Underconsumption Core: Ketika Gaya Hidup Sederhana Kembali Menjadi Tren

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Selama beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi dengan konten yang menampilkan gaya hidup serba baru. Mulai dari tren fesyen yang terus berganti, dekorasi rumah yang selalu mengikuti perkembangan, hingga kebiasaan membeli barang hanya karena sedang viral. Tidak sedikit orang yang merasa terdorong untuk terus mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Namun, belakangan ini muncul fenomena baru yang dikenal dengan istilah underconsumption core. Tren ini mulai banyak diperbincangkan karena menawarkan sudut pandang yang berbeda terhadap kebiasaan konsumsi. Alih-alih membeli barang baru demi mengikuti tren, underconsumption core justru mendorong seseorang untuk menggunakan barang yang sudah dimiliki selama masih berfungsi dengan baik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya hidup sederhana mulai kembali mendapatkan tempat di tengah derasnya budaya konsumtif yang berkembang di media sosial.

Apa Itu Underconsumption Core?

Secara sederhana, underconsumption core adalah tren yang mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi yang tidak diperlukan dengan memaksimalkan penggunaan barang yang sudah dimiliki. Dalam praktiknya, seseorang tidak merasa harus mengganti ponsel setiap kali model terbaru dirilis, membeli pakaian baru setiap musim, atau mengikuti setiap tren yang muncul di media sosial.

Berbeda dengan gerakan hidup minimalis yang lebih menekankan pada kepemilikan barang dalam jumlah sedikit, underconsumption core lebih berfokus pada kebiasaan menggunakan barang secara optimal hingga benar-benar habis masa pakainya. Tujuannya bukan sekadar menghemat uang, tetapi juga mengurangi pemborosan dan membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Mengapa Tren Ini Mulai Populer?

Popularitas underconsumption core tidak muncul tanpa alasan. Meningkatnya biaya hidup membuat banyak orang mulai mempertimbangkan kembali setiap keputusan membeli. Selain itu, kesadaran terhadap isu lingkungan juga mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi barang.

Media sosial juga memiliki peran yang menarik dalam perkembangan tren ini. Jika sebelumnya berbagai platform dipenuhi konten haul belanja dan unboxing produk baru, kini semakin banyak kreator yang justru menunjukkan bagaimana mereka menggunakan barang lama, memperbaiki peralatan yang rusak, atau menghabiskan produk hingga benar-benar selesai digunakan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa definisi gaya hidup menarik mulai bergeser. Tidak lagi hanya tentang memiliki barang terbaru, tetapi juga tentang kemampuan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki secara maksimal.

Bukan Berarti Anti Belanja

Meski demikian, underconsumption core bukan berarti seseorang tidak boleh membeli barang baru. Tren ini tidak mengajak masyarakat berhenti berbelanja, melainkan lebih sadar terhadap alasan di balik setiap pembelian.

Ketika suatu barang memang dibutuhkan atau sudah tidak dapat digunakan lagi, membeli pengganti tentu merupakan keputusan yang wajar. Yang menjadi pembeda adalah kebiasaan membeli hanya karena rasa takut tertinggal tren atau tergoda promosi sesaat.

Dengan cara ini, keputusan membeli menjadi lebih terencana dan sesuai dengan kebutuhan, bukan semata-mata didorong oleh keinginan sesaat.

Belajar Menghargai Apa yang Sudah Dimiliki

Fenomena underconsumption core mengingatkan bahwa nilai sebuah barang tidak selalu ditentukan oleh seberapa baru atau mahal harganya. Menggunakan barang hingga masa pakainya berakhir juga merupakan bentuk penghargaan terhadap sumber daya yang telah digunakan untuk memproduksinya.

Di tengah derasnya arus promosi dan perubahan tren yang begitu cepat, kebiasaan untuk berhenti sejenak sebelum membeli sesuatu menjadi semakin penting. Pertanyaan sederhana seperti, "Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?" dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih bijaksana.

Pada akhirnya, underconsumption core bukan sekadar tren media sosial, melainkan ajakan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan konsumsi. Sebab, hidup sederhana bukan berarti hidup dengan kekurangan, tetapi mampu menggunakan apa yang dimiliki secara lebih bertanggung jawab.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Presiden FA Yordania tegaskan tak akan dukung Gianni Infantino
• 1 jam lalu
0
thumb
Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Sepenuhnya Mengubah Nasib Pekerja
• 2 jam lalu
0
thumb
Bank Mandiri Perluas Akses Kerja Inklusif bagi Generasi Difabel
• 2 jam lalu
0
thumb
KPK Periksa Pendiri IAW, Dalami Dugaan Pemberian Swasta kepada Pegawai Bea Cukai
• 14 jam lalu
0
thumb
Merasa Dihina, Fangfang Laporkan Adik Vicky Prasetyo
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.