jpnn.com, JAKARTA - Rencana pemerintah mewajibkan industri gula rafinasi memiliki kebun tebu menuai kritik. Kebijakan itu dinilai tidak sesuai dengan karakter industri gula rafinasi.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Dwi Andreas Santosa mengatakan pabrik gula rafinasi sejak awal hanya dirancang untuk mengolah gula mentah (raw sugar) menjadi gula rafinasi bagi kebutuhan industri.
BACA JUGA: Arahan Prabowo, Pabrik Gula Wajib Punya Kebun Tebu Sendiri
Menurut dia, perusahaan rafinasi tidak pernah didesain mengelola perkebunan tebu.
"Ada sekitar 11 pabrik gula rafinasi dan umumnya berada di dekat pelabuhan. Lalu bagaimana logikanya mereka harus membangun kebun tebu, apalagi sebagian besar berada di Pulau Jawa," kata Dwi, Rabu (5/8).
BACA JUGA: Dramatis, Polisi Tangkap Pelaku Curanmor di Ngawi, Kejar-kejaran Sampai ke Kebun Tebu
Dia menjelaskan lokasi pabrik yang berada di kawasan pelabuhan dipilih agar memudahkan pasokan bahan baku raw sugar dari luar negeri.
Karena itu, kewajiban memiliki kebun tebu dinilai bertentangan dengan konsep awal pembangunan industri gula rafinasi.
BACA JUGA: Kasus Korupsi HGU Kebun Tebu, KPK Sita Sejumlah Dokumen dari Pengusaha Haliem Hoentoro
Dwi juga mempertanyakan efektivitas aturan tersebut untuk meningkatkan produksi gula nasional.
"Nggak bisa begitu. Mereka mau bangun kebun dari mana? Apalagi sebagian besar pabrik gula rafinasi berada di Pulau Jawa. Dengan keterbatasan lahan yang ada, itu tidak mungkin dilakukan," ujarnya.
Menurut Dwi, persoalan utama industri gula nasional justru terletak pada rendahnya produktivitas tebu dan terbatasnya perluasan areal tanam.
Dia menyebut produktivitas gula Indonesia saat ini masih sekitar 5-6 ton per hektare. Angka itu masih tertinggal dari Thailand yang mendekati 7 ton per hektare dan Brasil yang telah menembus lebih dari 8 ton per hektare.
Selain produktivitas, luas perkebunan tebu nasional juga tidak banyak berubah selama puluhan tahun, yakni hanya berkisar 400 ribu hingga 500 ribu hektare.
Dia menilai target swasembada gula akan lebih mudah dicapai melalui peningkatan produktivitas dan pengembangan kebun di luar Pulau Jawa yang masih memiliki potensi lahan.
Dwi juga mengingatkan Indonesia pernah memiliki produktivitas tebu yang lebih baik saat sistem glebagan masih diterapkan. Setelah sistem itu dihapus, banyak petani beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan. (kkp/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Kenny Kurnia Putra





Komentar (0)