UM Bulukumba Berdayakan Karang Taruna Dampingi Anak Tidak Sekolah Lewat Mobile Digital Literacy di Pajukukang

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, BANTAENG – Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UM Bulukumba) melalui Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) terus memperkuat upaya peningkatan akses pendidikan bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Pajukukang, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng.

Tim PKM Universitas Muhammadiyah Bulukumba menyelenggarakan pelatihan khusus bagi kader Karang Taruna.

Anggota Tim PKM, St. Wahidah, menjelaskan bahwa, program tersebut merupakan hibah yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan judul Pemberdayaan Karang Taruna melalui Program Mobile Digital Literacy untuk Menjangkau Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Pajukukang.

Katanya, program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang secara komprehensif melalui beberapa tahapan yang saling berkesinambungan. Kegiatan diawali dengan sosialisasi program, dilanjutkan pelatihan kader Karang Taruna, implementasi pendampingan kepada ATS, kemudian ditutup dengan monitoring dan evaluasi (monev) serta diseminasi hasil program kepada masyarakat dan pemerintah desa.

“Tahap awal berupa sosialisasi program telah dilaksanakan pada 6 Juni 2026 dan dihadiri oleh Kepala Desa Pajukukang, Andi Nursyam, pengurus Karang Taruna, serta sejumlah Anak Tidak Sekolah (ATS). Selain memperkenalkan program, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk melakukan validasi data dan pemetaan kemampuan dasar ATS sebagai dasar penyusunan strategi pendampingan,” katanya.

Hasil validasi menunjukkan terdapat 20 Anak Tidak Sekolah yang tersebar di lima dusun. Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, kemampuan belajar ATS dibagi ke dalam tiga skema pembelajaran.

“Skema A diperuntukkan bagi anak yang belum mengenal huruf serta belum mampu membaca maupun menulis. Skema B ditujukan bagi anak yang telah memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis. Sementara Skema C diperuntukkan bagi anak yang telah lancar membaca dan menulis, tetapi masih membutuhkan penguatan literasi digital, numerasi, dan kecakapan hidup,” paparnya.

Sebagai tindak lanjut dari hasil tersebut, Tim PKM Universitas Muhammadiyah Bulukumba menyelenggarakan pelatihan khusus bagi kader Karang Taruna pada 6–7 Juli 2026.

St. Wahidah mengajak seluruh kader Karang Taruna untuk bersama-sama mengawal keberlanjutan program di lapangan.

“Program ini tidak akan berhasil tanpa komitmen dan sinergi dari seluruh kader Karang Taruna. Karena itu, kami berharap para kader dapat menjadi motor penggerak yang mendampingi Anak Tidak Sekolah secara berkelanjutan sehingga manfaat program ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ketua Tim PKM, And
Andi Andriyani Asra, didampingi anggota tim Nur Indah,

” Materi yang diberikan meliputi konsep Mobile Digital Literacy, teknik pendampingan belajar, pembuatan media pembelajaran, praktik penggunaan perangkat digital, hingga simulasi pendampingan kepada ATS,” paparnya.

Menurut Ketua Tim PKM, And
Andi Andriyani Asra, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas Karang Taruna sebagai motor penggerak layanan Mobile Digital Literacy.

“Kami membekali para kader dengan keterampilan membuat media pembelajaran, mengoperasikan perangkat Mobile Digital Literacy, serta teknik pendampingan yang adaptif sesuai karakteristik dan tingkat kemampuan masing-masing anak,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa konsep Mobile Digital Literacy bukan sekadar memperkenalkan penggunaan gawai kepada anak-anak.

“Mobile Digital Literacy merupakan layanan pembelajaran bergerak atau mobile learning yang menjemput bola. Para kader Karang Taruna akan mendatangi setiap dusun hingga rumah-rumah Anak Tidak Sekolah agar mereka yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan tetap memperoleh kesempatan belajar di lingkungan mereka sendiri,” tambahnya.

Pelatihan berlangsung interaktif melalui penyampaian materi, praktik penggunaan perangkat digital, diskusi, dan simulasi pendampingan. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Desa Pajukukang, Andi Nursyam, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas). Kehadiran mahasiswa KKN Unhas memberikan nilai tambah karena program Mobile Digital Literacy turut diadopsi sebagai salah satu referensi program kerja mereka selama berada di Desa Pajukukang.

“Anak pada Skema A kami targetkan mampu mengenal huruf, sedangkan anak pada Skema B dan Skema C diharapkan mengalami peningkatan kemampuan sesuai tingkat masing-masing. Adapun target jangka panjang program ini adalah memfasilitasi Anak Tidak Sekolah agar dapat kembali mengakses pendidikan melalui PKBM maupun program pendidikan kesetaraan,” ungkapnya.

