Kapal tanker perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA) menjadi sasaran penyerangan militer Iran di Selat Hormuz. Pihak UEA mengatakan Iran telah melanggar perjanjian internasional.
Dilansir Al Jazeera, Sabtu (8/8/2026), serangan itu terjadi pada Jumat (7/8) waktu setempat. Kapal tanker milik ADNOC ditembak oleh militer Iran saat melintas di Selat Hormuz.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817. Isi resolusi itu menekankan kebebasan navigasi dan menolak penargetan kapal komersial di perairan internasional.
"Kementerian menegaskan bahwa penargetan pelayaran komersial serta penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan atau pemerasan ekonomi merupakan tindakan pembajakan oleh Garda Revolusi Iran dan menimbulkan ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan beserta penduduknya, serta terhadap keamanan energi global," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA.
Serangan terbaru Iran di Selat Hormuz itu juga membuat Arab Saudi meradang. Saudi menilai tindakan telah mengancam keamanan dan keselamatan pelayaran maritim serta keamanan pasokan energi global.
"Kerajaan menganggap Iran bertanggung jawab atas konsekuensi dari agresi yang terus dilakukannya dan menuntut agar Iran segera menghentikan pelanggaran-pelanggaran ini demi menjaga keamanan, stabilitas, dan keselamatan kawasan," bunyi keterangan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyampaikan kecaman dan penolakan keras atas serangan itu. Arab Saudi mengatakan tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
"Kerajaan menegaskan kembali solidaritas penuhnya dengan negara sahabat Uni Emirat Arab serta dukungannya terhadap segala langkah yang diambil UEA untuk menjaga kedaulatan dan sumber dayanya," tambah pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.
(ygs/wnv)






Komentar (0)