Cerita Orang-Orang Ma Chung: Menyebar Dampak, Menyemai Manfaat

beritajatim.com
18 jam lalu
Cover Berita

Malang (beritajatim.com) – Semerbak harum biji kopi yang diseduh memenuhi ruangan Vosco Coffee di kawasan Jalan Borobudur No. 27A, Mojolangu, Kota Malang. Kedai yang telah buka sejak pukul 08.00 pagi itu perlahan mulai dipadati pelanggan. Seorang barista tengah sibuk meracik espresso di balik meja bar, melayani pesanan tamu yang datang bergantian.

Menjelang pukul 11.00 WIB, owner Vosco Coffee, Hendri Suryo Leksono melangkah mendekat. Ia menyapa ramah, melepas penat, lalu mengambil posisi duduk untuk membuka cerita. Kedai ini telah dirintis sejak 14 tahun lalu, tepatnya pada 2012 sewaktu Hendri masih menempuh studi di semester empat Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Ma Chung.

Hendri Suryo Leksono, alumni Universitas Ma Chung sekaligus owner Vosco Coffee dan Ketua BPC HIPMI Kota Malang saat diwawancarai. (Foto: Dani Alifian)

Kini, terhitung sudah 12 tahun lamanya pria kelahiran 1992 tersebut menyelesaikan studinya dari Universitas Ma Chung. Namun, 12 Nilai Dasar Ma Chung terus membersamai langkahnya dalam mengarungi getir, pahit, manis, hingga garamnya dunia kewirausahaan. Tempaan nilai-nilai itu membawanya menjadi salah satu figur penting dalam panggung usaha di Kota Malang, yang dipuncaki pada pertengahan tahun 2025 saat ia sah dikukuhkan sebagai Ketua BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Malang.

Bagi Hendri, Vosco Coffee bukanlah sekadar tempat menyeduh biji kopi. Kedai bersuasana hangat di kawasan Jalan Borobudur Nomor 27A, Mojolangu Kota Malang itu adalah muara tempat ia menanam benih awal sebelum gurita bisnisnya menjangkau berbagai lini, mulai dari jaringan bengkel otomotif, klinik pengobatan hewan, produsen es krim khusus anjing, hingga lembaga pengelolaan sampah. Dari kedai kopi sederhana ini, narasi mengenai kewirausahaan yang berdampak nyata bagi masyarakat bermula.

Aset Antik dan Sebuah Keberanian

Langkah kaki Hendri memasuki dunia usaha food and beverage (F&B) pada 2012 silam didorong oleh kombinasi antara kenangan emosional keluarga dengan keberanian praktis. Jauh sebelum tren kedai kopi kekinian merambah kawasan Sudimoro maupun di sudut Kota Malang, industri kopi independen masih memegang cetak biru yang amat sederhana.

Area meja bar dan interior Vosco Coffee di kawasan Jalan Borobudur, Kota Malang, yang hangat dan tenang. (Foto: Dani Alifian)

“Salah satu landasan terbesar saya memilih industri ini adalah kenangan kakek saya,” tutur Hendri sembari menatap deretan peninggalan kayu antik di sudut Vosco Coffee. Kakeknya dahulu mengelola sebuah warung sate ternama bernama Warung Sate Marhen sejak tahun 1960 hingga mengembuskan napas terakhir pada 2006. Nama Marhen yang bernuansa historis-kiri itu menjadi saksi perjalanan kuliner keluarga selama hampir setengah abad.

Ketika sang kakek berpulang pada 2006 dan warung tutup tanpa penerus, aset berupa meja dan kursi kayu padat menumpuk begitu saja di gudang keluarga. Saat Hendri menginjak semester empat di Universitas Ma Chung pada 2012, ia memutar otak agar aset tersebut tidak terbuang sia-sia.

“Tahun 1960, kursi dan meja ini sudah dipakai bekerja di warung sate kakek. Ketika saya mau memulai bisnis, modal saya terbatas. Tidak mungkin kursi antik ini saya pakai buat buka bengkel otomotif. Maka saya cat ulang, saya tata ulang, dan ternyata melahirkan estetika old money style. Saya memanfaatkan apa yang ada agar tidak mengeluarkan modal awal yang terlalu besar,” kenang Hendri saat diwawancarai pada Senin (2/8/2026)

Di balik keputusan nekat mendirikan Vosco Coffee di tengah padatnya jadwal kuliah, ada dorongan akademis yang transformatif. Ia mengenang bahwa Universitas Ma Chung, perkuliahan tidak mengurung mahasiswa dalam teori semata. Dosen di sana selalu menekankan bahwa keilmuan bisnis hanya akan bernyawa jika dipraktikkan langsung di lapangan.

