jpnn.com, PELALAWAN - Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan konflik antara satwa liar jenis beruang madu (Helarctos malayanus) dengan seorang warga di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Penanganan dilakukan segera setelah laporan diterima dengan mengerahkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) ke lokasi untuk melakukan mitigasi dan mencegah konflik serupa terulang.
BACA JUGA: Kemenhut Perkuat Sinergi Pencegahan Karhutla di Jambi
Langkah cepat tersebut menjadi bagian dari komitmen Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjalankan perintah Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat mitigasi konflik manusia dan satwa liar melalui penanganan yang cepat, kolaboratif, dan berbasis konservasi.
Kebijakan ini diarahkan untuk memastikan keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengabaikan perlindungan satwa liar beserta habitat alaminya.
BACA JUGA: Kemenhut Jadi Tuan Rumah Pertemuan ASEAN Membahas Perhutanan Sosial
Sesaat setelah menerima laporan, BBKSDA Riau langsung mengerahkan Tim WRU dari Pekanbaru menuju lokasi kejadian.
Tim membawa satu unit kandang jebak (box trap) sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan dalam penanganan konflik satwa liar.
BACA JUGA: Indonesia Berpotensi Jadi Pemimpin Kehutanan Global, Kemenhut Perkuat Diplomasi
Setibanya di Desa Pangkalan Gondai, tim langsung berkoordinasi dengan Sekretaris Desa Pangkalan Gondai.
Selanjutnya, tim menuju Kantor Desa untuk memperoleh informasi awal serta kronologis kejadian sebagai langkah awal dalam proses penanganan lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan pemerintah desa, korban diserang seekor beruang madu saat sedang berada di kebun miliknya. Satwa tersebut dilaporkan menyerang korban dari arah belakang.
Korban kemudian melakukan perlawanan sehingga beruang melepaskan serangannya dan melarikan diri dari lokasi kejadian.
Meskipun berhasil menyelamatkan diri, korban mengalami luka akibat serangan tersebut. Setibanya di rumah, korban dilaporkan kehilangan banyak darah hingga akhirnya pingsan.
Pihak keluarga segera membawa korban ke Rumah Sakit Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan penanganan medis.
Saat ini kondisi korban telah berada dalam penanganan tenaga medis. Sementara itu, Tim BBKSDA Riau terus melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, aparat setempat, serta pihak terkait untuk mengidentifikasi penyebab konflik dan menentukan langkah-langkah mitigasi guna mencegah kejadian serupa.
Sebagai tindak lanjut, pada Kamis (6/8), Tim WRU BBKSDA Riau bersama pemerintah desa dan aparat setempat melakukan pemasangan kandang jebak di sekitar lokasi kejadian.
Langkah ini dilakukan untuk memantau keberadaan satwa sekaligus sebagai upaya mitigasi apabila beruang kembali memasuki kawasan yang berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono menegaskan, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar.
"Setiap laporan konflik satwa liar kami tindak lanjuti dengan menurunkan tim WRU ke lapangan. Penanganan dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat agar langkah mitigasi dapat berjalan secara efektif," kata Supartono dalam keterangannya, Jumat (7/8).
Beruang madu merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Oleh karena itu, setiap penanganan konflik dilakukan secara hati-hati dengan mengedepankan keselamatan manusia sekaligus menjaga kelestarian satwa beserta habitatnya.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga terus menekankan pentingnya penguatan sistem mitigasi konflik manusia dan satwa liar sebagai bagian dari pengelolaan konservasi yang adaptif.
Menurutnya, perlindungan keanekaragaman hayati harus berjalan seiring dengan upaya memberikan rasa aman bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan hutan maupun habitat satwa liar.
BBKSDA Riau mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kebun maupun kawasan yang berbatasan dengan habitat satwa liar agar meningkatkan kewaspadaan, menghindari bekerja seorang diri.
Segera melaporkan kepada BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila menemukan keberadaan satwa liar di sekitar permukiman maupun areal perkebunan. (dil/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif





Komentar (0)