Dokter Diduga Cibir Pasien BPJS yang Curhat di Medsos, RSUP Sardjito Klarifikasi

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Media sosial Threads sedang diramaikan sebuah unggahan seorang pasien yang mengaku memakai BPJS. Pemilik akun mengeklaim, ia harus menunggu selama 8 jam di sebuah rumah sakit yang dirahasiakan untuk mendapatkan kamar karena menggunakan asuransi milik negara tersebut.

Unggahan itu pun dibanjiri komentar yang bernada cibiran. Ada yang menyuruh pemilik akun untuk menderita serangan jantung, bahkan ada yang menyuruhnya memotong nadi agar cepat ditangani rumah sakit.

Salah satu yang berkomentar pun diduga adalah seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter di RSUP Sardjito Sleman dan merupakan lulusan UGM. Akun bernama @erudarahaadinii itu menilai pemilik akun tak punya otak karena curhatannya itu.

Kasus ini pun semakin ramai usai seorang kerabat dari pemilik akun yang curhat itu mengatakan bahwa pemilik akun telah meninggal dunia usai unggahannya ramai dan meminta agar komentar cibiran tak dilanjutkan.

RSUP Sardjito Jelaskan Bukan Pegawai

Manajer Hukum dan Humas RSUP dr. Sardjito Banu Hermawan mengatakan pihaknya telah menelusuri unggahan tersebut. Dia mengatakan dokter tersebut bukan pegawai RSUP Sardjito tetapi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

"Yang itu memang dilakukan oleh salah satu peserta didik ya. Jadi bukan pegawai RSUP dr. Sardjito. Dia adalah murni peserta didik ya," kata Banu dihubungi wartawan, Selasa (4/8).

Dokter berinisial EPR tersebut merupakan peserta PPDS dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).

RSUP Sardjito Koordinasi dengan FKKMK UGM

Terkait persoalan ini, pihaknya akan berkolaborasi dengan FKKMK UGM untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.

"Karena ini peserta didik, kami akan lakukan kolaborasi dalam penanganan permasalahan ini," katanya.

"Dengan adanya upload-an seperti ini kami ya cukup kaget. Namun demikian kami tidak bisa menjustifikasi seperti apa kondisi itu sehingga kita akan melakukan klarifikasi bersama terlebih dahulu," tuturnya.

Banu menegaskan baik RSUP Sardjito maupun FKKMK UGM berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pelayanan pendidikan yang aman.

Banu mengatakan pihaknya memiliki Tim Pendidikan Bermartabat. Tim itu terdiri dari pihak RSUP dr. Sardjito dan FKKMK UGM. Nanti tim itu akan bergerak bersama-sama.

"Nah, tim ini nanti yang akan bergerak bersama. Jadi bukan kok parsial Sardjito bergerak sendiri, UGM bergerak sendiri, itu tidak. Tapi kami adalah satu kesatuan di mana tim yang ada ya, Tim Pendidikan Bermartabat inilah yang nanti akan memanggil, meminta klarifikasi kepada yang bersangkutan," pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pajak Kendaraan Listrik Diusul Dikaji Ulang demi Tambah PAD Jakarta
• 11 jam lalu
0
thumb
Total Dana SAL di Himbara Capai Rp 400 Triliun, Purbaya: Kalau Masih Kurang, Saya Tambah!
• 14 jam lalu
0
thumb
Drone Houthi Serang Bandara di Saudi, Layanan Penerbangan Disetop Sementara
• 3 jam lalu
0
thumb
Motif Mantan Istri Polisi Bunuh Diri Masih Ditelusuri
• 6 jam lalu
0
thumb
Soroti Tata Kelola Keuangan Daerah, BSKDN Kemendagri Minta Pemda Utamakan Kinerja untuk Perkuat IPKD
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.