“Universitas Ma Chung memberi ruang inovatif. Mahasiswa dapat menyelesaikan studi melalui jalur kelulusan berbasis proyek (project-based graduation) tanpa skripsi konvensional,” ujarnya sembari menceritakan bahwa proyek Vosco Coffee inilah yang mengantarkan Hendri merengkuh gelar sarjananya pada 2014.

Demi memperdalam ilmunya, Hendri bahkan sempat mengambil kursus khusus di Universitas Bellcafe Jakarta untuk mempelajari seluk-beluk seduhan kopi secara komprehensif. Keberanian tersebut terbayar manis. Vosco Coffee melampaui fase kritis usahanya dan bertahan melintasi berbagai gelombang dinamika zaman.

Ketika ditanya mengenai resep utama keberhasilannya membawa bisnis tumbuh meluas, Hendri tak segan membagikan lima tips utama wirausaha. Di atas segalanya, ia menempatkan konsistensi sebagai pondasi yang tak tergoyahkan.

“Bagi saya, kunci utama kesuksesan adalah konsisten. Tetap berangkat walau hujan deras, tetap berangkat walau kedai sepi, tetap berangkat walau penilaian orang jauh dari harapan. Waktu adalah satu-satunya pembukti konsistensi, sehingga tidak ada kata instan dalam kamus pengusaha,” tegasnya.

Hendri tak menampik bahwa keberuntungan (luck) atau hak istimewa (privilege) kerap kali mempercepat jalan seseorang. Namun, keberuntungan itu sendiri sejatinya adalah irisan dari proses panjang dan interaksi sosial yang terjalin erat.

“Keberuntungan bisa memangkas waktu konsistensi. Tapi kalau kita gali lebih dalam, tidak ada hal di dunia ini yang kita kerjakan benar-benar sendirian. Selalu ada faktor bantuan dari luar, ada ekosistem yang saling menyokong,” tambahnya.

Prinsip ekosistem inilah yang menjadi benang merah perjalanan bisnis Hendri. Selepas Vosco stabil, usahanya menggurita ke lini bisnis otomotif melalui Bengkel Borobudur di kawasan Sudimoro dan Bengkel Katarun.

Di bidang kesehatan hewan, ia mendirikan Klinik Hewan Okami di Sudimoro Malang serta cabang di Jalan Jenderal Sudirman Surabaya. Hendri juga merambah pabrik es krim khusus anjing berlabel Geladocs, berpartner di Pavilion Dok Cafe Jalan Langsep, merintis lini F&B Afel di Jalan Ciliwung dan Jalan Bidar, hingga mendirikan yayasan pengolahan sampah iLiterless.

Meski bisnisnya lintas sektor, Hendri memandangnya dari sudut pandang helikopter (helicopter view). “Passion saya adalah membangun ekosistem. Mempertemukan banyak hal dan mengkoneksikan banyak orang. Ketika ekosistemnya tumbuh, dampak sosialnya jauh lebih luas daripada hanya berfokus pada satu kedai,” jelasnya.

Langkah keterlibatannya dalam dunia politik sebagai Bendahara Partai Golkar Kota Malang pun dipandangnya sebagai jembatan untuk memperbesar dampak sosial tersebut. Ketika bisnis F&B acapkali disalahartikan atau dilabeli tuduhan miring sebagai wahana pencucian uang oleh awam karena perputaran kas kecilnya yang cepat, Hendri membuktikan integritas bisnisnya melalui tata kelola yang profesional dan beretika.

Saat pandemi COVID-19 melanda misalnya, lantas memaksa Vosco sempat shutdown sementara, ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang diserap Hendi dari kampus pun kerap menjadi juru selamat. Ia mengaku hard skill terbesar dari MSDM adalah belajar memanusiakan manusia. Karyawan kita manusia, supplier kita manusia, dan pelanggan kita adalah manusia.

“Di Vosco, Anda akan menemukan orang yang sama, duduk di jam yang sama, memesan kopi yang sama selama 12 tahun. Mereka bukan sekadar konsumen, melainkan kawan yang merawat ekosistem ini,” puji Alumni Universitas Ma Chung yang telah melalangbuana di dunia wirausaha Malang Raya itu.

