan kasa-kasa bagian atap depan, mirip bangunan kelenteng pada abad 19.
Selain arsitektur, Tay Kak Sie juga dikenal sebagai kelenteng dengan koleksi patung dewa paling lengkap di Pecinan Semarang. Kelenteng ini memiliki 29 patung dewa yang ditempatkan di berbagai ruang pemujaan. Oleh karena itu, Tay Kak Sie juga disebut sebagai kelenteng besar.





Komentar (0)