REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Bank Syariah Nasional (Bank BSN) mencatat tingkat validasi elektronik monitoring dan evaluasi (e-Monev) keterhunian rumah subsidi melalui aplikasi akuHUNI mencapai 92,58 persen. Capaian tersebut menjadi upaya perseroan untuk memastikan program KPR subsidi pemerintah tepat sasaran dan dimanfaatkan oleh Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Berdasarkan data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), validasi tersebut mencakup pelaporan keterhunian terhadap 3.381 penerima manfaat KPR subsidi. Hasil itu menempatkan Bank BSN sebagai salah satu bank penyalur dengan kinerja pelaporan dan pemantauan pemanfaatan rumah subsidi yang tinggi.
Baca Juga
BTN Dominasi Akad Massal KPR FLPP dengan 30.203 Debitur
Indef: Tenor KPR Subsidi 40 Tahun Perlu Diimbangi Seleksi Debitur
Bank BSN Gelar Akad Massal KPR Subsidi, Ojol hingga Pedagang Kelontong Jadi Penerima
Direktur Consumer Banking Bank BSN Mochamad Yut Penta mengatakan, keberhasilan Program KPR Subsidi tidak hanya diukur dari jumlah pembiayaan yang disalurkan, tetapi juga dari pemanfaatan rumah sebagai hunian oleh penerima manfaat.
“Bagi Bank BSN, keberhasilan KPR Subsidi bukan berhenti pada saat akad pembiayaan. Tujuan akhirnya adalah memastikan rumah tersebut benar-benar menjadi tempat tinggal bagi masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, indikator keterhunian menjadi sangat penting untuk memastikan subsidi pemerintah memberikan manfaat secara tepat sasaran,” kata Yut Penta dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut dia, pengawasan pasca penyaluran pembiayaan menjadi bagian dari strategi perseroan untuk menjaga kualitas portofolio sekaligus menekan potensi penyalahgunaan rumah subsidi, seperti rumah yang tidak dihuni, disewakan, atau dialihkan kepemilikannya secara tidak sesuai ketentuan.
Yut menjelaskan, aplikasi akuHUNI menjadi salah satu instrumen untuk memantau pemanfaatan rumah subsidi sehingga keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah akad pembiayaan, tetapi juga dari tingkat keterhunian rumah oleh MBR.
“Kami ingin tumbuh dengan kualitas. Semakin besar penyaluran KPR Subsidi Bank BSN, semakin besar pula tanggung jawab kami untuk memastikan rumah yang dibiayai benar-benar dihuni oleh penerima manfaat. Bukan sekadar akad, tetapi sampai rumah benar-benar menjadi hunian,” ujarnya.
Ke depan, Bank BSN akan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi berbasis data serta memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), BP Tapera, dan asosiasi pengembang untuk meningkatkan pengawasan terhadap pemanfaatan rumah subsidi.
Menurut perseroan, pengawasan keterhunian diperlukan untuk memastikan subsidi perumahan mampu meningkatkan akses kepemilikan rumah bagi MBR sekaligus mendukung terbentuknya kawasan hunian yang produktif dan berkelanjutan.
“Rumah subsidi bukan sekadar angka penyaluran pembiayaan. Di balik setiap akad terdapat keluarga yang membutuhkan tempat tinggal yang layak. Karena itu, bagi Bank BSN ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika rumah yang kami biayai benar-benar menjadi rumah bagi mereka,” kata Yut.
Komentar (0)