Nilai-Nilai Abadi dari Klinik 

Jejak wirausaha berdampak yang disemai Universitas Ma Chung juga dapat ditekuri dari sosok Bagus Fendi Sudartha. Ketika pertama kali belajar di kampus Ma Chung pada 2008 dan lulus pada 2012, Bagus Fendi kemudian melangkah mantap mendirikan Haven Light Clinic di Jalan Buring No. 29 Kota Malang pada tahun 2018.

Haven Light Clinic di Jalan Buring No. 29 Kota Malang, salah satu lini bisnis pelayanan kesehatan yang dirintis alumni Universitas Ma Chung, Bagus Fendi Sudartha. (Foto: Dok. Haven Light)

Kini, kiprah wirausaha Bagus Fendi di bidang kesehatan dan estetika medis telah berkembang pesat. Di bawah naungannya, berdiri jaringan klinik ternama seperti Glow Plus Clinic cabang Turen (Jalan Gatot Subroto No. 104), Glow Plus Clinic Sawojajar (Jalan Danau Toba E1 No. 31), Glow Plus Clinic Kepanjen (Jalan Raya Panggung Rejo), hingga Klinik THT Terpadu Malang di Jalan Cengkeh No. 63.

Ia mengaku bahwa selama menjalani berbagai lini usaha senantiasa mengamalkan pilar karakter Universitas Ma Chung. Dari 12 Nilai Dasar Ma Chung, pria yang kini berusia 36 itu menyaring empat nilai utama yang paling membentuk karakternya, yakni gigih, terpercaya, orisinal, dan bertanggung jawab. Saat membangun Haven Light Clinic dan Klinik THT Terpadu, Bagus Fendi mengaku bahwa proses itu merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan fondasi karakter teguh.

Pertama, gigih. Bisnis bukanlah soal hasil instan, melainkan ketahanan menghadapi penolakan, tantangan, dan kegagalan. Kedua, terpercaya. Kejujuran dalam berpikir dan bertindak adalah modal utama agar kemitraan dan hubungan dengan klien berlangsung langgeng.

Ketiga, orisinal. Kuliah di Ma Chung mendorong mahasiswa menciptakan solusi unik, bukan sekadar mengekor tren (copy-paste). Keempat, bertanggung jawab, sebab kepercayaan pasien adalah aset termahal dalam bisnis jasa kesehatan.

Bagus Fendi mengingat kembali semasa kuliah, teori dan praktik dipadukan melalui mata kuliah Kewirausahaan (KWU). Bahkan, tugas akhir yang disusunnya saat hendak lulus dari Universitas Ma Chung adalah sebuah business plan bertajuk Paradiso Medical Spa.

“Bisnis plan Paradiso Medical Spa yang saya tulis saat kuliah di Ma Chung sejatinya adalah cetak biru versi tertulis dari Haven Light Clinic yang saya jalankan hari ini. Kampus mengajarkan saya cara berpikir sistematis, menganalisis pasar, mengelola risiko, dan mengeksekusi ide secara nyata,” ungkap Bagus.

Dampak sosial dari jaringan kliniknya tidak berhenti pada sekadar keuntungan finansial. Jaringan kliniknya turut aktif mengadakan program bakti sosial berupa pemeriksaan maupun skrining THT gratis bagi anak sekolah juga warga di berbagai daerah terpencil. Skrining ini kerap kali menemukan indikasi gangguan pendengaran dini pada siswa sekolah dasar yang sebelumnya luput dari perhatian orang tua.

“Jangan terlalu takut memulai hanya karena merasa belum siap. Bangun kebiasaan belajar yang terbuka, perluas jejaring teman kuliah karena mereka kelak bisa menjadi mitra usahamu, dan pastikan setiap bisnismu diniatkan untuk memberi manfaat nyata bagi sesama,” pesan Bagus Fendi kepada mahasiswa muda yang hendak mengikuti jejak wirausaha.

Generasi Baru Ma Chung Merintis Kesuksesan

Dampak ekosistem Universitas Ma Chung tak hanya dimiliki oleh alumni. Di kampus hari ini, benih wirausaha muda terus bermekaran. Salah satunya adalah Sumgo (Dimsum On The Go), unit bisnis inovatif yang digagas oleh tim mahasiswa beranggotakan Aisyah (Icha), Delon, Hansen, Rafael, dan Vincen.

