Fara (30 tahun), anak tunggal Maliya Finda (51 tahun) pendaki Gunung Piramid Bondowoso yang meninggal dunia menceritakan korban berjanji langsung bertolak ke Bali Minggu (2/8/2026).
Dia menceritakan, rencana ibunya mendaki Gunung Piramid sudah sejak lama yang semula akan pergi bersama saudara namun batal.
Lalu, Maliya pamit kepadanya izin mendaki selama satu hari, Sabtu (1/8/2026) bersama guide, setelahnya langsung berangkat ke Bali untuk menemui Fara dan cucunya.
“Tiba-tiba ngomong ke Bali, naik gunung dulu ya di Bondowoso, aku nanya yang dulu itu tapi gagal, (dijawab Mama) iya,” katanya di rumah duka Jalan Cipunegara Surabaya, Rabu (5/8/2026).
Namun, Fara yang biasanya tidak pernah khawatir saat ibunya mendaki, hari itu pertama kali punya firasat tidak enak, karena Maliya tidak melakukan kebiasaan memberi kabar pada Fara.
“Biasanya konfirmasi Mama di bus ini enggak ada, saya telepon jam 8 malam enggak dijawab, pagi saya video call enggak ada jawaban,” ungkapnya.
Hingga keesokan hari teleponnya berkali-kali itu tidak lagi dijawab oleh Maliya, Fara langsung menghubungi Rini sahabat yang biasa menemani ibunya mendaki.
“Tante Rini, langsung Tante Rini menghubungi orang (komunitas pendaki) gunung, aku juga telepon suamiku yang langsung mencari ketua guide di Gunung Piramid,” katanya.
Suami Fara juga langsung menghubungi tim SAR gabungan setelah hilang kontak dengan Maliya.
Keluarga mulai mendatangi lokasi Gunung Piramid sejak Senin malam. Begitu mendengar kabar Maliya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Fara menyusul ke Surabaya, rumah duka.
Kini, Fara hanya bisa melihat riwayat chat bersama Maliya yang selalu merespons pesan anak tunggalnya yang tinggal merantau itu dengan kata sayang.
“Mama selalu kalau aku kirim chat panggil Mama gitu, selalu dijawab apa sayang. Banyak hal yang aku kangenin dari Mama,” imbuhnya.
Dia juga merindukan antusiasme Maliya yang selalu menawarkan oleh-oleh makanan khas daerah dari setiap gunung tujuannya mendaki.
Menurut Fara, Maliya suka mendaki sejak ikut open trip mendaki bukit di Labuan Bajo 2023. Setelahnya, hampir seminggu atau dua minggu sekali Maliya pamit mendaki ke berbagai daerah mulai Makassar, Medan, dan lainnya.
“Kalau di Jawa Timur jarang izin, kalau jauh selalu izin kan naik pesawat gitu-gitu,” ungkapnya.
Fara juga menceritakan kebahagiaan Maliya bisa hobi mendaki setelah sebelumnya menggeluti olahraga cycling tahun 2022 karena sempat mengalami kelebihan berat badan dan mendengar saran dokter gizi untuk rutin olahraga.
“Kalau kondisi kesehatan mama body age itu umur 30 dari 51 tahun. Olahraga itu baru cycling itu,” bebernya.
Terakhir, dia menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan kata atau tindakan dari Maliya semasa hidup.
“Mohon maaf jika Mama ada salah kata dan tindakan semoga didoain aja yang baik,” tutupnya.(lta/ham/rid)





Komentar (0)