REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) dilaporkan Reuters, Senin (3/8/2026), telah menggunakan semoa stok rudal jarak jauhnya selama 5 bulan perang dengan Iran. Laporan Reuters mengutip tiga sumber yang mengetahui data stok persenjataan, meningkatkan kekhawatiran Pentagon atas kesiapan menghadapi potensi konflik dalam waktu dekat.
Rudal-rudal yang habis terpakai itu yakni rudal dari permukaan-ke-permukaan, dikenal dengan Sistem Taktikal Rudal Angkatan Darat (ATACMS) dan Rudal Berpresisi Tinggi (PrSM). AS dilaporkan telah menggunakan semua jenis rudal itu, menurut sumber yang diwawancarai Reuters.
Baca Juga
Iran dan Oman Sepakat Pendapatan dari Biaya Layanan Kapal Melintas Selat Hormuz akan Dibagi Dua
Penasihat Militer Iran: Kiev Minta Maaf, Serangan ke Ukraina Dibatalkan
AS Bunuh Sekeluarga di Iran Pakai Bom Seberat Satu Ton
Tingkat kekurangan stok dari rudal ATACMS dan PrSM belum dilaporkan sebelumnya. Padahal, munisi jarak jauh adalah bagian penting dari persenjataan militer, lantaran akurasinya yang membuat serangan dari jarak jauh aman dilancarkan.
Di perang Ukraina, suplai ATACMS dari AS pun memainkan peran penting, membuat Kiev menargetkan titik-titik tertentu di dalam negera Rusia. Adapun, PrSM adalah generasi baru rudal jarak jauh, yang akan menggantikan ATACMS namun dengan jarak jangkau lebih dekat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut analis, dua rudal itu, yang ongkos produksinya menjadi 1 juta dolar AS per satuannya, akan menjadi faktor penting jika konflik dengan China pecah. Sumber Reuters menolak mengungkapkan jumlah pasti ACTAMS dan PrSM tersisa yang kini dimiliki AS.
SAlah satu pangkalan militer Amerika Serikat di Rukban, Yordania. - (Dok Planet Labs)
Diketahui, Presiden AS Donald Trump yang melancarkan perang dengan Iran bersama Israel pada Februari lalu, memprediksi perang akan berlangsung dalam waktu singkat. Namun seiring terus terseretnya AS dalam perang panjang, tiga sumber Reuters mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kekurangan stok rudal jarak jauh bisa membatasi kemampuan AS dalam menangkal musuh-musuhnya, termasuk Rusia dan China.
Sumber keempat yang mengaku mengetahui masalah ini mengatakan bahwa saat Pusat Komando AS (CENTCOM) telah menggunakan hampir semua rudal sejak perang pecah, namun mampu menyetok kembali lewat pemindahan stok rudal dari belahan dunia lain. Dimintai konfirmasinya mengenai data stok rudal, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan mengutip Trump, mengatakan bahwa AS memiliki "lebih banyak munisi dari siapapun di dunia ini" dan "lebih banyak dari yang dibutuhkan."
"Perusahaan pertahanan kami, pada saat ini, membuat lebih banyak munisi dari yang pernah mereka buat sebelumnya, dan juga memperluas pabrik dan perlengkapan dalam level mencetak rekor baru," kata Trump.
Lockheed Martin, perusahaan yang memproduksi ATACMS and PrSM, bersama dengan sistem anti-rudal balistik THAAD, tidak segera merespons permintaan konfirmasi klaim Trump. Raytheon, yang memproduksi rudal Tomahawk dan Patriot, juga tidak memberikan respons.
Sementara, juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan, "militer Amerika adalah yang paling kuat di dunia dan memiliki apa yang dibutuhkan untuk mengeksekusi kapan dan di mana (serangan) yang dipilih Presiden. Kami sukses mengeksekusi beberapa operasi komando kombatan sambil memastikan militer AS menguasai kapabilitas persenjataan yang dalam untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami."
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)
Komentar (0)