Tim mahasiswa Universitas Ma Chung penggagas bisnis Sumgo (Dimsum On The Go) saat memasarkan produk Sate Dimsum kreasi mereka. Foto: Istimewa)

Berawal dari pengamatan terhadap lanskap kuliner Kota Malang yang dipenuhi kedai dimsum konvensional, tim Sumgo melihat adanya celah. Dimsum sangat disukai masyarakat, namun penyajiannya cenderung monoton. Di sisi lain, sate adalah makanan kebanggaan nasional yang sangat praktis dan lekat dengan lidah warga.

“Kami mencoba mengawinkan dua konsep tersebut menjadi Sate Dimsum—sebuah terobosan yang belum pernah ada di Malang. Kurikulum kewirausahaan di Ma Chung yang berjalan bertahap di tiap semester membimbing kami mulai dari riset pasar, uji coba saus, desain kemasan praktis, hingga validasi konsumen,” terang Icha mewakili tim.

Keberhasilan Sumgo menembus kompetisi bergengsi Astra Motor Academy (AMA) 2026 menjadi bukti sahih bahwa karya mahasiswa Ma Chung memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional. Melalui pendampingan dosen yang bertindak sebagai mentor wirausaha, Sumgo bertransformasi dari sekadar tugas kuliah menjadi entitas bisnis yang memiliki identitas merek kuat dan strategi pemasaran digital yang matang.

Inovasi Sumgo ini mencerminkan secara sempurna semangat Transformative Convergence yang diusung Universitas Ma Chung: mengintegrasikan disiplin ilmu, kreativitas kuliner, dan kolaborasi tim untuk melahirkan solusi ekonomi yang aplikatif dan berkelanjutan bagi gaya hidup modern.

Kewirausahaan berdampak dari mahasiswa Universitas Ma Chung juga merambah ke ranah pelestarian budaya lokal. Tim peneliti mahasiswa dari Program Studi Digital Business Accounting (DBA) semester 7, yang diketuai oleh Silvie Gunawan bersama Andi Natan Kamil Azzumarzidan (International Business Management sem 3), Maulida Tri Atmajayanti (DBA sem 5), dan Sherly Natalia Sunaryo (DBA sem 7), dengan bimbingan dosen Bagas Brian Pratama, S.Tr.Ak., M.Tr.Ak., CAAT, berhasil lolos pada Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang didanai oleh Kementerian Ristekdikti tahun 2026.

Riset tersebut berlangsung pada periode Mei hingga September 2026 untuk mengkaji perancangan model tata kelola UMKM berbasis filosofi Jawa Sedulur Papat Limo Pancer di kawasan Kampoeng Heritage Kayutangan, Malang. Silvie Gunawan menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM di kawasan cagar budaya mengalami kesulitan mengadaptasi model tata kelola bisnis modern yang cenderung kaku dan transaksional.

Tim peneliti mahasiswa Program Studi Digital Business Accounting (DBA) Universitas Ma Chung saat melangsungkan riset PKM-RSH di kawasan Kampoeng Heritage Kayutangan, Malang. (Foto: Istimewa)

“Padahal, kawasan heritage memiliki karakteristik sosial dan kultural yang sangat kuat. Kami pun menggandeng Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kayoetangan Heritage serta puluhan pelaku usaha lokal sebagai mitra, tim PKM-RSH Universitas Ma Chung menggali kearifan lokal Jawa,” jelasnya.

Penelitian tim dari DBA itu mengangkat filosofi Sedulur Papat Limo Pancer yang melambangkan keselarasan antara empat elemen pendamping dengan satu pusat kesadaran. Tim ini merumuskan model tata kelola UMKM berbasis keselarasan etika, persaudaraan sosial, kejujuran keuangan, dan pelestarian warisan sejarah.

“Melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang dikombinasikan dengan Focus Group Discussion (FGD), riset kami membuktikan bahwa tata kelola bisnis berbasis kearifan lokal justru mampu meningkatkan daya tahan bisnis UMKM sekaligus menjaga identitas budaya bangsa dari gerusan modernisasi yang membuta,” paparnya.

