VIVA –Mimpi merupakan hal yang umum dialami seseorang saat tidur. Bagi sebagian orang, mimpi dianggap sekadar bunga tidur dan tidak perlu terlalu dipikirkan. Namun, bagi sebagian lainnya, mimpi justru menimbulkan rasa penasaran sehingga mereka bertanya-tanya tentang arti atau makna di baliknya.
Namun bagaimana Islam melihat ini? Apakah setiap mimpi itu memiliki makna tersendiri? Terkait hal itu, Buya Yahya angkat bicara. Dijelaskannya bahwa mimpi sendiri ada dua katagori yakni mimpi jelek dan mimpi baik.
"Mimpi ada dua, mimpi jelek dan mimpi baik. Sejelek-jelek dalam mimpi, sebaik-baik waktu bangun. Sebaik-baik dalam mimpi, sejelek-jelek waktu bangun," kata beliau dikutip dari tayangan YouTube Buya Yahya Official, Minggu 9 Agustus 2026.
Buya Yahya juga memberikan penjelasan bahwa mimpi baik sendiri berasal dari Allah SWT. Sebaliknya, mimpi jelek berasal dari syaiton.
"Anda mimpi dikejar harimau waktu bangun bilang alhamdulillah cuma mimpi. Mimpi ya mimpi jangan terlalu berurusan dengan mimpi. Tapi kalau mimpi jelek itu dari syaiton, kalau mimpi baik dari Allah. Mimpi baik itu kabar gembira Anda ketemu orang soleh, dalam mimpi Anda melakukan solat berdzikir, melihat Ka'bah, itu mimpi baik," sambungnya.
Buya Yahya juga mengingatkan bahwa ketika seseorang mengalami mimpi buruk, misalnya bermimpi melihat anaknya jatuh, ada sejumlah anjuran dari Nabi Muhammad SAW yang dapat dilakukan. Di antaranya adalah meludah ringan ke arah kiri, membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, serta memohon perlindungan kepada Allah SWT.
"Kalau Anda mimpi jelek melihat sesuatu yang menakutkan Anda, bikin Anda ketakutan, maka itu mimpi jelek. Kalau mimpi jelek pendidikan dari Nabi hendaknya dia meludah ke kiri sambil membaca surat Al Ikhlas, surat An-Nas dan memohon audzubillah himinasyaitonirrajim meminta perlindungan dari Allah, kemudian noleh ke kiri kemudian membaca Surat Al Falaq dan An Nas kemudian sambil meludah tanpa keluar ludahnya," kata dia.
Ia kemudian mengingatkan agar umat Muslim tidak menghubungkan mimpi buruk dengan kejadian yang akan terjadi di dunia nyata.
"Setelah itu nggak usah mikirin, mimpi itu nggak kenyataan. Mimpi jelek dihubung-hubungkan dengan alam nyata, pusing nanti. Misalnya mimpi anaknya jatuh, yasudah itu mimpi nggak usah dibawa ke alam nyata. Kalau mimpi jelek nggak usah diceritakan kepada siapapun, Nabi melarang itu. Tapi kalau mimpi baik bersyukur kepada Allah," katanya.






Komentar (0)