Terkini, Makassar – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan masih berada pada jalur pertumbuhan yang positif hingga pertengahan 2026.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh stabilnya industri perbankan, meningkatnya aktivitas pasar modal, serta tetap kuatnya penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Muchlasin menyampaikan, aset perbankan Sulawesi Selatan tumbuh 5,99 persen (year on year), sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 yang mencapai 6,88 persen.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,71 persen, sedangkan penyaluran kredit tumbuh 5,27 persen.
“Yang cukup menggembirakan, kredit produktif masih mendominasi dengan pangsa sekitar 52 persen. Ini menunjukkan pembiayaan perbankan masih banyak mengalir ke sektor-sektor produktif yang menopang perekonomian daerah,” ujar Kepala OJK Sulselbar Muchlasin dalam Media Update Industri Jasa Keuangan di Makassar.
Ia menjelaskan, komposisi DPK masih didominasi tabungan dengan nilai mencapai Rp92,3 triliun atau sekitar 51 persen dari total DPK. Sementara deposito menyumbang sekitar 22 persen dan giro sekitar 15 persen.
Dari sisi penyaluran kredit, sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi penerima pembiayaan terbesar. Namun, OJK melihat mulai terjadi penguatan pembiayaan pada sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan yang menjadi basis ekonomi Sulawesi Selatan.
“Kredit sektor pertanian, perburuan dan kehutanan tumbuh sekitar 11 persen dibandingkan Juni tahun lalu. Ini menjadi sinyal positif karena struktur ekonomi Sulawesi Selatan memang ditopang sektor pertanian,” katanya.
Selain pertanian, sektor perikanan juga mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar 5,69 persen, disusul sektor akomodasi, penyediaan makan minum, perhotelan, real estate, serta jasa persewaan yang juga mengalami peningkatan.
Secara wilayah, Kota Makassar masih menjadi pusat penyaluran kredit dengan pangsa sekitar 53,04 persen, diikuti Palopo, Bone, Parepare, dan Bulukumba.
Menurut OJK, dominasi Makassar dipengaruhi keberadaan kantor pusat perusahaan maupun aktivitas bisnis yang terkonsentrasi di ibu kota provinsi tersebut.
Pada sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), perusahaan pembiayaan tumbuh 3,56 persen, sedangkan modal ventura meningkat 3,48 persen.
Outstanding pembiayaan fintech peer to peer lending meningkat 29,6 persen, dari sekitar Rp2,04 triliun menjadi Rp2,64 triliun.
Sementara itu, outstanding pergadaian melonjak dari sekitar Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun, dipengaruhi penggabungan sejumlah entitas usaha dalam Grup Gade Mas Nusantara yang kini berkantor pusat di Makassar.
Pada sektor perasuransian, premi meningkat dari sekitar Rp963 miliar menjadi Rp1,26 triliun, sementara nilai klaim juga naik menjadi lebih dari Rp1 triliun. Nilai penjaminan tumbuh sekitar 19 persen, sedangkan dana pensiun meningkat 1,29 persen.
Pertumbuhan paling tinggi justru terjadi pada pasar modal. Jumlah Single Investor Identification (SID) di Sulawesi Selatan meningkat 79,28 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Investor reksa dana menjadi yang terbesar, disusul investor saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
“Kami melihat semakin banyak masyarakat memilih instrumen investasi yang dikelola secara profesional melalui reksa dana. Ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal terus meningkat,” katanya.
OJK optimistis kinerja industri jasa keuangan Sulawesi Selatan akan tetap terjaga seiring membaiknya aktivitas ekonomi daerah serta meningkatnya pembiayaan pada sektor-sektor unggulan seperti pertanian, perikanan, dan jasa.





Komentar (0)