Dukungan Institusi

Keberhasilan iklim wirausaha di Universitas Ma Chung tidak terlepas dari jejaring akademik yang dirancang matang sedari tingkat fakultas. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ma Chung, Tarsisius Renald Suganda, Ph.D., menjelaskan bahwa kuncinya terletak pada keberadaan ekosistem terpadu.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ma Chung, Tarsisius Renald Suganda, Ph.D. (Foto: Istimewa)

“Financial mindset dan kemampuan mengelola risiko tidak bisa tumbuh hanya dari mendengarkan ceramah di dalam kelas. Kami di FEB membangunkannya melalui ekosistem yang mengintegrasikan literasi investasi, kewirausahaan, dan riset ilmiah secara holistik,” ujar pakar akuntansi dan manajemen tersebut, pada Kamis (6/8/2026)

Di FEB Universitas Ma Chung, mahasiswa Program Studi International Business Management (IBM) menempuh mata kuliah Kewirausahaan berjenjang selama 6 semester berturut-turut, sementara Program Studi Digital Business Accounting (DBA) menempuhnya selama 4 semester. Di samping kurikulum formal, FEB mengelola Galeri Investasi Ma Chung yang bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT BRI Danareksa Sekuritas.

“Galeri Investasi Ma Chung bukan sekadar pajangan. Pada tahun 2025, Galeri Investasi kami berhasil menyabet Juara 1 tingkat Jawa Timur dari Bursa Efek Indonesia dengan rekor aktivitas perdagangan saham mencapai Rp43 Miliar dalam satu tahun. Ini bukti riil bahwa mahasiswa kami mempraktikkan keputusan finansial berbasis analisis laporan keuangan secara nyata,” tegas Renald penuh bangga.

Renald merumuskan tiga konvergensi utama yang dikembangkan di lingkungan FEB Universitas Ma Chung. Pertama, disebut sebagai konvergensi akademisi dengan industri. Alumni yang telah sukses mengelola jaringan F&B dan bisnis nasional kembali ke kampus menjadi mentor dalam wadah Inkubator Bisnis FEB, membimbing adik-adik kelas merintis usaha.

“Kedua kami menyebutnya konvergensi investasi dan kewirausahaan. Wirausahawan yang memahami pasar modal akan mengelola modal usahanya secara jauh lebih rasional, terukur, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Lalu ketiga, konvergensi riset. Mahasiswa diajak berkolaborasi dalam riset dosen, mempresentasikan karya di konferensi internasional, dan mempublikasikannya di jurnal nasional bereputasi Sinta 2 dan Sinta. “Mereka belajar bahwa setiap keputusan bisnis harus berlandaskan data dan analisis ilmiah,” tambah Renald.

Dari sudut pandang pimpinan kemahasiswaan, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Ma Chung, Wawan Eko Yulianto, SS., MA., Ph.D., menekankan bahwa ekosistem wirausaha kampus dibangun secara kelembagaan sejak universitas berdiri pada tahun 2007.

“Kami memastikan bahwa seluruh mahasiswa dari seluruh program studi tanpa kecuali wajib mengambil mata kuliah kewirausahaan. Bagi mahasiswa FEB, materi kurikulum mencakup dari identifikasi potensi awal, pembuatan rencana bisnis, hingga tahap legalisasi usaha di mata kuliah Kewirausahaan tingkat lanjut,” jelas Wawan.

Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama bertindak sebagai pintu masuk utama bagi Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA). Kerja sama terbaru dengan platform global seperti TikTok melalui program Waktunya Start Academy memungkinkan mahasiswa terlibat langsung dalam lanskap content marketing modern.

Gelaran Entrepreneur Fair Universitas Ma Chung yang menampilkan berbagai stan unit bisnis buatan mahasiswa. (Foto: Istimewa)

“Selain itu, kami juga menyediakan sarana penunjang berupa fisik dan promosi melalui Badan Pemasaran dan Inovasi Bisnis (BPIB). Kami juga menggelar ajang pameran tahunan Entrepreneur Fair di pusat-pusat perbelanjaan utama Kota Malang seperti Mall Olympic Garden (MOG) dan Malang Town Square (MATOS),” ujar Wakil Rektor III Universitas Ma Chung tersebut.

Menuju 2045, Universitas Ma Chung Bersiap Jadi Trendsetter Global

Memasuki usianya yang ke-19, Universitas Ma Chung menuju fase penting dalam sejarah perjalanannya. Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, MS., M.Sc., menjelaskan bahwa momentum ini menjadi jembatan untuk mematangkan cetak biru pengembangan kampus tahap kedua yang diproyeksikan berlangsung dari tahun 2026 hingga 2045 mendatang.

Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, MS., M.Sc., memberikan keterangan mengenai arah pengembangan kampus menuju 2045. (Foto: Dani Alifian)

“Tahap pertama (2007–2025) adalah menjadi living example, di mana kampus kami menjadi teladan hidup secara internal. Kini, di tahap kedua dari 2026 menuju 2045, Universitas Ma Chung bersiap penuh menjadi trendsetter dalam panggung pendidikan tinggi nasional dan internasional,” tegas Prof. Yufra.

