Jakarta (ANTARA) - Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana mengatakan industri asuransi menghadapi perubahan profil risiko sektor energi di tengah kenaikan harga minyak imbas konflik di Timur Tengah (Timteng).
“Ketika harga minyak naik, produsen akan berusaha memaksimalkan produksi. Aktivitas di sektor hulu menjadi lebih tinggi sehingga risiko operasional yang harus dikelola perusahaan asuransi juga ikut meningkat," ujar Adi dalam acara Literasi Asuransi Energi di Jakarta, Kamis.
Adi mengatakan salah satu tantangan terbesar berasal dari ketidakpastian geopolitik, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Menurutnya apabila terjadi gangguan di jalur tersebut, pasokan minyak global akan terganggu dan memicu kenaikan harga energi. Kondisi itu mendorong perusahaan migas meningkatkan produksi untuk memanfaatkan tingginya harga minyak.
Selain faktor geopolitik, perubahan iklim juga menjadi tantangan baru bagi industri asuransi energi. Menurut Adi, perubahan pola cuaca membuat perusahaan tidak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan data historis dalam memperkirakan potensi kerugian di masa depan.
Ia mengatakan dalam bisnis asuransi, perusahaan harus menyeimbangkan nilai aset yang diasuransikan dengan estimasi kewajiban pembayaran klaim atau predicted liability. Namun, perubahan iklim membuat pola risiko menjadi semakin sulit diprediksi.
"Kalau dulu musim hujan dan musim kemarau relatif bisa diperkirakan, sekarang polanya bergeser. Artinya model perhitungan risiko juga harus ikut berubah," katanya.
Ia menambahkan kenaikan suhu rata-rata yang terjadi dari tahun ke tahun meningkatkan potensi bencana seperti kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, hingga gangguan terhadap infrastruktur energi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan frekuensi maupun nilai kerugian yang harus ditanggung perusahaan asuransi.
Ia menjelaskan peningkatan risiko terutama terjadi pada sektor hulu migas (upstream) yang mencakup kegiatan eksplorasi dan pengeboran. Dibandingkan sektor hilir, risiko di hulu dinilai jauh lebih besar karena satu insiden dapat memicu kerusakan berantai dan membutuhkan waktu pemulihan yang panjang.
Ia menilai kemampuan perusahaan asuransi dalam mengelola risiko akan menjadi faktor penting dalam menjaga iklim investasi sektor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tantangan geopolitik dan perubahan iklim yang semakin dinamis.
"Peran kami bukan hanya membayar klaim ketika terjadi kerugian, tetapi membantu perusahaan mengidentifikasi dan memitigasi risiko sejak awal agar operasional tetap berjalan aman dan berkelanjutan," ujarnya.
Baca juga: Harga energi tinggi dorong prospek bisnis asuransi migas
Baca juga: Pertumbuhan pasar asuransi energi didorong ekspansi proyek migas
Baca juga: OJK: Premi industri asuransi capai Rp170,98 triliun di semester I-2026
“Ketika harga minyak naik, produsen akan berusaha memaksimalkan produksi. Aktivitas di sektor hulu menjadi lebih tinggi sehingga risiko operasional yang harus dikelola perusahaan asuransi juga ikut meningkat," ujar Adi dalam acara Literasi Asuransi Energi di Jakarta, Kamis.
Adi mengatakan salah satu tantangan terbesar berasal dari ketidakpastian geopolitik, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Menurutnya apabila terjadi gangguan di jalur tersebut, pasokan minyak global akan terganggu dan memicu kenaikan harga energi. Kondisi itu mendorong perusahaan migas meningkatkan produksi untuk memanfaatkan tingginya harga minyak.
Selain faktor geopolitik, perubahan iklim juga menjadi tantangan baru bagi industri asuransi energi. Menurut Adi, perubahan pola cuaca membuat perusahaan tidak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan data historis dalam memperkirakan potensi kerugian di masa depan.
Ia mengatakan dalam bisnis asuransi, perusahaan harus menyeimbangkan nilai aset yang diasuransikan dengan estimasi kewajiban pembayaran klaim atau predicted liability. Namun, perubahan iklim membuat pola risiko menjadi semakin sulit diprediksi.
"Kalau dulu musim hujan dan musim kemarau relatif bisa diperkirakan, sekarang polanya bergeser. Artinya model perhitungan risiko juga harus ikut berubah," katanya.
Ia menambahkan kenaikan suhu rata-rata yang terjadi dari tahun ke tahun meningkatkan potensi bencana seperti kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, hingga gangguan terhadap infrastruktur energi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan frekuensi maupun nilai kerugian yang harus ditanggung perusahaan asuransi.
Ia menjelaskan peningkatan risiko terutama terjadi pada sektor hulu migas (upstream) yang mencakup kegiatan eksplorasi dan pengeboran. Dibandingkan sektor hilir, risiko di hulu dinilai jauh lebih besar karena satu insiden dapat memicu kerusakan berantai dan membutuhkan waktu pemulihan yang panjang.
Ia menilai kemampuan perusahaan asuransi dalam mengelola risiko akan menjadi faktor penting dalam menjaga iklim investasi sektor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tantangan geopolitik dan perubahan iklim yang semakin dinamis.
"Peran kami bukan hanya membayar klaim ketika terjadi kerugian, tetapi membantu perusahaan mengidentifikasi dan memitigasi risiko sejak awal agar operasional tetap berjalan aman dan berkelanjutan," ujarnya.
Baca juga: Harga energi tinggi dorong prospek bisnis asuransi migas
Baca juga: Pertumbuhan pasar asuransi energi didorong ekspansi proyek migas
Baca juga: OJK: Premi industri asuransi capai Rp170,98 triliun di semester I-2026






Komentar (0)