Diskusi ini juga membahas strategi pendampingan terhadap seorang ATS dengan kondisi autisme yang juga berstatus yatim piatu. Tim PKM menekankan pentingnya pendekatan personal sesuai karakteristik dan gaya belajar setiap anak. Untuk mendukung proses tersebut, salah seorang mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin dari Program Studi Psikologi turut dilibatkan dalam pendampingan kasus tersebut.

Usai pelatihan, program memasuki tahapan implementasi berupa pendampingan langsung kepada Anak Tidak Sekolah di seluruh dusun di Desa Pajukukang. Para kader Karang Taruna yang telah memperoleh pelatihan diterjunkan sesuai wilayah tugas masing-masing dengan pendekatan belajar yang disesuaikan berdasarkan hasil pemetaan kemampuan setiap anak.

Pendampingan dilaksanakan secara rutin melalui kunjungan dari rumah ke rumah maupun pada titik-titik belajar yang telah disepakati bersama masyarakat. Setiap kader bertanggung jawab memastikan anak tetap mengikuti proses belajar, memperoleh materi sesuai skema pembelajaran, serta mendapatkan motivasi agar kembali memiliki semangat melanjutkan pendidikan.

Pelaksanaan pendampingan mencakup seluruh dusun di Desa Pajukukang sehingga seluruh ATS yang telah terdata memperoleh layanan pembelajaran tanpa terkecuali.

Selain melaksanakan pembelajaran, kader Karang Taruna juga melakukan evaluasi perkembangan belajar secara berkala untuk mengetahui capaian setiap anak sekaligus menyusun strategi pembelajaran lanjutan agar proses pendampingan semakin efektif.

Dalam pelaksanaannya, pendampingan tidak hanya melibatkan Karang Taruna, tetapi juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Pajukukang, orang tua atau wali, tokoh masyarakat, serta mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin. Kolaborasi tersebut menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi setiap anak.

Tim PKM UM Bulukumba juga melakukan monitoring secara berkala terhadap aktivitas pendampingan di setiap dusun. Monitoring dilakukan untuk memastikan metode pembelajaran yang diterapkan berjalan sesuai rancangan program sekaligus memberikan penguatan kepada kader apabila ditemukan berbagai kendala selama proses pendampingan.

“Pelaksanaan pendampingan yang menjangkau seluruh dusun, Program Mobile Digital Literacy diharapkan mampu menghadirkan layanan pendidikan yang lebih inklusif, mempersempit kesenjjangan akses belajar, serta mendorong semakin banyak Anak Tidak Sekolah di Desa Pajukukang untuk kembali terhubung dengan layanan pendidikan formal maupun nonformal,” katanya.

Melalui sinergi antara UM Bulukumba, Kemendiktisaintek, Pemerintah Desa Pajukukang, Karang Taruna, mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin, serta masyarakat, program PKM ini diharapkan mampu membuka akses pendidikan bagi Anak Tidak Sekolah di Desa Pajukukang.

“Seluruh capaian program nantinya akan dipaparkan kepada masyarakat dan pemerintah desa melalui kegiatan diseminasi sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus upaya mendorong keberlanjutan program,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Desa Pajukukang, Andi Nursyam, menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang dihadirkan Universitas Muhammadiyah Bulukumba.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah Bulukumba yang telah menghadirkan program yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya bagi Anak Tidak Sekolah di Desa Pajukukang. Pemerintah desa berkomitmen mendukung keberlanjutan program ini dan akan mengarahkan kebijakan pembangunan desa pada tahun berikutnya agar lebih berpihak pada peningkatan layanan pendidikan bagi Anak Tidak Sekolah,” ujarnya. (fit)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tak Cukup Minta Maaf, Sanksi Menanti Para Nakes Nirempati
• 7 jam lalu
0
thumb
Rekor Harga Tembaga dan Prospek Saham Amman Mineral (AMMN)
• 6 jam lalu
0
thumb
Punya Darah Indonesia, Ilhan Fandi Siap Lanjutkan Warisan Ayah di Piala AFF 2026
• 21 jam lalu
0
thumb
Alun-alun Suryakencana Gunung Gede Terbakar, Lahan Sabana Hangus
• 19 jam lalu
0
thumb
Irak Laporkan 313 Kasus Demam Berdarah Krimea-Kongo, Sebanyak 24 Orang Meninggal
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.