Grid.ID - Kronologi jenazah mahasiswa tertinggal di Bandara masih menjadi perbincangan publik. Pihak keluarga pun terkejut karena kejadian ini.
Jenazah tersebut diketahui merupakan Blasius Avelino Kebingin (25), mahasiswa asal Kabupaten Lembata. Dikutip dari KOMPAS.com pada Kamis (6/8/2026), almarhum diketahui merupakan mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi di Jakarta.
Namun, ia meninggal pada Sabtu (1/8/2026) di rumah kosnya. Diketahui, mendiang mengalami sakit sebelum meninggal dunia.
Pihak keluarga mengaku terpukul dengan kejadian ini. Pasalnya, dua pengantar jenazah sudah tiba di tujuan.
Namun, jenazah justru tidak ikut diterbangkan menggunakan pesawat yang mereka tumpangi. Kedua penamping tersebut merupakan Sandro Kebingin, dan sepupunya, Jansen Kebingin.
Lalu, bagaimana kronologi jenazah mahasiswa tertinggal di bandara ini? Dikutip dari POSKUPANG pada Kamis (6/8/2026), awalnya jenazah akan diberangkatkan ke Bandara Gewayantana, larantuka, Flores Timur.
Jenazah diketahui sempat transit di Bandara El tari Kupang. Jenazah diberangkatkan dari Jakarta menggunakan penerbangan Lion Air.
Setibanya di Bandara El Tari, dua pendamping jenazah itu melaporkan mengenai keberadaan jenazah. Menurut Jansen, saat itu petugas menjelaskan bahwa proses pemindahan jenazah akan ditangani oleh pihak maskapai.
Mereka pun diminta menunggu di ruang tunggu. Jansen mengaku selalu menanyakan mengenai proses pengiriman jenazah tersebut, namun, petugas selalu menjelaskan bahwa pemindahan ini akan dilakukan secara otomatis.
Dirinya berkali-kali menanyakan mengenai pemindahan jenazah. Namun, petugas menjelaskan bahwa prosedur pemindahan akan dilakukan oleh pihak maskapai.
Sehingga, Jansen tidak perlu mendatangi bagian kargo. Kemudian, Jansen dan sepupunya mengikuti prosedur yang sudah dijelaskan.
"Kami sudah melapor kalau membawa jenazah," ujarnya.
"Petugas bilang nanti jenazah mereka yang urus untuk dipindahkan ke pesawat tujuan Larantuka, jadi kami diminta langsung ke ruang tunggu," jelasnya.
"Tiap bandara yang kami transit kami mau ke cargo untuk cek, mereka bilang tidak bisa karena itu sudah otomatis tinggal dipindahkan. Waktu transit di Surabaya saya tanya, di Kupang saya tanya lagi, jawabannya sama, jadi saya tidak usah ke cargo," lanjutnya.
Namun, ketika sampai di Bandara Gewayantana Larantuka, Jansen terkejut lantaran jenazah Blasius tidak ada. Dirinya pun mengaku sakit hati dengan penanganan petugas bandara.
Pasalnya, ia merasa sudah benar-benar menjaga almarhum. Namun, setelah menghubungi pihak maskapai, pihaknya menjelaskan bahwa ada perubahan terkait penanganan jenazah saat transit di Kupang.
"Kami benar-benar kaget. Kami langsung mau ambil jenazah, ternyata tidak ada," ujarnya.
"Terus terang sakit sekali, karena saya benar-benar menjaga adik saya sejak dari Jakarta. Kenapa bisa begini, sementara mereka juga mengakui ada kesalahan," sambungnya.
Pihak maskapai mengira bahwa jenazah akan diberangkatan pada Selasa (4/8/2026). Padahal, tiket sudah diterbitkan untuk penerbangan Jakarta-Larantuka.
Alhasil, pihak keluarga pun harus menunggu kedatangan jenazah tanpa kepastian. Selain itu, beberapa anggota keluarga sudah menyebrang menggunakan kapal cepat menuju Larantuka sejak siang hari.
Kronologi jenazah mahasiswa tertinggal di bandara ini masih menjadi perbincangan publik. Pihak keluarga pun menyayangkan kejadian ini.
Sedangkan, karena kejadian ini pihak maskapai pun telah mengakui adanya kesalahan. Baik pihak maskapai maupun keluarga pun segera menyelesaikan persoalan ini agar jenazah segera dipulangkan. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)