Pemerintah menghimpun dana Rp32 triliun melalui lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (4/8/2026). Total penawaran yang masuk dalam lelang tersebut mencapai Rp70,72 triliun.
“Menteri Keuangan menetapkan total nominal yang dimenangkan dari kesembilan seri yang ditawarkan tersebut adalah Rp32 triliun,” tulis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dalam keterangan pers, Rabu (5/8/2026), seperti dilaporkan Antara.
Seri FR0110 mencatat permintaan dan serapan tertinggi. Pemerintah menyerap Rp15,8 triliun dari penawaran yang mencapai Rp34,49 triliun. Seri baru dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,29574 persen itu akan jatuh tempo pada 15 Mei 2032.
Serapan terbesar berikutnya berasal dari seri SPN12270805 senilai Rp5 triliun, dari total permintaan Rp5,32 triliun. Seri baru tersebut menawarkan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,14975 persen dan jatuh tempo pada 5 Agustus 2027.
Pemerintah juga menyerap Rp3,8 triliun dari seri FR0108 yang menerima penawaran Rp10,15 triliun. Seri itu memiliki imbal hasil rata-rata tertimbang 7,31985 persen dan jatuh tempo pada 15 April 2036.
Pada seri FR0107, pemerintah memenangkan penawaran sebesar Rp3,05 triliun dari permintaan Rp4,22 triliun. Imbal hasil rata-rata tertimbangnya tercatat 7,34997 persen dengan jatuh tempo 15 Agustus 2045.
Sementara itu, seri FR0106 diserap sebesar Rp1,2 triliun dari penawaran yang masuk Rp8,02 triliun. Seri yang jatuh tempo pada 15 Agustus 2040 itu memiliki imbal hasil rata-rata tertimbang 7,34985 persen.
Untuk instrumen jangka pendek, seri SPN01260905 dimenangkan sebesar Rp1 triliun dari penawaran Rp2,21 triliun. Seri baru itu menawarkan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,89000 persen dan jatuh tempo pada 5 September 2026.
Seri SPN12261105 juga diserap sebesar Rp1 triliun dari permintaan Rp2,68 triliun. Imbal hasil rata-rata tertimbangnya mencapai 7,04000 persen dengan jatuh tempo pada 5 November 2026.
Adapun seri FR0105 dimenangkan sebesar Rp750 miliar dari penawaran Rp1,90 triliun. Seri tersebut memiliki imbal hasil rata-rata tertimbang 7,38909 persen dan akan jatuh tempo pada 15 Juli 2064.
Serapan terendah tercatat pada seri FR0102 sebesar Rp400 miliar, dari penawaran yang masuk Rp1,73 triliun. Imbal hasil rata-rata tertimbang seri ini sebesar 7,36955 persen dengan jatuh tempo pada 15 Juli 2054. (ant/ham/rid)





Komentar (0)