JAKARTA, KOMPAS.com - Sosok mantan kepala yayasan sekolah swasta di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, berinisial IWD menjadi perhatian setelah temuan 995 airsoft gun di lingkungan sekolah tersebut.
Di tengah penyelidikan polisi, kuasa hukum IWD, Alhadid Endar Putra, menjelaskan bahwa kliennya bukan hanya pernah menjabat sebagai kepala yayasan sekolah, tetapi juga merupakan komisaris di PT Lokta Karya Persatuan Berburu dan Tembak Seluruh Indonesia (Perbakin).
"Sebagai komisaris, itu sesuai AHU (Administrasi Hukum Umum) dan data yang terbuka untuk umum," ujar Alhadid melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Kamis (6/8/2026).
Baca juga: 995 Senpi atau Airsoft Gun? Ini Bantahan Eks Ketua Yayasan Sekolah Swasta Jaksel
Sementara itu, Alhadid sendiri menjabat sebagai Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin.
Dibeli untuk pelatihan atletAlhadid menjelaskan, 995 barang yang kini dipersoalkan bukan merupakan senjata api, melainkan airsoft gun milik PT Lokta Karya Perbakin.
"Total 995 merupakan airsoft gun yang legal, perihal senapan api apabila ada bukan milik PT Lokta Karya Perbakin," kata Alhadid.
Seluruh airsoft gun tersebut dibeli PT Lokta Karya Perbakin pada 2008 untuk menunjang pelatihan atlet menuju Southeast Asian Shooting Association (SEASA) Championship.
Airsoft gun itu juga telah mengantongi izin dari Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Mabes Polri dengan nomor registrasi SI/5483-XII/2008.
Alhadid mengaku telah memperlihatkan seluruh dokumen perizinan tersebut kepada penyidik Polres Metro Jakarta Selatan.
Baca juga: 995 Senjata di Sekolah Swasta Jaksel Dipastikan Air Soft Gun, Ada Pula Senapan Angin
"Saya klarifikasi ke Polres juga. Kemarin saya juga sudah bawa dokumen semua, sudah saya tunjukkan semua izin-izinnya, dari berapa pucuk, amunisi, sampai spare part ada semua izinnya," ujarnya.
Mengapa disimpan di sekolah?Menurut Alhadid, airsoft gun tersebut tidak langsung berada di lingkungan sekolah.
Setelah selesai digunakan untuk pelatihan atlet, PT Lokta Karya Perbakin menjalin kerja sama dengan yayasan pada 2021 untuk membentuk ekstrakurikuler menembak dan memanah.
Sebagai bagian dari kerja sama itu, 995 airsoft gun dipindahkan ke lingkungan sekolah untuk digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Namun, rencana tersebut urung terlaksana setelah pembina sekaligus penanggung jawab kegiatan meninggal dunia.
"Jadi dulu itu mau dipakai ekstrakurikuler tapi karena Jenderal Suryo meninggal, ya akhirnya kami enggak jadi (bikin) ekstrakurikuler itu," kata Alhadid.
Baca juga: Anggota DPR soal 995 Senjata di Sekolah: Perlu Perketat Pengawasan






Komentar (0)