Untuk menopang visi menjadi trendsetter, Universitas Ma Chung telah menyiapkan strategi penambahan tujuh Guru Besar (Profesor) baru dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, kampus memilih jalan kaderisasi akademis yang organik melalui pembentukan klaster kelompok riset, Profesor senior membimbing dosen muda pada jenjang Lektor dan Lektor Kepala daripada misalnya mengambil pengajar luar.

“Proses pendidikan di Ma Chung tidak boleh berjalan secara transaksional, melainkan harus bersifat transformasional. Transformasi berarti mengasah watak manusia: mengubah yang kurang bertanggung jawab menjadi bertanggung jawab, dan yang kurang paham etika menjadi pribadi yang beretika mulia,” papar Rektor penuh penekanan.

Di tengah gelombang pesat kecerdasan buatan, Universitas Ma Chung senantiasa menjaga keluhuran sentuhan kemanusiaan melalui kelulusan berbasis pembentukan karakter. Terdapat 6 rumpun karakter, yakni kepemimpinan, kepedulian sosial, pengembangan diri, wawasan almamater, serta bakat dan minat.

Jalur kelulusan non-skripsi seperti penyusunan business plan dan business creation menjadi sarana untuk transformasi tersebut. Prof. Yufra mengenang salah satu mahasiswa bimbingannya yang menerapkan business creation di perusahaan PO Bagong, di mana riset ilmiah mahasiswa berhasil memangkas efisiensi waktu kerja karyawan dan meningkatkan performa manajemen secara drastis.

Universitas Ma Chung menjadi contoh nyata bagaimana roda-roda ekonomi itu mulai diasah, berputar, lalu bekerja. Perputaran yang dihasilkan oleh mahasiswa, alumni, dan ilmu yang diberikan pada pengajarnya telah berdampak luas untuk menghidupi ribuan cerita manusia di dalamnya, para pekerja yang menggantungkan napas keluarga, konsumen yang menemukan ruang hangat, maupun warga lokal yang tradisinya dirawat

​“Mahasiswa dibebaskan memilih skripsi, business plan, atau business creation. Namun, semuanya tetap wajib menyusun laporan ilmiah berbasis paper dengan indikator kinerja utama (KPI) dan rencana operasional yang jelas,” pungkasnya sembari menambahkan bahwa Ma Chung bersiap meluncurkan program S3 untuk mencetak inovator sains dan teknologi.

Universitas Ma Chung menjadi contoh nyata bagaimana roda ekonomi itu mulai diasah, berputar, lalu bekerja. Perputaran yang dihasilkan oleh mahasiswa, alumni, dan ilmu yang diberikan pada pengajarnya telah berdampak luas untuk menghidupi ribuan cerita manusia di dalamnya, para pekerja yang menggantungkan napas keluarga, konsumen yang menemukan ruang hangat, maupun warga lokal yang tradisinya dirawat.

Kompleks kampus Universitas Ma Chung di kawasan Villa Puncak Tidar, Malang, yang melahirkan wirausahawan berbasis karakter. (Foto: Dani Alifian)

Cerita mahasiswa kemudian cerita alumni Universitas Ma Chung adalah cerita perjuangan dan bertahan. Ia bukan cerita tentang cara instan menjadi kaya raya. Sebab mereka memulai dengan berani, tangguh saat terkena badai ekonomi, lantas tetap rendah hati untuk bersama membawa orang lain ikut tumbuh. Menatap peta panjang menuju 2045, kampus yang berlokasi di Villa Puncak Tidar ini membuktikan bahwa bisnis terbaik sejatinya selalu bermula dari satu titik yang sama: kepedulian pada sesama manusia. [dan/beq]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rebahan di Kasur Saja, Lemak Tubuh Bisa Rontok? Begini Caranya
• 2 jam lalu
0
thumb
Laga Pramusim: Inter Milan Tekuk Juventus 2-1
• 5 jam lalu
0
thumb
Bareskrim Polri Bongkar Jaringan Narkoba Etomidate Senilai Rp630 Juta
• 8 jam lalu
0
thumb
Kapolres Metro Depok Ziarah ke Makam Jenderal Hoegeng dan Eyang Meri
• 10 jam lalu
0
thumb
Mendag Mendorong Pertemuan JTC Indonesia-Mesir Digelar Tahun Ini untuk Memperkuat Perdagangan
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.